
Yogyakarta.
Myesha yang baru pulang kerja dengan membawa beberapa kantong plastik tampak kelelahan. Sebabnya pasti, kantong-kantong plastik itu memuat banyak barang yang cukup berat.
"Barang bawaanmu kok banyak banget, Sha?" tanya Calya.
Myesha meletakkan barang-barang tersebut di atas meja, lalu mulai mengeluarkan isinya. Beberapa dus susu hamil, buah-buahan, aneka biskuit dan roti.
"Semua ini untuk Mbak Calya," sahut Myesha.
"Baik banget kamu? Tapi ... semua ini? Kamu beli pakai apa?" tanya Calya heran.
"Ya pakai duit lah, Mbak. Sudah ah, yang penting semua ini harus dihabisin sama Mbak Calya sama keponakan Myesha yang ada di dalam sini," ujar Myesha sambil mengelus perut Calya.
Calya mengernyitkan dahi. Ia masih tak habis pikir, mengapa Myesha bisa rutin membelikan susu dan makanan itu untuknya. Sementara, ia tahu pasti berapa gaji pelayan cafe.
Namun, setiap kali Calya menanyakan hal itu, Myesha pasti akan mengelak, kemudian menghindar. Kecurigaan pun mulai timbul di benaknya.
Saat ini, Myesha sedang mandi. Calya bergegas masuk ke dalam kamar. Dilihatnya telepon genggam milik Myesha tergeletak di atas meja. Perlahan Calya mendekati meja dan mengambil ponsel itu.
Perlahan, digesernya layar benda pipih milik sang adik itu. Aplikasi WhatsApp adalah tujuannya. Ia ingin tahu, dengan siapa saja Myesha berkomunikasi.
Sesaat, tak ada yang janggal dengan nama-nama yang tertera di obrolan WhatsApp itu. Sampai saat Calya melihat sebuah akun dengan nama 'Bos', jemarinya pun melambat dan memencet obrolan di nama itu.
Benar saja, 'Bos' yang tertulis di situ adalah Raindra. Calya terus mengulur layar ponsel itu hingga menampilkan obrolan terlawas.
Berbagai fakta ditemuinya. Raindra adalah orang yang membayar sewa rumah ini. Kemudian, lelaki itu juga yang membeli furniture untuk mengisi kamar bapak dan ibu. Lalu, ia pun yang rutin mengirim susu, buah-buahan dan aneka makanan untuk Calya melalui Myesha.
Bagai tertimpa reruntuhan, Calya merasa begitu terkejut. Ia tak menyangka bila sang adik tega membohonginya selama ini.
Namun, Calya belum tahu pasti, apa tujuan Myesha melakukan hal ini. Ia merasa perlu untuk menanyakan langsung pada sang adik agar semua ini tak berlarut-larut. Bagaimana pun, Calya tak ingin terikat hubungan apa pun lagi dengan Raindra, apalagi sampai menerima berbagai pemberian darinya. Tak ada alasan untuk melakukan hal itu.
Beberapa menit kemudian, Myesha sudah selesai mandi, dan memasuki kamar. Sebelumnya, Calya sudah kembali meletakkan ponsel milik Myesha di atas meja. Ia sendiri kini tengah duduk di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Ibu dan Bapak tumben cepat tidur malam ini ya," ujar Myesha.
"Kamu yang pulangnya kemalaman," sahut Calya.
"Iya, tadi ramai di cafe, jadi terhitung lembur. Terus habis itu singgah belanja lagi," balas Myesha.
"Enak ya kerja di cafe itu, gajinya banyak," ucap Calya, mulai menginterogasi sang adik.
"Iya, bos-nya baik sih."
"Raindra?" tanya Calya, membuat Myesha menoleh padanya.
"Em ... iya Mas Raindra kan memang bos-nya." Myesha tampak gugup.
"Bos?"
"Iya, bos."
"Bos yang sangat baik sampai-sampai menyewakan sebuah rumah untukmu, lalu membelikan perabotannya?" Calya membesarkan bola matanya pada sang adik.
"Jujurlah, Sha. Apa yang Raindra lakukan? Untuk apa dia melakukan semua itu?" bentak Calya.
"Mbak ... Mbak Calya tahu dari mana?" tanya Myesha dengan ekspresi yang semakin gugup.
"Saya melihat handphone mu."
"Ya ampun ...." Myesha menyadari keteledorannya meletakkan telepon genggamnya di kamar saat ia mandi tadi.
Namun, ia sama sekali tak menyangka bila sang kakak akan sampai curiga dan menyelidikinya.
"Ma Maaf, Mbak. Myesha melakukan itu tanpa ada maksud apa-apa," ujar Myesha sendu.
"Dan dia? Apa maksudnya melakukan hal ini?" hentak Calya lagi.
__ADS_1
"Mas Raindra hanya ingin bisa menolong Mbak Calya. Rasa bersalahnya pada Mbak Calya dahulu membuatnya ingin menebus dengan membantu Mbak Calya sekarang. Mas Raindra tidak ada niat apa-apa. Tolong, Mbak Calya jangan salah paham, dan jangan marah sama Mas Raindra, juga sama Myesha."
"Besok pagi-pagi sekali, kita harus mencari tempat tinggal baru!" ujar Calya.
Myesha mendekat pada sang kakak.
"Tidak, Mbak. Rumah ini sudah dibayar untuk satu tahun," ujar gadis itu.
"Terserah kalau kamu mau tinggal di sini, tapi Mbak akan pergi," sahut Calya.
"Mbak, tolong pikirkan lah Ibu dan Bapak. Mereka pasti akan khawatir kalau Mbak pergi dari sini. Bukankah mereka senang karena kita bisa tinggal di rumah yang layak? Kasihanilah mereka, Mbak. Biarkan mereka menikmati saat-saat bersama kita di sini. Jangan tambah kesedihan mereka lagi. Myesha bersedia melakukan hal ini bukan hanya untuk Mbak Calya, tapi juga untuk Ibu dan Bapak. Tolong pertimbangkan lah, Mbak. Hanya selama mereka masih berada di kota ini." Myesha memelas pada sang kakak
Calya terdiam sejenak. Meresapi kata-kata adiknya. Ia mulai berpikir perlahan. Emosi yang tadinya memuncak, kini berangsur mereda. Memang benar, ia tak boleh egois untuk saat ini. Sudah terlalu banyak kesedihan yang ia berikan bagi kedua orang tuanya itu. Tak ada salahnya memberi mereka sedikit kelegaan. Meyakinkan mereka bahwa hidupnya baik-baik saja. Tak akan menderita meski dengan statusnya saat ini.
Perlahan, Calya mengangguk. "Baiklah, Sha. Tapi ingat, hanya selama Ibu dan Bapak ada di sini. Selanjutnya, Mbak tidak mau tinggal di sini lagi. Dan satu lagi ... untuk barang-barang yang sudah kamu beli, Mbak akan menggantinya. Kamu harus mengembalikan uang itu pada Raindra."
"Mbak, untuk susu dan makanan itu, Mbak tidak perlu mengganti," ujar Myesha.
"Tidak, Sha. Mbak tidak mau menerima apa pun dari Raindra," jawab Calya.
"Mbak, anggap saja Mas Raindra itu teman kita sekarang. Tidak perlu mengingat masa lalu lagi," ujar Myesha lagi.
"Justru karena Mbak tidak mau mengingat masa lalu, Mbak tidak mau terlibat urusan apa pun dengan Raindra. Sha, bos Mbak adalah teman dekat Raindra. Mbak tidak mau mempertaruhkan pekerjaan Mbak dengan masih berhubungan dengan Raindra."
"Bos Mbak, teman dekat Mas Raindra?" tanya Myesha memastikan.
"Iya, bahkan sangat dekat. Sha, kita sama-sama membutuhkan pekerjaan. Bekerja lah sebatas tugas kita, jangan mendekatkan diri dengan atasan untuk hal yang tidak perlu. Tolong ... bantu Mbak menata masa depan. Mbak akan baik-baik saja meski tidak makan dan minum pemberian dari Raindra itu."
Myesha mengangguk. "Maafkan Myesha, Mbak. Myesha terlalu ingin melihat kebahagiaan Mbak Calya. Sejujurnya, Myesha ingin agar Mbak Calya bisa kembali pada Mas Raindra. Seperti dulu lagi. Myesha masih percaya bila Mas Raindra adalah pria yang baik, pria yang mencintai Mbak Calya. Entah kenapa, Myesha merasa bila Mas Raindra masih menginginkan Mbak Calya."
"Sha! Itu tidak mungkin. Raindra dan Mbak tidak akan mungkin bersama lagi."
Calya menutup obrolan dengan adiknya itu dengan beranjak menaiki tempat tidur. Kemudian menutup tubuhnya dengan selimut. Sama seperti ia mencoba menutup kekesalannya pada sang adik malam ini.
__ADS_1
***