
Sore ini di Yogyakarta.
Praba baru saja pulang dari kantor. Sementara Myesha sedang mengerjakan tugas di kamar, dan Calya berada di dapur.
"Cal ... malam ini jadwal periksa kan?" ujar Praba saat sosoknya muncul di dapur.
"Eh ... sudah pulang?" sambut Calya. "Iya, kamu mandi dan makan saja dulu. Ini saya masih siapin bahan untuk besok," lanjutnya.
"Pesanan makin banyak ya? Kamu kayaknya mulai kewalahan. Kamu jangan sampai kecapekan loh, Cal," ucap Praba lagi setelah berada di samping Calya.
"Ya, Myesha membantu kok. Cuman ... kayaknya kita memang butuh tambahan tenaga lagi. Hanya saja, saya tidak tahu mau cari di mana orang yang mau ikut kerja membantu saya. Lagipula, yang lebih penting lagi, orang itu harus bisa dipercaya. Karena yang kita jual ini adalah makanan, jadi harus tetap dijaga kualitasnya," sahut Calya.
"Em ... oke, biar saya yang carikan pekerja untuk membantumu. Kamu tenang saja." Praba menatap Calya dengan senyuman ringannya.
Calya membalas senyuman itu. "Makasih. Ya sudah, kamu mandi saja sana. Makan malam sudah saya siapkan."
"Oke ...." Praba pun melenggang keluar dari dapur menuju ke lantai atas.
Calya telah selesai dengan aktivitasnya di dapur. Ia kini menuju ke meja makan dan mengambil buku catatan penjualannya.
Sudah dua bulan usaha ini berjalan, tapi dia belum memberikan keuntungan yang menjadi hak Praba, karena keuntungan yang selama ini diperoleh kembali digunakan untuk mengembangkan usaha kuliner itu.
Sampai saat Praba sudah turun dan duduk di sampingnya, Calya masih fokus pada pembukuannya itu.
"Lagi ngapain, Cal?" tanya Praba.
"Ini lagi merekap hasil penjualan. Mungkin bulan depan, saya baru bisa menyetor ke kamu ya," ujar Calya.
"Setor apa?" tanya Praba.
"Ya setoran bagian keuntungan untuk kamu sebagai pemilik modal," sahut Calya.
Praba mengembuskan napas ringan. "Calya ... Calya ...."
Wanita itu mendongak, mengamati lekat wajah lelaki itu. "Kenapa?" tanyanya.
"Ya kamu ini aneh. Modal itu kan memang kuberikan untuk kamu. Kenapa mesti memberikan keuntungan untuk saya?" ujar Praba.
"Hah? Diberikan? Cuma-cuma?" Calya membesarkan bola matanya.
Praba menggeleng. "Siapa bilang cuma-cuma?"
"Lantas? Lha kamu bilang tadi kalau tidak mau pembagian keuntungan.
"Ya, ada balasannya dong, tapi bukan dalam bentuk pembagian keuntungan itu," ucap Praba.
__ADS_1
"Apa?"
"Em ... apa ya?" Praba berkata sambil menyapu rambutnya dengan jemari tangannya.
"Apa?" tanya Calya mengulangi.
"Perasaan." Praba berkata sambil memalingkan wajah pada Calya.
Calya membalas tatapan itu. "Perasaan apa?"
"Perasaan ... em ... perasaan ...."
Praba mengehentikan ucapannya. Sementara Calya masih menanti kelanjutan perkataan itu dengan perasaan yang tak bisa diterjemahkan.
"Perasaan ... sekarang perutku sudah benar-benar lapar," ujar Praba sambil memegang perutnya.
Mendengar hal itu, seketika mimik muka Calya berubah.
"Praba ... kalau lapar ya bilang saja lapar, tidak usah pakai acting segala!" gerutu Calya sambil berdiri ke dapur hendak mengambil piring.
Di sisi lain, lelaki itu justru terbahak kini. Ia merasa geli karena telah berhasil mengerjai wanita itu. Meskipun, sesungguhnya ada hal lain yang dimaksudkannya dari perkataan tadi.
Tentang sebuah perasaan yang masih terpendam dan mungkin belum waktunya untuk diungkapkan. Masih perlu waktu untuk menguak segalanya, karena bagaimanapun keadaan menjadi dasar yang perlu untuk menjadi bahan pertimbangan.
Beberapa detik kemudian, Calya sudah kembali dengan membawa tiga buah piring makan. Setelah menata di tiga tempat, Calya beranjak ke kamar untuk memanggil Myesha agar ikut bergabung bersama mereka di meja makan.
Membuat Calya harus kembali ke meja makan seorang diri.
"Myesha masih sibuk sama tugasnya. Kita makan berdua saja," ujar Calya sambil menarik kursi yang ditempatinya tadi. Di samping Praba.
"Myesha memang anak yang pengertian," gumam Praba sambil mengambil menu makanan ke piringnya.
"Hah? Pengertian apa?" tanya Calya.
"Ya pengertian, memberi waktu untuk kita makan berdua," gumam Praba.
Calya memejamkan mata sesaat, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia seakan tak ingin menggubris perkataan Praba. Dengan cepat, ia pun mengambil menu makan malamnya.
"Makan yang banyak, supaya dedek bayinya kenyang," ujar Praba.
Calya hanya melirik sejenak ke arah Praba, kemudian kembali melanjutkan makannya.
Seusai makan, mereka pun berangkat menuju klinik tempat pemeriksaan kandungan Calya. Antrian cukup panjang, tetapi Praba tetap setia duduk di samping Calya untuk menunggu.
"Anak ke berapa, Bu?" tanya seorang wanita yang juga sedang mengandung, ketika baru saja meletakkan pantatnya di kursi sebelah Calya.
__ADS_1
"Oh, anak pertama," sahut Calya.
"Wah, berarti pengalaman pertama ya. Bapaknya pasti senang sekali. Iya kan, Pak?" lanjut ibu itu sambil melirik pada Praba.
Mendapati pertanyaan dan perlakuan itu, Praba pun tercekat.
"Oh, iya. Pastinya begitu, Bu," sahut Praba.
"Dulu suami saya juga begitu waktu saya baru melahirkan anak pertama. Kalau sekarang mah sudah biasa, soalnya ini sudah yang ke empat," gumam ibu itu sambil menutup mulutnya karena tersenyum malu.
Calya dan Praba saling memandang dengan makna masing-masing. Mereka menyadari bahwa semua orang yang melihat mereka pasti akan beranggapan bila mereka adalah sepasang suami-istri yang sedang menanti kehadiran buah hati. Dan hal ini memang terjadi setiap kali mereka melakukan pemeriksaan.
"Nyonya Calya." Suara panggilan dari perawat membuat mereka terkesiap.
"Ya, saya," sahut Calya sambil berdiri menuju ruangan pemeriksaan itu.
Praba mengikuti di belakangnya.
Di dalam ruangan itu, seperti biasa Calya akan melakukan pemeriksaan USG. Sekarang, ia telah berbaring di atas tempat tidur, dan Praba berdiri di sisinya. Sambil menggerak-gerakkan alat pemindai, dokter wanita itu juga menunjukkan penampakan janin melalui layar monitornya.
"Hmm ... bayinya sehat ya. Air ketubannya cukup. Beratnya normal, seimbang dengan usianya sekarang. Dan ... rupanya jenis kelaminnya sudah kelihatan," ujar sang dokter.
"Oh ya? Apa, Dok?" tanya Praba bersemangat.
"Wah ... Bapaknya semangat sekali ya. Hmm ... Bapak pasti maunya laki-laki kan, supaya ada yang temenin main bola?" gurau dokter itu.
Praba tersipu malu, lalu berkata. "Kalau saya sih apa saja, Dok. Laki-laki atau perempuan sama saka," ujarnya.
Dokter itu tersenyum. "Bapak dan Ibu akan dianugerahi anak pertama seorang putra," ujarnya.
"Putra?" desis Calya.
"Iya, semoga kelak tampan dan gagah seperti bapaknya, ya," sahut sang dokter.
"Wah ... terima kasih, Dok," ucap Praba.
Meskipun ia bukanlah ayah dari bayi itu, Praba tetap saja mengamini ucapan dokter itu.
"Baik, sekarang saya akan meresepkan lagi beberapa vitamin untuk Ibu. Jangan lupa agar beristirahat yang cukup, beraktivitas seperlunya, dan konsumsi makanan yang bergizi," ucap dokter itu ketika mereka sudah kembali duduk, sambil mencoreti selembar kertas.
"Baik, Dok. Tentu saja. Saya akan selalu rutin mengawasi dan mengingatkan dia," ujar Praba.
"Wah ... wah, hebat. Itu namanya suami siaga. Siap antar jaga. Semoga rumah tangga Bapak dan Ibu senantiasa rukun dan bahagia ya," ucap sang dokter menutup pemeriksaan itu.
Calya hanya terdiam melihat tingkah laku Praba. Meski lelaki itu terlihat santai saat memposisikan dirinya sebagai suami Calya, wanita itu tetap saja merasa gugup dan sedikit malu.
__ADS_1
***