Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Kenyataan


__ADS_3

Di Rainela Cafe siang ini. Calya sedang membersihkan meja yang baru saja ditinggal pengunjung, saat seorang wanita cantik masuk ke dalam cafe.


"Halo ... aku tunggu di cafe-ku ya. Oke, aku baru sampai. Bye, Rain ...." Wanita itu berbicara di telepon genggamnya sambil melenggang masuk hingga ke bagian dalam, menuju ruangan lain.


Calya melirik sebentar, kemudian bergegas kembali ke dekat pantry. Di sana, ia bertemu dengan seorang karyawan lainnya dan menanyakan tentang wanita yang baru masuk itu.


"Des, yang baru datang itu siapa?" tanya Calya.


"Oh itu Bu Anela, pemilik cafe ini," sahut Desi.


Calya mengangguk pertanda memahami. Mereka pun kembali melanjutkan aktivitas seperti biasa.


Di ruang kerjanya, Anela mulai membuka berkasnya. Namun, sejenak ia melihat ke arah pigura foto yang berada di atas mejanya. Gambar dirinya bersama seorang pria yang begitu dekat dengannya, tetapi belum dimiliki seutuhnya.


Ya, Anela mungkin memiliki raga lelaki itu untuk selalu bersamanya kapan pun ia butuhkan, tetapi tidak dengan hatinya. Ia tahu bahwa lelaki itu masih memendam rasa pada seorang wanita di masa lalunya.


Lima menit kemudian, gawainya bergetar.


[Aku sudah di parkiran.] Sebuah pesan WhatsApp masuk.


[Masuklah dulu, kita ngopi dulu.] balas Anela.


[Ok]


Di pelataran cafe, seorang pria bertubuh atletis dengan rambut gondrong tergerai sebahu berjalan masuk.


"Hai, Rin," sapa lelaki itu pada kasir.


"Hai, Pak Raindra," sahut Rina.


"Aku langsung saja, ya," ujar pria yang adalah Raindra itu.


"Iya, Bu Anela sudah di ruangannya," sahut Rina lagi.


Raindra pun melenggang masuk menuju ruang kerja Anela.


"Hai," sapa Raindra setelah membuka pintu ruangan.


"Halo, masuklah," sahut Anela.

__ADS_1


Raindra pun duduk di kursi yang ada di hadapan Anela.


"Ntar, ya," ujar Anela sambil mengangkat gagang telepon dan meminta untuk dibawakan dua cangkir kopi kepada karyawannya.


"Terus, agenda kita hari ini ke mana?" tanya Raindra kemudian.


"Ya, masih ngurusin keperluan nikah Aliya lah. Sapa lagi yang mau ngurusin coba, kalau bukan aku. Papa sibuk dengan bisnisnya, Mama harus ngurus semua hal di rumah. Sementara si Aliya itu, dia bisa apa. Maunya saja nikah cepat, padahal masih belum bisa ngapa-ngapain," gerutu Anela.


"Nikah cepat kan bagus, Nel. Dari pada telat nikah, kayak ...."


"Kayak siapa?" Anela melototkan mata pada Raindra.


"Ya, kayak kakaknya, lah ....," sahut Raindra sambil diiringi decak tawa.


"Enak saja!" Anela pun bergegas menuju ke arah Raindra lalu memukulinya dengan kedua tangan.


Raindra pun tak tinggal diam dan mencoba menangkap tangan wanita itu, hingga tak sengaja menariknya ke pelukan.


Tepat di saat itu, pintu ruangan terbuka. Calya yang berdiri di gawang pintu dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi ternanap. Menatap tanpa kedip ke arah dua insan yang sedang merapat satu sama lain itu.


Namun, yang membuatnya semakin terkejut adalah keberadaan sosok lelaki yang dikenalinya itu. Raindra. Calya tak menyangka bila lelaki itu bisa berada di sini dan beradegan semesra itu dengan bosnya.


Sontak, melihat kehadiran Calya di situ, Raindra pun membelalak. Ia pun mengalami keterkejutan yang sama. Raindra tak mengira bila Calya bekerja di cafe milik Anela ini.


Calya pun melangkah masuk, kemudian meletakkan dua cangkir kopi itu di atas meja.


"Oh ... kamu yang pramusaji baru itu ya?" tanya Anela pada Calya.


"Iya, Bu," sahut Calya. "Saya permisi dulu, Bu," lanjutnya lagi setelah tugasnya usai.


Anela mengangguk. Sementara itu, sesaat sebelum meninggalkan ruangan, Calya sempat menoleh pada Raindra, yang dibalas dengan tatapan nanar oleh lelaki itu.


Selanjutnya, Calya segera membuang pandangannya, dan berlalu pergi.


Sepeninggal Calya, kedua insan tadi pun kembali duduk di kursi masing-masing.


"Karyawan baru?" tanya Raindra sambil menyeruput kopinya.


"Ya, mengisi posisi kosong pramusaji," sahut Anela.

__ADS_1


Raindra terdiam sejenak. Entah mengapa, ia merasa galau saat ini. Keberadaan Anela dan Calya di tempat yang sama.


Sebenarnya, saat ini ia sudah berusaha untuk membuka hati bagi Anela, wanita yang sudah banyak membantu perubahan hidupnya itu. Sebenarnya, ia sudah akan menerima cinta wanita itu dan menjadikannya kekasihnya. Namun, kehadiran Calya kembali mengusik alam pikirannya. Terlebih, ia tahu status Calya yang sendiri kini.


Raindra kembali menghirup dalam-dalam kopinya. Meresapi dan menikmati cairan pekat itu, mencari manis dari rasa pahitnya.


"Rain ...," desis Anela.


Menyentakkan Raindra dari lamunannya.


"Ya?" Lelaki itu mendongak.


"Kamu kenapa?" tanya Anela.


"Oh tidak ...," sahut Raindra.


"Kamu terpesona sama pelayan baru itu? Ya ... dia memang cantik," ujar Anela.


"Apaan ...." Raindra mencoba mengelak.


Tepat di saat itu, suara pintu diketuk. Siska, sang manajer operasional masuk sambil membawa sebuah map.


"Hai, Sis," sapa Anela.


"Bu, ini kontrak kerja karyawan baru kita, sudah ditandatangani sama dia, sisa tanda tangan ibu saja," ucap Siska sambil meletakkan map itu di meja kerja Anela.


"Ok," sahut Anela sambil membuka map itu.


"Sudah kamu periksa kan semua berkasnya?" tanya Anela sambil mulai membaca data diri karyawan yang tertera di situ.


"Sudah, Bu. Dia sarjana, statusnya janda dan sedang mengandung. Saya rasa dia memang butuh pekerjaan ini, makanya saya menerimanya," jawab Siska.


Yang sontak membuat Raindra membeliak.


Tepat di saat itu juga, Anela mengeja nama Calya Janalin. Semakin menegaskan bahwa karyawan yang sedang mengandung itu adalah wanita yang baru saja masuk tadi.


Anela menatap tajam pada Raindra. Menyiratkan tanya dan kepastian, apakah wanita itu adalah orang yang sama dengan wanita di masa lalunya.


Anela hanya mengenal Raindra sebagai sahabatnya semasa SMA. Sampai saat lulus, Anela harus mengikuti orang tuanya pindah ke kota Yogyakarta. Padahal, sejak SMA Anela telah menyukai Raindra. Namun, saat mengetahui bahwa di masa kuliah, Raindra telah memiliki kekasih, Anela sempat mengalami patah hati, meski cintanya pada lelaki itu tak pernah surut. Anela hanya mengetahui nama kekasih Raindra tanpa pernah ingin tahu wajahnya seperti apa.

__ADS_1


Sampai setelah sekian tahun, Anela pun berhasil membujuk Raindra untuk pindah ke Yogyakarta dan memulai sebuah usaha bersamanya. Kala itu, mereka kembali berkomunikasi, di saat Raindra merasa terpuruk karena kuliahnya yang tak kunjung usai. Sementara Calya sudah menjadi sarjana dan bekerja di sebuah bank. Curahan hati Raindra menjadi senjata bagi Anela untuk mempengaruhi lelaki itu untuk meninggalkan Calya tanpa kata.


Di Yogyakarta, Anela dan Rain mulai membuka usaha cafe ini. Rainela Cafe. Hingga saat cafe ini sudah berkembang, Rain pun memutuskan untuk membuka cafe sendiri.


__ADS_2