
Bagai langit runtuh di atas kepala, kedua manusia baya itu merasa hancur berkeping-keping. Berbagai gejolak rasa bergemuruh di dada. Semua seperti sebuah mimpi buruk yang belum mereka pahami seluruhnya.
"Lalu ... di mana putri kami?" lirih suara Pak Darmawan bertanya pada Haira.
"Ya, saya tidak tahu lah," sahut Haira.
Perlahan, Pak Darmawan melihat ke arah perut Haira yang membesar itu. Dari usia kandungan wanita itu, ia bisa menyimpulkan bahwa pernikahan Dirga dengan perempuan lain sudah dilakukan dalam waktu yang cukup lama. Dan dalam kurun waktu itu, Calya menutup rapat kenyataan itu dari mereka.
"Bisakah kami bertemu Dirga?" tanya Pak Darmawan lagi.
"Jam segini Dirga kan kerja," jawab Haira. "Sudah, ya. Lebih baik kalian pergi saja. Saya juga mau istirahat dulu," ucapnya lagi.
Pak Darmawan dan Bu Darmawan saling memandang, kemudian sama-sama mengangguk.
"Baiklah, kami akan pergi," sahut Pak Darmawan sambil memegang tangan istrinya.
Namun, saat akan berbalik dan berjalan pergi, langkah mereka terhenti oleh kedatangan sebuah motor yang berhenti di depan rumah itu. Dirga datang dan melihat kedatangan kedua mantan mertuanya itu.
"Bapak? Ibu?" gumam Dirga saat turun dari motornya.
"Sayang ... ayo masuk!" seru Haira dari depan pintu.
"Kamu masuk lah saja," sahut Dirga pada Haira.
Sementara itu, Pak Darmawan dan istrinya kembali melangkah maju, hendak pergi.
Namun, dengan cepat Dirga melangkah mendekat dan menahan mereka.
__ADS_1
"Pak, Bu!" serunya.
Yang kemudian menghentikan langkah sepasang suami istri itu.
"Kalian mau ke mana?" tanyanya lagi.
Pak Darmawan dan istrinya hanya saling memandang tanpa kata.
"Dirga ... minta maaf, Pak," ujarnya lagi.
"Kenapa?" tanya Pak Darmawan.
"Perpisahan ini tak bisa dihindari. Dirga san Calya memang sudah ditakdirkan untuk seperti ini," sahut Dirga.
"Apa kesalahan putri kami?" tanya Bu Darmawan dengan suara bergetar.
"Perceraian kami baru beberapa minggu yang lalu," jawab Dirga.
"Baru beberapa minggu, dan kandungan istri barumu sudah sebesar itu?" sahut Bu Darmawan.
Dirga terdiam sejenak. "Dirga sudah menikah dengan Haira sebelum perceraian ini. Tapi pernikahan itu atas persetujuan Calya."
"Kenapa bisa begitu? Apa kesalahan anak kami?" Kali ini suara Pak Darmawan lebih bergetar lagi.
"Awalnya, untuk menolong Haira yang sedang sakit keras. Dia ingin menikah dengan saya, dan keluarganya memohon pada saya untuk membantunya. Namun ...."
"Namun apa?" tanya Pak Darmawan.
__ADS_1
"Haira kemudian hamil," jawab Dirga.
"Lantas ... kenapa harus menceraikan Calya?" tanya Pak Darmawan lagi.
"Calya mencoba menyakiti Haira, dan dia juga ... menjalin hubungan dengan lelaki lain."
Plak!
Tepat di akhir kalimatnya, sebuah tamparan mendarat di pipi Dirga. Pak Darmawan yang melakukannya. Wajah Dirga tampak kaku. Tangannya kini tengah mengelus pipi yang terasa perih itu.
Sementara itu, Bu Darmawan kini tak sanggup lagi menahan air matanya untuk tak tumpah.
"Bukankah dulu, sewaktu kamu menikahi Calya, Bapak pernah bilang, bila suatu hari nanti, Nak Dirga sudah tidak menginginkan Calya, maka kembalikan dia secara baik-baik pada Bapak. Jangan pernah menyakiti hatinya, apalagi fisiknya. Sekarang Nak Dirga sudah menceraikannya, dengan alasan yang kami ketahui pasti bila itu tidak mungkin dilakukan oleh putri kami. Terlebih, sekarang dia pergi entah ke mana. Seandainya Bapak masih kuat seperti dulu, saat ini juga mungkin kakimu sudah Bapak patahkan," ucap Pak Darmawan geram.
"Apa? Dia tidak pulang ke rumah Bapak dan Ibu?" tanya Dirga.
"Itulah putri kami. Hatinya terlalu lembut untuk menyakiti. Dia pasti tak ingin membuat kami bersedih atas apa yang menimpanya. Semestinya, sebagai suami, kamu sudah mengenalinya dengan baik," ujar Pak Darmawan lagi.
Mendengar hal itu, Dirga tertegun. Pikirannya menyelam jauh, mengenang sang mantan istri.
"Dengarkan ini, Nak Dirga. Kami sangat mencintai anak-anak kami, jadi kami pun tak akan terima bila mereka disakiti. Calya, putri pertama kami adalah wujud penantian dan jawaban doa kami. Dua tahun, kami menunggu untuk memilikinya dalam rumah tangga kami. Sekarang, seorang pria yang kami sangkakan akan memberinya cinta sepanjang hidupnya, ternyata justru melakukan hal sebaliknya. Dengarkan lah, karma tidak akan pernah tinggal diam. Apa yang Nak Dirga telah lakukan pada kami dan putri kami pasti akan menuai akibat di kemudian hari." Pak Darmawan kemudian berpaling pada istrinya.
"Bu, ayo kita pergi," ucapnya lagi pada sang istri.
Mereka pun kembali berjalan. Kali ini benar-benar pergi, meninggalkan Dirga yang berdiri lesu di pijakannya.
***
__ADS_1