Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Visualisasi Dirga


__ADS_3

Malam ini, Calya dan Myesha sedang duduk bersampingan di meja makan. Dari data catatan penjualan di buku, mereka sedang mencoba merekap ke dalam laptop. Calya tentu saja cukup mahir merekap laporan penjualan sederhana itu, sebab latar belakang pendidikannya adalah bidang keuangan.


"Sha ... bulan ini, kita sudah bisa melunasi kredit motormu," ujar Calya setelah menemukan hasil perhitungannya.


"Keuntungannya sebanyak itu, Mbak?" tanya Myesha memastikan.


Calya mengangguk dengan ekspresi senang.


"Iya, Sha," sahut Calya.


"Bulan depan kan, Mbak Calya akan melahirkan. Apa uangnya tidak dipersiapkan untuk itu saja?" saran Myesha.


"Untuk biaya itu, sudah Mbak persiapkan kok. Jadi, setiap bulan, Mbak menganggap kalau diri Mbak ini adalah pekerja juga di sini. Jadi bukan hanya kamu saja yang mendapat gaji, tapi Mbak juga. Nah, uang gaji itu yang Mbak sisihkan untuk biaya persalinan Mbak nanti, juga untuk ongkos mendatangkan Bapak dan Ibu ke sini lagi," ujar Calya.


"Wah ... jadi yang tersisa ini, benar-benar murni keuntungan bersih usaha kita, Mbak?" tanya Myesha.


"Iya, Sha. Selain itu, Mbak juga selalu menyisihkan jumlah yang menjadi hak Mas Praba. Karena bagaimana pun juga, dia adalah pemilik modal usaha ini," sahut Calya.


"Wah ... alhamdulilah ya, Mbak. Kerja keras kita selama beberapa bulan ini telah membuahkan hasil. Syukurlah kalau kredit motor Myesha bisa dilunasi," ujar Myesha sambil tersenyum semringah.


Praba yang baru saja turun dari lantai atas pun bergabung dengan mereka. Calya kemudian memberi tahu Praba tentang rencananya untuk melunasi hutang kendaraan itu. Praba pun menyetujuinya.


"Cal ... besok jadwal periksa kan? Bulan lalu dokter pesan, memasuki bulan-bulan terakhir harus lebih sering kontrol," ujar Praba kemudian.


"Oh ... iya. Wah saya hampir saja lupa, keasikan cari duit sih," ujar Calya sambil terkekeh.


"Ya ... untungnya ada Mas Praba yang selalu mengingatkan. Wah wah memang calon suami idaman ah ...." Myesha menimpali.


Tentu saja ia sedang menggoda kakaknya.


Mendengar godaan Myesha, Calya dan Praba hanya saling berpandangan. Saling tersipu malu.


***


Keesokan harinya, Praba pulang lebih cepat untuk menjemput Calya ke klinik pemeriksaan kandungan. Di sana dokter memastikan bahwa segala sesuatunya baik. Kandungan Calya sehat dan memungkinkan untuk dilahirkan secara normal. Dokter juga sudah menentukan perkiraan kelahiran.


Seusai pemeriksaan, mereka pun kembali ke rumah. Saat memasuki halaman, Dirga yang sedang berada di balkon rumahnya memperhatikan kedatangan kedua orang itu. Bagaimana Calya yang terlihat begitu bahagia saat turun dari boncengan motor Praba. Lalu, bagaimana cara Praba menuntun Calya berjalan dengan sangat hangat dan penuh kasih sayang. Dirga bisa melihat binar-binar kebahagiaan terpancar dari mata sepasang manusia itu.


Akan tetapi, Dirga hanya bisa melihat hal itu dari jauh, tanpa bisa menghalanginya. Ia tak kuasa untuk melerai mereka saat ini. Namun, sesuatu tentu saja sudah direncanakannya. Bagaimana juga, Dirga tetap berhasrat untuk kembali bersatu dengan wanita yang dicintainya itu.

__ADS_1


***


Keesokan harinya di kantor, Dirga memutuskan untuk menelepon kedua orang tuanya. Tekadnya sudah bulat, kebenaran ini harus diketahui oleh mereka.


"Halo Dirga ... ada apa, Nak? Kok tumben menelepon?" sapa sang ibu dari seberang telepon.


"Bu ... Dirga mau bilang sesuatu yang penting."


"Apa itu, Nak?" tanya Bu Edy penasaran.


"Bu ... Dirga bertemu Calya di kota ini" ujar Dirga perlahan.


"Calya? Apa yang dilakukannya di sana? Apakah dia mencari kamu? Untuk apa, Nak? Haduh ... Haira pasti marah kalau tahu kalian bertemu." Bu Edy tampak gusar.


"Bu ... Calya sedang hamil."


"Hah? Apa? Hamil? Itu ... bagaimana bisa, Nak? Dia ...."


"Calya sedang mengandung anak Dirga, cucu Ibu dan Bapak."


Mendengar apa yang dikatakan oleh putranya, Bu Edy serasa ingin berteriak. Namun, berbagai pertanyaan masih bergejolak di benaknya.


Tubuh Bu Edy bergetar mendengar setiap penuturan Dirga. Wanita itu masih teringat dengan jelas bagaimana ia pernah menghina mantan menantunya itu sebagai istri yang tak berguna. Menantu yang tak bisa memberikan keturunan baginya yang hanya memiliki seorang putra.


Bu Edy kembali teringat akan kenyataan yang telah terjadi pada Haira. Menantu yang mereka perjuangkan karena dinilai sempurna di mata mereka. Kenyataannya bahwa Haira kini tak mampu mewujudkan mimpi itu lagi.


"Di mana Calya sekarang?" tanya Bu Edy pada Dirga.


"Calya tinggal di depan rumah yang saya tinggali, Bu. Kalau Ibu dan Bapak mau ke sini dan bertemu dengannya, mungkin semua bisa berubah. Calya bisa luluh dan mau rujuk dengan Dirga," sahut putranya.


"Baiklah, Nak. Bila pun Ibu harus bersujud di kakinya, maka akan Ibu lakukan," ujar Bu Edy.


***


Usai menceritakan berita tentang Calya pada suaminya, Bu Edy pun memutuskan untuk terbang ke Yogyakarta. Sang suami pun turut serta dengannya. Dirga yang telah mengetahui perihal kedatangan kedua orang tuanya pun menjemput mereka ke bandara.


Haira yang tak tahu menahu menjadi bingung ketika Dirga pergi di hari libur itu. Namun, selang beberapa jam kemudian, ia pun mengetahui ke mana perginya sang suami tadi setelah ia kembali bersama kedua orang tuanya ke rumah.


Haira merasa senang sebab ia menyangka bahwa Dirga memang sengaja memberi kejutan untuknya. Sampai ketika Bu Edy menanyakan tempat tinggal Calya, ia pun menyadari bahwa ada sesuatu yang lain sedang terjadi.

__ADS_1


"Ibu menanyakan siapa?" tanya Haira mengulangi.


"Em ... Ibu tanya sama Dirga, tempat tinggalnya Calya yang mana?" ujar Bu Edy.


"Ibu sudah tahu tentang Calya?" tanya Haira lagi.


Bu Edy mengangguk. "Iya, Ibu sudah tahu semuanya. Karena itu Ibu ke sini untuk melakukan sesuatu yang memang seharusnya Ibu lakukan," sahut Bu Edy.


"Melakukan apa?" Haira semakin bingung dengan perkataan mertuanya itu.


"Ibu sudah melakukan banyak kesalahan padanya, jadi Ibu berniat untuk meminta maaf, sebelum semuanya benar-benar terlambat," ujar Bu Edy.


"Minta maaf?" lirih Haira.


"Iya, tidak selamanya yang lebih muda yang meminta maaf terlebih dulu. Justru semakin tua, kita harus semakin bijaksana untuk menyadari kesalahan. Ibu sudah melontarkan fitnah padanya. Namun, kenyataannya tidak seperti itu. Ibu memutuskan untuk meminta maaf pada Calya sebelum terlambat."


"Tidak ... Ibu tidak boleh melakukan itu. Dia akan merasa di atas angin sekarang, kalau semua orang meminta maaf padanya. Dirga sudah melakukannya, Ibu dan Bapak tidak perlu mengikutinya," gerutu Haira.


"Kenyataannya, Calya sedang mengandung anak Dirga, cucu kami. Calon penerus keluarga kami," ujar Bu Edy lagi.


"Tidak, Bu. Anak itu belum pasti anak Dirga. Bisa saja dia hanya mengaku-ngaku. Di rumah itu, dia tinggal bersama seorang pria yang juga dekat dengan dia sejak di kota tempat tugas Dirga sebelumnya. Bahkan Dirga pun pernah mencurigai bila mereka sudah menjalin hubungan di belakang Dirga sejak mereka belum bercerai. Dirga menjadi yakin untuk menceraikannya karena hal itu, Bu. Iya kan, Dir?"


Haira menoleh pada Dirga, meminta persetujuannya atas perkataan itu.


"Aku sangat yakin, bila anak yang dikandung oleh Calya adalah darah dagingku."


Jawaban Dirga justru menjadi bumerang yang berbalik menikam jantung Haira. Dia merasakan sesak yang luar biasa saat itu. Napasnya menjadi tersengal. Ia merasakan nyeri yang luar biasa.


Haira meremas dadanya sendiri, lalu mulai merasakan pusing, dan perlahan pandangannya menjadi buram.


"Haira!" Dirga dan kedua orang tuanya memekik bersamaan.


***


Kali ini, Author akan menampilkan visualisasi dari Dirga Mahendra. Pria yang ganteng, macho gitu, sebenarnya sangat penyayang, tetapi hidupnya selalu berada di antara dua pilihan. Kadang antara istri dan alasan kemanusiaan. Kadang antara ibu dan istri. Kadang antara istri dan mantan istri.


Nah, untuk pemeran Dirga, Author memilih aktor ganteng Rio Dewanto.


__ADS_1


__ADS_2