Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Memilih


__ADS_3

Dalam kekalutan akan dua pilihan, Dirga mencoba mengajak ibu dan istrinya berbicara baik-baik.


"Bu, tenanglah dulu. Ayo kita bicara baik-baik. Calya, Sayang ... kumohon dengarlah dulu ...."


Bu Edy pun duduk si kursi yang ada di situ. Sementara Calya masih tak bergeming.


"Ibu hanya mau kamu bisa adil sebagai suami. Bagaimanapun sekarang istri keduamu, Haira sedang mengandung. Dia butuh perhatian yang lebih. Bila hanya terus bersama istri pertama, itu namanya tidak adil." Bu Edy bergumam.


"Adil? Pernikahan ini bukanlah murni atas keinginan Dirga. Keluarga itu hanya meminta Dirga untuk membantu mereka dan setelah itu, ikatan pernikahan akan diputuskan. Hal itu pula yang mereka pinta padaku." Calya membalas ucapan Bu Edy.


"Tapi kenyataannya sekarang Haira sedang hamil. Dan janin yang dikandungnya adalah benih Dirga. Coba kau pikir bagaimana anak itu bisa jadi bila mereka tak melakukannya atas dasar suka sama suka? Apa kamu pikir Haira bisa memperkosa Dirga?" bantah Bu Edy lagi.


Calya tertegun. Ucapan ibu mertuanya terasa seperti belati yang menancap persis di jantungnya. Nurani Calya membenarkan pernyataan itu.


Binar-binar dalam sorot mata wanita malang itu meminta penjelasan pada suaminya. Calya menatap lekat pada Dirga. Dan pria yang mendapat tatapan itu kini hanya mampu tertunduk.


"Jika saya mau, saya bisa melaporkan Dirga ke kantornya karena sudah berpoligami. Dan itu artinya ... karirnya akan terancam ...." gumam Calya tajam.


"Calya!" Bu Edy membentak Calya. "Dirga itu anakku! Dia bisa jadi seperti ini karena kami orang tuanya, bukan karena kamu! Enak saja kamu mau menghancurkan karirnya. Lebih baik Dirga menceraikan kamu saja!" lanjutnya.


Bola mata Calya membulat. Ia tak menyangka bila ibu mertuanya akan mengucapkan hal itu. Wanita itu kini merasa bila dirinya benar-benar sudah tak diinginkan lagi. Harga dirinya telah direndahkan.


"Ibu ... mau Dirga menceraikan saya?" Calya berucap lirih.


"Iya!" seru Bu Edy.


"Bu!" Dirga yang sedari tadi diam pun bersuara. "Itu tidak mungkin, Dirga tidak akan pernah melakukan itu!" lanjutnya.


"Kau tidak bisa berlaku adil, juga tidak mau menceritakannya. Lalu apa?" Bu Edy membalas hardikan Dirga.


"Oke! Oke ... Dirga ikut Ibu ke Surabaya besok."


Perkataan Dirga membuat Calya terpaku. Suaminya akan pergi lagi, meninggalkannya untuk pergi kepada istri keduanya.


***

__ADS_1


Pagi ini Dirga dan ibunya telah bersiap untuk berangkat. Semalaman tak ada obrolan antara Dirga dan Calya. Tempat tidur mereka terasa hambar. Tidur dengan saling memunggungi, ditambah lagi kepedihan yang dirasakan masing-masing hati mereka.


Calya masih bergeming di dalam kamar. Ia tak mampu melihat kepergian suaminya kali ini. Dirga pun tak mampu untuk berpamitan pada istrinya.


Setelah tiga jam perjalanan di udara, pesawat pun mendarat di Bandar Udara Juanda. Dirga dan Bu Edy telah turun dari pesawat dan kini menuju pintu keluar kedatangan.


Di depan pintu kedatangan itu, seorang wanita tengah menunggu dengan wajah sumringah. Dialah Haira yang akan menjemput Dirga dan ibu mertuanya.


Melihat wajah Dirga telah muncul, hati Haira merona. Guratan kemenangan terukir di wajah cantiknya. Seuntai senyum mengembang, menambah aura kebahagiaannya.


"Sayang, lihat itu istrimu, Haira yang menjemput kita," kata Bu Edy sembari menunjuk ke arah Haira.


"Ibu memintanya menjemput kita?" tanya Dirga.


"Tanpa disuruh pun Haira pasti akan menjemput. Itu namanya istri dan menantu yang baik," sahut Bu Edy sembari terus berjalan ke arah Haira.


"Alhamdulillah ... akhirnya sampai juga. Ibu sehat-sehat kan?" tanya Haira pada Bu Edy setelah mereka sampai di tempatnya berpijak.


"Iya, Sayang. Ibu pasti akan baik-baik saja, begitu juga dengan Dirga," ujar Bu Edy.


Dirga hanya membalasnya dengan senyuman datar.


"Sudah kangen-kangenannya nanti saja. Sekarang kita pulang dulu, yuk!" ajak Bu Edy sembari menggandeng Dirga dan Haira.


Sesampai di parkiran saat Haira akan menuju ke kursi kemudi, Bu Edy menahannya.


"Tidak, Sayang ... biar Dirga yang menyetir. Kamu kan lagi hamil, tidak boleh kecapean," ucap Bu Edy.


"Tapi Dirga juga kan lelah setelah perjalanan tadi, Bu," sahut Haira.


"Kalau Dirga sudah biasa. Dia kan laki-laki jadi lebih kuat," tutur Bu Edy. Setelah itu ia menoleh pada Dirga, "Nak, kamu yang nyetir ya!"


Dirga hanya mengangguk lalu menuju ke kursi kemudi. Sementara Haira duduk di kursi depan, samping Dirga. Dan Bu Edy di jok belakang.


Sesaat kemudian Dirga pun melajukan mobil milik Haira itu ke rumah orang tua Dirga yaitu Pak Edy dan Bu Edy.

__ADS_1


Sesampainya di rumah itu, mereka segera masuk ke dalam rumah. Dirga bergegas masuk ke kamarnya. Namun alangkah kagetnya dirinya ketika menemui barang-barang yang bukan miliknya berada di kamar itu.


Tas, sepatu, dan kosmetik wanita bertebaran di setiap sisi ruangan itu. Belum lagi setelah bia membuka lemarinya dan menemukan pakaian wanita tergantung di sana. Dirga hapal betul pakaian dan barang-barang milik Calya. Dan semua barang ini bukanlah milik istrinya itu.


"Sejak kemarin aku pindah ke sini, Dir ... untuk menyambutmu dan juga melayanimu selama berada di sini." Suara seorang wanita yang masuk ke dalam kamar membuat Dirga menoleh.


"Aku tak akan lama di sini. Aku terpaksa ke sini agar Ibu tak membuat keributan di kota tempat tugasku," gumam Dirga.


"Kamu akan lama di sini, Dir ...." ujar Haira.


"Apa maksudmu, Ra? Aku berkerja dan aku tak bisa sering-sering meninggalkan kantor, apalagi sampai waktu yang lama. Cutiku tahun ini sudah kugunakan semua saat menuruti permintaanmu dan keluargamu yang terdahulu," sahut Dirga.


Haira melangkah mendekati Dirga. Diusapnya dada suaminya dengan lembut sembari berkata, "Anak yang sedang kukandung membutuhkan ayahnya untuk selalu berada di dekatnya."


Dirga mencoba menepis tangan Haira.


"Itu tak bisa menjadikan alasan agar aku di sini berlama-lama. Tugas negara harus kulakukan," sela Dirga.


"Papaku sedang berupaya untuk mengurus kepindahanmu ke kota ini."


Ucapan Haira membuat Dirga menoleh padanya dengan spontan. Sebuah senyum tersungging di bibir Haira, sementara Dirga memandangnya penuh tanya.


"Papaku akan melakukan apapun untuk kebahagiaanku ...," lanjut Haira.


"Itu sangat mustahil, Haira. Aku baru saja beberapa bulan pindah ke kota itu. Tak akan semudah itu mengurus kepindahan. Saya aparat negara, harus taat pada tugas!" seru Dirga.


"Kalau begitu ... aku yang akan pindah ke tempatmu," sahut Haira.


"Apa?! Itu lebih mustahil lagi ...." gerutu Dirga.


"Seorang istri dan anak haruslah berada di dekat suami dan ayahnya," tutur Haira.


Dirga mengembuskan napas kasar. Ia tak tahu lagi harus berkata apa. Haira terlalu berlebihan kini, tapi ia pun tak sanggup menyelanya lagi. Posisi Haira yang sedang mengandung anaknya menjadi dilema terbesar yang harus dihadapi Dirga. Orang tuanya saat ini sedang berpihak pada Haira, sementara di sana Calya seorang diri menghadapi kelu hidupnya kini.


***

__ADS_1


__ADS_2