
"Dia sedang mengandung? Padahal seorang janda?" tanya Anela pada Siska.
"Ya, katanya dia bercerai tanpa mengetahui kehamilan itu," jawab Siska.
"Mestinya dia bilang pada suaminya itu dong, supaya mereka bisa rujuk," gumam Anela lagi.
"Entahlah, Bu. Mungkin ada masalah besar yang terjadi dalam rumah tangganya sehingga itu harus terjadi padanya," sahut Siska lagi.
"Ya sudah, ini saya tanda tangan dulu. Tapi kamu harus pantau kinerjanya sebulan ini, kalau kehamilannya itu mengganggu, keluarkan dia!" seru Anela sambil melirik ke arah Raindra.
"Baik, Bu," sahut Siska sambil mengambil map itu dan membawanya pergi.
Setelah kepergian Siska, Anela kembali menatap pada Raindra.
"Kamu mengenal karyawan baru itu?" tanya Anela dengan sorot mata tajam.
Raindra merasa sedang terjebak dalam alur mata Anela. Perlahan, lelaki itu mengangguk.
"Ya, dia Calya yang sama ... dengan kekasihku dulu," sahut Raindra.
"Kamu tahu dia ada di kota ini?" Anela mengangkat satu alisnya.
Raindra kembali terjerembab.
"Iya, beberapa hari yang lalu kami bertemu," jawab Raindra lagi.
__ADS_1
"Di mana?" selidik Anela.
"Di cafe-ku."
"Janjian?"
Raindra menggeleng. "Tidak. Sebelumnya kami tak saling tahu akan bertemu di situ. Dia datang untuk menanyakan pekerjaan. Saat itu lah aku melihatnya."
"Kalian sudah mengobrol?"
"Hanya sebentar. Dia akhirnya pergi dan tak kembali lagi. Tak kusangka, dia justru bekerja di sini sekarang."
"Kamu merasakan sesuatu saat bertemu dengannya lagi?" tanya Anela lagi.
Anela meraup wajahnya dengan kedua tangan.
"Please, Rain ... jujur lah! Dia sekarang menjanda. Apa itu akan membuatmu kembali padanya?" Anela menyaring kan suaranya.
"Hentikan, Nel!"
"Aku menunggumu bertahun-tahun, Rain ...," keluh Anela.
Raindra berdiri, menuju pada Anela. Memeluk tubuh wanita itu. Mencoba menenangkannya.
***
__ADS_1
Sementara itu, Calya yang telah kembali ke posisinya di dekat pantry mencoba untuk menenangkan perasaannya. Setelah melihat kedekatan Raindra dan Anela, Calya dapat menyimpulkan bahwa kedua manusia itu sedang menjalin hubungan khusus. Entah seperti apa. Namun, lebih dari sekadar pertemanan biasa.
Calya mencoba mengingat-ingat. Nama Anela seakan tak asing baginya. Ya, Calya pun teringat bahwa nama itu pernah didengarnya, dahulu saat ia masih bersama Raindra. Mantan kekasihnya itu pernah bercerita tentang sosok sahabat bernama Anela di masa SMA. Namun, Calya tak pernah bertemu dengannya. Hanya saja, Calya pernah melihat foto lama kebersamaan Raindra dan Anela. Sebatas itu.
Calya mengembuskan napas, mencoba mengontrol kembali pikirannya agar tetap fokus pada pekerjaannya. Raindra hanyalah bagian dari masa lalu. Seperti apa pun hubungannya dengan Anela kini, bukanlah urusannya. Calya hanya merasa perlu untuk fokus pada hidupnya sendiri.
Sampai beberapa menit kemudian, Anela dan Raindra tampak berjalan keluar dari cafe. Memasuki sebuah mobil dan berlalu pergi.
"Bu Anela dan Pak Raindra pasti mau ngurus acara pernikahan adik Bu Anela lagi, ya," ujar Desi pada Rina.
Calya yang berada di situ pun turut mendengar obrolan itu.
"Iya, Des. Kasihan ya Bu Anela didahului adiknya menikah," sahut Rina.
"Ya, namanya jodoh, mau gimana lagi. Tidak lihat siapa yang muda atau tua, yang berjodoh duluan ya nikah duluan," balas Desi.
"Iya juga sih. Sebenarnya, mah Bu Anela juga sudah siap untuk nikah, cuma kayaknya Pak Raindra yang masih tarik ulur," ucap Rina.
"Iya ya, padahal sudah hampir tiga tahun mereka bareng. Dari mulai buka Rainela. Mereka sudah cocok, cantik dan ganteng, tapi kayaknya Pak Raindra yang belum pengen nikah," pungkas Desi.
"Ya, kita doakan saja, semoga mereka segera berjodoh," sahut Rina lagi, menutup obrolan mereka.
Calya yang sedari tadi mendengar obrolan itu pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Mencoba menepis pikiran tentang hubungan kedua orang itu.
***
__ADS_1