
Dari balik tirai jendela, Bu Nugraha mengintip sekali lagi untuk memastikan bila Haira sudah benar-benar kembali ke rumahnya. Ia terpaksa mengajak sang suami untuk masuk ke dalam rumah dengan alasan minta tolong membantunya mengangkat galon ke dispenser agar menghentikan obrolan mereka dengan Haira. Bu Nugraha merasa ada sesuatu yang aneh dengan Haira, terlebih ia tiba-tiba teringat pada cerita Praba tentang masa lalu Calya yang adalah mantan istri teman sekantornya dulu.
Setelah memastikan bahwa Haira sudah tak tampak lagi, Bu Nugraha pun bergegas masuk ke ruang tengah. Di sana ia mendapati Calya sedang duduk di kursi makan sambil melihat-lihat buku catatannya. Sementara itu, sang suami tampaknya sudah masuk ke dalam kamar.
"Ada apa, Bu? Kok kayak tegang bagaimana gitu?" tanya Calya saat Bu Nugraha duduk di sampingnya.
"Em ... itu, tetangga baru yang di depan rumah," ujar Bu Nugraha.
Mendengar ucapan ibu Praba itu, Calya pun tersentak. Dia tahu pasti bahwa rumah depan itu telah berpenghuni, dan mereka adalah orang-orang yang dikenalinya. Dirga dan Haira.
"Ada apa dengan tetangga baru itu, Bu?" tanya Calya mencoba mencari tahu.
"Itu ... tadi Bapak dan Ibu sempat ngobrol sebentar sama yang istrinya. Dia bilang kalau suaminya sekantor sama Praba. Terus ... dia nanya-nanya apa Praba sudah punya calon istri lagi? Ya Ibu jawab saja sudah, terus dia mau tahu siapa calon istri Praba itu," papar Bu Nugraha.
Calya menarik napas. "Lalu Ibu bilang apa?"
"Ya Ibu gak bilang apa-apa. Ibu langsung ngajak Bapak masuk. Ibu takut salah jawab. Em ... Nak Calya ... apa Nak Calya juga kenal sama teman Praba itu? Kan dulu Nak Calya juga pernah tinggal di tempat tugas Praba yang sebelumnya."
Calya terdiam sesaat. Kemudian perlahan mengangguk.
"Iya, Bu. Calya mengenal mereka. Karena itu juga, Calya tidak ingin keluar rumah dulu untuk saat ini. Meskipun Calya tak mungkin menghindar dari mereka, tapi Calya setidaknya butuh waktu untuk bisa melihat wajah-wajah yang pernah ada di masa lalu Calya itu."
"Masa lalu?" tanya Bu Nugraha.
Calya kembali mengangguk.
"Penghuni rumah itu adalah mantan suami Calya bersama istrinya yang sekarang," jawab Calya perlahan.
"Oh ... kamu sudah tahu kalau mereka tinggal si situ?" tanya Bu Nugraha lagi.
"Iya ... Praba yang memberi tahu."
"Ya ampun ... Ibu kok rasanya bagaimana ya. Ibu juga mengetahui cerita tentang masa lalu Nak Calya dari Praba. Ya ampun, Ibu tidak menyangka ada laki-laki sejahat itu sama istrinya sendiri. Tapi akhirnya kan terbukti kalau Nak Calya ini bisa mengandung, hanya saat itu mungkin Allah masih menguji kesabaran kalian. Tapi ternyata suami Nak Calya dan keluarganya tidak bisa menerima ujian itu, lalu mencampakkan Nak Calya seperti itu."
"Dan untung saja ada putra Ibu, Praba, yang menjadi satu-satunya teman Calya. Dia terus memberi kekuatan untuk Calya, sampai Calya bisa menjadi seperti ini, semua tak lepas dari peran Praba dalam hidup Calya." Sesaat Calya mengembuskan napas, kemudian kembali melanjutkan, " Calya tidak pernah menyangka bila akan bertemu lagi dengan Praba di sini. Setelah Calya bercerai, Calya memutuskan untuk pergi ke Jogja, dan memulai hidup baru. Ternyata, di sini Calya justru kembali bertemu dengan Praba, dan sampailah kami di titik ini, bangkit bersama."
Bu Nugraha mengusap lembut rambut Calya. "Itulah yang namanya takdir, Nak. Tidak ada yang pernah tahu akan berakhir bagaimana dan seperti apa. Allah senantiasa menguji umatnya untuk mengukur sejauh mana ketaatannya. Kesabaran dan keikhlasan hatimu lah yang akan membawamu pada hal yang lebih indah."
"Terima kasih, Bu. Terima kasih karena mengizinkan Calya untuk ada di rangkaian hidup Praba. Calya sangat bersyukur dan beruntung akan hal itu.
Sesaat kemudian, kedua wanita itu saling berpelukan dengan kelegaan hati masing-masing.
***
Jam kuliah Myesha dan Bagas baru saja selesai. Saat mereka sedang melenggang keluar dari ruang kelas, telepon genggam milik Myesha berdering.
__ADS_1
Gadis itu pun meraih ponselnya dari dalam tas, sejenak mengamati layarnya.
"Mas Raindra," desisnya.
"Mas Raindra?" tanya Bagas mengulang ucapan Myesha tadi.
"Iya, Gas. Ngapain ya Mas Raindra telepon Myesha lagi," ujar Myesha.
"Ya diangkat saja kalau ingin tahu," sahut Bagas.
Myesha pun menurut saran Bagas, daripada ia penasaran dan bertanya-tanya, lebih baik ia menjawab telepon itu.
"Halo," sapa Myesha.
"Myesha, kamu di kampus?" tanya Raindra dari seberang telepon.
"Iya," sahut Myesha.
"Aku di depan kampusmu. Kita bisa ketemu gak?" tanya Raindra.
"Ketemu? Untuk apa lagi, Mas?" tanya Myesha penasaran.
"Nanti setelah ketemu saja ngobrolnya ya. Kamu sudah bisa keluar belum?" tanya Raindra.
"Di rumah makan pas depan kampusmu," sahut Raindra.
"Oke, Myesha ke situ. Tapi ... sama Bagas boleh?"
"Em ... kamu saja," sahut Raindra.
"Ya, baiklah."
Setelah mengakhiri telepon itu, Myesha pun mengatakan pada Bagas bila Raindra ingin bertemu dengannya tanpa ditemani oleh dirinya.
"Kamu yakin mau ketemu dia, Sha?" tanya Bagas memastikan.
"Ya, seperti katamu tadi, bagaimana bisa tahu apa tujuannya kalau tidak mencari tahu," sahut Myesha.
"Yakin tanpa saya temani?"
"Mas Raindra maunya begitu."
"Ya sudah, saya tunggu di parkiran motor saja," ujar Raindra.
Myesha pun mengiyakan, lalu mereka berpisah. Myesha kemudian menyeberangi jalan menuju rumah makan tempat Raindra sedang menunggunya. Sesampai di sana, Myesha segera mencari sosok lelaki itu. Raindra yang melihat kedatangan Myesha pun melambaikan tangannya, memberi kode pada Myesha agar mengetahui posisinya.
__ADS_1
"Duduk, Sha. Kamu mau pesan apa?" tanya Raindra.
"Gak usah saja, Mas. Lagian Myesha tidak bisa lama-lama karena harus segera pulang untuk mengantar pesanan orang-orang," ujar Myesha.
"Pesanan?" Raindra mengernyitkan dahi.
"Iya, Myesha dan Mbak Calya sekarang berjualan makanan," sahut Myesha.
"Oh ... makanan apa?" tanya Raindra lagi.
"Ayam geprek."
"Lalu ... kalian tinggal di mana? Em ... soalnya, tempat kos kalian dulu sudah ditinggali sama orang lain. Tadinya Mas pikir setelah keluar dari rumah yang Mas sewa itu, kalian kembali ke kosan."
"Untuk apa Mas Raindra mencari tahu lagi? Mas Raindra kan tahu kalau Mbak Calya sangat marah dan tidak mau berurusan dengan Mas Raindra lagi."
"Myesha ... Mas hanya khawatir. Beberapa bulan ini, Mas mencoba untuk melupakan, tetapi Mas masih saja merasa bersalah. Mas merasa tak tenang kalau belum mengetahui keadaan kalian. Karena itu, Mas memberanikan diri untuk menemuimu hari ini." Raindra berkata sambil tertunduk lesu.
"Mas Raindra tidak perlu mengkhawatirkan kami lagi. Sekarang keadaan kami jauh lebih baik, kok," sahut Myesha.
"Bagaimana kabar ibu dan bapak?"
"Mereka sudah kembali ke rumah. Mungkin nanti saat Mbak Calya melahirkan, baru mereka datang lagi," jawab Myesha.
"Lalu bagaimana kabar Calya? Kandungannya baik-baik saja?"
Myesha mengangguk. "Tak ada yang Mas Raindra perlu khawatirkan. Lebih baik Mas Raindra fokus saja ke hidup Mas Raindra sendiri. Bukankah Mas Raindra punya kekasih? Myesha ucapkan terima kasih untuk apa yang Mas Raindra sudah pernah berikan. Tadinya, Myesha pikir bila masih ada kesempatan bagi Mas Raindra dan Mbak Calya bersatu lagi. Tadinya, Myesha hanya ingin agar Mbak Calya bisa bahagia. Padahal, Mbak Calya hanya semakin bersedih karena ternyata dia sudah tidak bisa membuka hati untuk Mas Raindra lagi. Terlebih lagi, Mas Raindra sudah memiliki kekasih."
"Aku dan Anela memang dekat. Anela lah yang membantuku menjadi seperti sekarang. Tapi ... aku tidak pernah memiliki perasaan berlebih padanya. Rasa cintaku masih lah untuk Calya. Meski memang, Mas akui kalau Mas sudah pernah mencoba melupakan Calya begitu tahu kalau dia sudah menikah. Mas juga memang sudah mencoba membuka hati untuk Anela. Namun, entah mengapa, saat bertemu dengan Calya lagi, Mas merasa sangat senang, dan ingin kembali bersamanya seperti dulu."
"Mas Raindra ... Myesha tak bermaksud apa-apa. Hanya saja, sekali lagi Myesha menyarankan agar Mas Raindra kembali saja sama Mbak Anela itu. Tidak perlu lagi memikirkan apa pun yang berhubungan dengan Mbak Calya, karena ... Mbak Calya sudah memiliki seseorang yang bersamanya saat ini."
"Seseorang? Maksudnya?" tanya Raindra.
"Iya, seorang lelaki yang menyayangi Mbak Calya, dan sekarang selalu ada di sisinya."
Mendengar perkataan Myesha, perasaan Raindra terasa hancur. Cintanya untuk Calya kembali tak sampai. Rupanya, Tuhan hanya memberinya kesempatan sekali saja untuk merajut kasih dengan wanita itu. Akan tetapi, ia sudah menyia-nyiakan satu kesempatan itu. Dan kini, meski takdir sudah mempertemukan kembali, kesempatan untuk bersama tak lagi ada.
Begitulah manusia, kadang kala ketika diberikan sebuah kesempatan, ia mengabaikannya tanpa pernah berpikir akibat di masa mendatang. Penyesalan memang akan selalu datang di belakang.
"Myesha pergi dulu ya, Mas," ujar gadis itu sambil berdiri.
Raindra hanya bisa mengangguk pelan sambil mengamati langkah Myesha yang berjalan meninggalkan rumah makan itu.
***
__ADS_1