
Praba menghentikan laju motornya di jajaran penjual panganan.
"Mau ngapain?" tanya Calya.
"Beli oleh-oleh dulu yuk untuk Bapak sama Ibu," sahutnya.
Calya pun menurut, turun dari motor dan bersamanya membeli beberapa jenis panganan untuk dibawa pulang. Namun, Praba sejenak mengajakku untuk duduk di sebuah bangku yang menghadap taman.
"Mau ngapain lagi?" tanya Calya.
"Duduk sebentar yuk," ajak Praba.
Tak lama kemudian, mereka sudah duduk di sana. Praba pun memesan dua gelas wedang ronde pada salah satu penjaja makanan di situ untuk ia dan Calya nikmati selama duduk.
"Raindra itu siapa?" Praba bertanya sambil menatap lurus ke arah di mana penjual wedang ronde sedang meracik jualannya itu ke dalam mangkuk.
Calya tercengang, lalu memandang pada Praba.
"Raindra ... dulu adalah pacar saya, sebelum saya bertemu Dirga dan menikah dengannya," jawab Calya.
"Oh mantan pacar. Dia tinggal di kota ini?" tanya Praba lagi.
Calya mengangguk pelan. "Iya, pemilik cafe tempat Myesha bekerja," jawabnya.
"Oh ya? Artinya ... kalian memang sudah saling tahu dan janjian ketemu di kota ini?" Guratan wajah Praba sedikit datar. Ada sebuah perasaan yang sedang disembunyikannya.
Sementara itu, Calya menatap gusar pada Praba. "Maksudmu apa?"
"Apa selama ini kalian masih menjalin komunikasi?" tanya Praba sambil menoleh pada Calya.
Calya menggeleng. "Tidak. Tidak pernah sekali pun. Kami bertemu secara tak sengaja di kota ini. Begitu juga dengan Myesha. Sama sekali tanpa pernah disangka."
"Oh," sahut Praba singkat.
Calya mengernyitkan dahinya. "Kenapa?"
Praba menggeleng. "Tidak. Tidak apa-apa."
Sesaat kemudian, pesanan wedang ronde mereka telah datang. Masing-masing sudah memegang mangkuk mereka.
"Apa dia sudah menikah?" tanya Praba sambil menyendok biji ketan yang ada di mangkuknya.
"Belum. Tapi dia berpacaran dengan bos saya. Pemilik cafe Rainela," jawab Calya.
"Oh. Semoga mereka segera menikah ya," gumam Praba.
"Iya," sahut Calya.
"Apa bos mu itu tahu tentang hubunganmu dulu dengan kekasihnya itu?" selidik Praba lagi.
Calya kembali mengangguk. Membenarkan pertanyaan Praba.
"Lalu ... bagaimana responnya" timpal Praba.
"Saya tidak tahu," jawab Calya. "Lagi pula, dia tahu kalau saya sedang hamil," lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Dia tidak cemburu padamu kan?"
"Entahlah, tapi tak ada alasan untuk mencemburui seorang janda yang sedang hamil seperti saya," sahut Calya.
"Saya hanya tidak ingin kamu tertekan. Kalau sampai begitu, lebih baik kamu berhenti kerja saja," ujar Praba.
Calya menengok pada lelaki itu. Alisnya kembali berpaut.
"Apa maksudmu? Kamu tahu kan kalau saya membutuhkan pekerjaan, dan mencari kerja adalah hal yang sulit untuk saya dengan keadaan seperti sekarang."
"Maksud saya ... saya hanya tidak ingin kamu mengalami penderitaan lagi," ujar Praba, mencoba menenangkan Calya.
"Kenapa?" Calya bertanya sambil menatap Praba dengan binar mata yang menyorot tanpa jeda.
"Karena saya peduli sama kamu," jawab Praba sambil membalas tatapan Calya.
"Tapi kepedulian itu sudah terlampau berlebihan," ujar Calya.
Praba mengembuskan napasnya, lalu berkata, "Maaf ... maafkan saya."
Setelah itu, selama beberapa menit hanya kebisuan yang terjadi. Baik Calya maupun Praba tak lagi saling memulai kata. Sampai saat wedang ronde di mangkuk mereka sama-sama ludes, keduanya pun memutuskan untuk pergi.
Dalam perjalanan di atas motor, keheningan kembali terjadi. Masing-masing berjibaku dengan alam pikirannya. Calya yang masih penasaran dan mencoba menerka tentang arah perhatian Praba, sedangkan di sisi lain, lelaki itu mencoba untuk menutupi kata hatinya. Perasaannya.
***
Di depan kamar kos, motor itu berhenti. Calya pun turun dari boncengan motor itu.
"Saya langsung pulang dulu ya, Cal. Besok-besok saya akan mampir lagi dan mengobrol dengan Ibu dan Bapak," ujar Praba.
Wanita itu pun berpaling hendak masuk. Namun, Praba memanggil namanya, membuat Calya menghentikan langkah dan kembali menengok padanya.
"Ada apa?"
"Sekali lagi, maaf untuk yang tadi," ucap Praba.
Calya hening sejenak, kemudian mengangguk. "Ya," sahutnya.
Setelah itu, keduanya pun sama-sama tersenyum.
"Saya pulang dulu ya," ucap Praba sebelum melajukan motornya.
Calya mengiringinya dengan anggukan, lalu kembali berpaling dan berjalan masuk ke dalam kamar.
"Assalamualaikum," sapanya kemudian melenggang masuk.
"Waalaikumsalam," sahut bapak, ibu dan Myesha.
"Sudah pulang, Mbak? Bagaimana hasil pemeriksaannya?" sergah Myesha.
Calya ikut duduk sejenak di atas karpet lalu meletakkan beberapa kantong plastik yang dibawanya.
"Ambil piring dulu, Sha," ujarnya.
"Oke siap. Wah bawa jajanan ya? Pasti Mas Praba yang beliin," ujar Myesha sambil bergegas berdiri untuk melakukan perintah kakaknya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan kandunganmu, Cal?" tanya ibunya.
"Alhamdulillah, baik kok, Bu. Sudah masuk dua belas minggu," ujar Calya.
"Syukurlah," sahut sang ibu.
"Sepertinya, Nak Praba itu pemuda yang baik ya. Dia selama ini menemaninya Calya dan sekarang masih mau membantunya," ujar Pak Darmawan.
"Dia seorang duda, Pak," ucap Calya.
"Duda? Bercerai juga? tanya sang ibu.
Calya menggeleng. "Istrinya meninggal dunia karena sakit, saat usia pernikahan mereka baru setahun. Praba menjadi duda tanpa anak."
"Wah ... kasihan juga dia. Lalu keluarga lainnya di mana?" tanya ibu Calya lagi.
"Entahlah, Bu. Calya juga belum pernah menanyakan hal lain tentang kehidupan pribadinya. Mungkin karena selama ini masalah hidup Calya juga sudah banyak menyita waktu dan perhatian, sehingga yang sering kami bahas hanya seputar masalah Calya saja," gumam Calya.
Tak lama kemudian, Myesha kembali bergabung dengan beberapa piring di tangannya.
"Tapi Mas Raindra juga sekarang jauh lebih baik. Selain lebih tampan, juga sudah mapan," celetuk Myesha.
"Ngomong apa sih kamu, Sha," sergah sang ibu.
"Lho, Bapak sama Ibu kan sudah ketemu dengan dia to? Memang begitu kan?" timpal Myesha lagi.
"Sudah ah, lebih baik kita makan kue ini saja," gumam Pak Darmawan sambil mencomot sepotong martabak telur.
Sang istri pun melakukan hal yang sama. Begitu juga dengan Myesha.
"Oh iya, Mbak. Tadi Myesha beliin susu untuk ibu hamil. Itu di rak," ucap Myesha sambil menunjuk ke arah dua dus kotak susu bergambar wanita hamil itu.
"Memangnya kamu sudah gajian, Sha?" tanya Calya.
"Em ... iya," jawab Myesha ragu-ragu.
"Cepet amat," sahut Calya.
"Ya, kan bisa minta gaji dibayar mingguan. Em, Myesha juga beliin buah-buahan," ujar Myesha.
"Wah, baik amat kamu," gurau Calya.
"Iya dong, demi kakak tercinta dan calon keponakan kesayangan," ujar Myesha.
Satu keluarga itu pun tertawa terbahak bersama. Pak Darmawan dan sang istri merasa sangat bahagia bisa berkumpul bersama anak-anak mereka saat ini. Meski di tengah keterpurukan, kebersamaan seakan menjadi pengobat dan pemberi kekuatan.
"Oh iya, Mbak. Besok kita lihat rumah kontrakan yang di dekat Rainela Cafe yuk. Tadi Myesha lihat di sana ada rumah dikontrakkan, kamarnya ada dua, ada ruang tamu dan dapur juga. Tempatnya bagus, apalagi dekat dengan tempat kerja Mbak Calya," ujar Myesha.
"Hah? Rumah kontrakan? Siapa yang mau bayar?" tanya Calya.
"Tenang saja, Mbak. Myesha yang akan bayar sewanya tiap bulan. Pakai gaji Myesha," ujar gadis itu sambil menunjuk dadanya.
Calya seketika menautkan alisnya mendengar pernyataan sang adik. Tentu saja rasa tak percaya menyelimuti alam pikirannya. Bagaimana mungkin gaji Myesha sebagai seorang pelayan cafe cukup untuk membayar sewa kontrakan rumah setiap bulannya. Apalagi, ia mempunyai kebutuhan lainnya.
***
__ADS_1