
Raindra tertegun. Tak ada kata-kata yang terlontar dari mulutnya. Ia sadar bahwa sekarang tak ada gunanya mendebat Anela. Hal itu tidak akan merubah segalanya.
Tanpa suara, pria itu memutuskan untuk pergi. Meninggalkan Anela yang masih membara dengan amarahnya.
Raindra mengemudikan mobilnya dengan cepat. Seakan ingin segera tiba di kediamannya. Lelaki itu merasa perlu untuk menenangkan diri. Luapan perasaan yang telah tertolak mentah membuat batinnya menjerit perih.
Setiba di rumahnya, pria itu bergegas masuk dan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Rencana yang telah disusunnya untuk kembali mendapatkan hati sang mantan kekasih ternyata tak berhasil. Parahnya, hanya menambah kebencian wanita yang dicintainya itu.
***
Sesampai di rumah, Calya bergegas menelepon Myesha untuk menyuruhku pulang. Sang adik pun tak mampu menolak. Dari nada suara kakaknya, dia tahu kalau Calya sedang tak senang.
Nyatanya, setiba di rumah Myesha mendapati sang kakak sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
"Mbak ...," lirih Myesha menghampiri Calya.
"Kita akan pergi sekarang juga, Sha."
"Bapak dan Ibu sudah tahu?" tanya Myesha.
"Mereka sedang ke pasar. Sambil menunggu mereka datang, kita bereskan barang-barang kita dulu," sahut Myesha.
"Kenapa, Mbak? Bukankah semalam kita sudah sepakat?"
"Anela, pemilik cafe itu memecat Mbak. Mbak juga bertengkar dengan Raindra."
"Kenapa Mbak dipecat?" Myesha tampak bingung dengan hal itu.
"Karena Raindra melakukan semua itu untuk Mbak dengan tujuan yang lain. Raindra menyatakan cinta pada Mbak. Anela mendengarnya."
"Berarti ... Mas Raindra memang masih mencintai Mbak Calya?"
"Itu tidak penting, Sha."
"Penting, Mbak!" seru Myesha.
Calya menghentikan gerakannya lalu berpaling pada sang adik.
"Apa maksudmu, Sha?"
"Mas Raindra masih mencintai Mbak Calya, bukankah hal itu semestinya Mbak sambut dengan baik? Artinya, Mbak Calya masih diberi kesempatan untuk bahagia. Mas Raindra pasti akan membahagiakan Mbak Calya. Setelah itu, kita bisa memperlihatkan pada mantan suami Mbak yang jahat itu, kalau Mbak jauh lebih berbahagia bersama pria lain."
"Myesha!"
__ADS_1
Calya membesarkan bola matanya pada sang adik.
"Tidak, Sha. Mbak bisa bahagia tanpa lelaki mana pun. Cukup, jangan pernah katakan hal seperti itu lagi."
Setelah mengatakan hal itu, Calya beranjak keluar dari kamar. Sementara Myesha, kini meraih telepon genggamnya dan menghubungi seseorang.
[Gas, saya dalam masalah.]
Sebuah pesan dikirimnya untuk Bagas.
[Kenapa?] Balasan datang tak berselang lama.
[Mbak Calya ajak pindah. Bantu carikan tempat tinggal baru ya.]
[Lho, kenapa?]
[Sudah, kamu ke sini saja dulu. Ceritanya panjang.]
[Oke.]
Bagas pun bergegas menuju rumah Myesha. Sesampai di sana, Myesha sedang berada di teras rumah. Gadis itu memang sengaja menunggu sang kekasih di sana.
Bagas turun dari motor, melepas helm dan menghampiri Myesha.
"Gas, saya sudah bohong sama Mbak Calya. Sebenarnya, yang menyewakan rumah ini adalah Mas Raindra, bos Myesha yang mantan pacar Mbak Calya dulu. Mbak Calya sudah tahu, dan dia marah. Makanya ngajak kita cepat-cepat pindah. Sekarang, saya bingung, Gas. Kalau buru-buru begini mau ke mana?" Myesha mencurahkan perasaan galaunya pada Bagas.
Tampak lelaki itu terdiam sejenak, sedang memikirkan sesuatu.
"Sha ... bagaimana kalau saya telepon Mas Praba saja. Mas Praba sama Mbak Calya kan dekat. Kalau sama sia, Mbak Calya mungkin mau menerima bantuan." Bagas menuturkan rencananya dengan semringah.
Myesha tertegun sejenak, kemudian mengangguk. "Benar, Gas. Cepetan yuk, telepon Mas Praba."
Bagas pun meraih telepon genggam dari sakunya, menelepon Praba. Setelah Praba menerima panggilan itu, perlahan Praba menjelaskan bahwa Myesha dan Calya sedang mencari tempat tinggal yang baru. Bagas juga menjelaskan bagaimana hal itu bisa terjadi.
"Mantan pacar? Mantan pacar Calya?" tanya Praba memastikan.
"Iya, namanya Mas Raindra. Dan dia adalah pemilik cafe Rain and Snow, tempat di mana Myesha bekerja."
"Calya menolak pemberian mantan pacarnya itu?"
"Iya, Mas. Mbak Calya juga menolak niatnya untuk menjalin hubungan lagi. Mas Raindra ini pacar pertama Mbak Calya. Mereka pacaran cukup lama, tapi Mas Raindra tiba-tiba pergi tanpa pesan."
"Em ... Mas akan ke situ sekarang."
__ADS_1
Praba menutup telepon itu dengan sebuah kelegaan. Ia tak menyangka bila di kota ini, Calya telah bertemu dengan seseorang di masa lalunya. Pria yang ternyata masih mengharapkan cintanya. Namun, ia telah mendapatkan kepastian bahwa Calya telah menolaknya. Karena itulah, dia merasa lega kini. Hati Calya masih tak berpenghuni.
Dengan cepat, Praba memacu laju motornya menuju rumahnya.
Saat ini, Pak Darmawan dan istrinya baru saja tiba di rumah. Mereka tampak kaget melihat beberapa barang yang sudah dipaketkan. Terlebih saat sepasang suami-istri itu mengetahui bahwa anak-anak mereka lah yang melakukannya.
"Calya ... Myesha? Apa ini? Kenapa kalian membungkus barang-barang seperti ini?" tanya sang ibu.
"Kita harus pergi, Bu. Untuk sementara, kita pindah ke kosan yang lama dulu sampai dapat rumah kontrakan yang baru. Ibu kos pasti mau menampung kita beberapa hari, mumpung kamar itu masih kosong," jawab Calya.
"Tapi kenapa, Cal? Rumah ini kan baik-baik saja," sahut Bu Darmawan lagi.
"Raindra yang menyewa rumah ini, Bu," ujar Calya.
"Hah? Raindra? Bagaimana bisa?" Tampak bila sang ibu sulit untuk mencerna jawaban anaknya itu.
"Mas Raindra berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi Mbak Calya, karena dia masih sayang sama Mbak Calya." Myesha yang menyahut.
"Tapi ... Myesha, bukannya kamu...?"
"Myesha diminta untuk membantu Raindra, Bu." Calya mengambil alih jawaban.
"Sekarang Ibu dan Bapak ngerti kan, kenapa kita harus pergi dari sini," lanjut Calya.
Sang ayah dan ibu pun mengangguk. Mereka memahami perasaan sang anak. Meskipun mereka sendiri sudah pernah bertemu dengan Raindra, dan menyadari bahwa lelaki itu masih baik seperti yang dulu. Akan tetapi, mereka tak mungkin mempengaruhi perasaan putri mereka itu. Apalagi, dia telah memutuskan untuk tak menerima pemberian Raindra.
"Mbak Calya sekarang sudah berhenti bekerja, Pak, Bu. Dan sebentar lagi Myesha pasti menyusul, sebab bos Mbak Calya yang adalah teman dekat Mas Raindra sudah memecat Mbak Calya. Dia juga pasti akan meminta Mas Raindra untuk memecat Myesha." Myesha kembali berbicara, mengadukan permasalahan mereka saat ini.
Sang ayah yang sedari tadi terdiam, kini berbicara.
"Masih ada Bapak, Nak. Kalian berdua adalah tanggung jawab Bapak. Jadi, jangan memikirkan tentang apa pun. Bapak akan menanggung hidup kalian semampu Bapak."
Calya dan Myesha termangu menatap sang ayah. Keduanya pun bergegas menghampiri lelaki baya itu dan memeluknya.
"Maafkan, Calya, Pak. Sebagai anak sulung, Calya sudah gagal memberi kebahagiaan untuk kalian."
Pak Darmawan mengusap lembut rambut putri sulungnya itu.
"Tidak, Nak. Tidak ada yang gagal. Semua akan baik-baik saja."
Tepat di saat itu, sebuah suara muncul dari seseorang yang memasuki rumah.
"Benar. Bapak benar. Semua akan baik-baik saja."
__ADS_1
Sontak, semua orang menoleh pada sang pemilik suara. Tampak seorang lelaki dengan masih mengenakan seragam kerjanya berdiri di situ.