
Calya masih terpaku di pijakannya. Memperhatikan tingkah laku Haira yang menurutnya tak wajar. Apalagi setelah beberapa menit kemudian wanita itu menangis meraung-raung.
"Berhentilah menangis dan pergi dari sini. Aku tak ingin orang-orang yang lewat di depan rumah menjadi penasaran dengan apa yang terjadi di sini," gumam Calya.
Namun, di depannya, Haira masih saja terisak-isak tak jelas, membuat Calya semakin bingung dengan hal yang membuatnya menangis. Terlebih setelah apa yang dilakukan pada barang-barangnya.
Hingga beberapa menit kemudian terdengar suara motor yang berhenti di depan rumah. Calya menyadari kedatangan seseorang dan hendak beranjak ke luar rumah. Namun, Haira dengan cepat menarik tangan Calya.
"Apa yang kau lakukan, Haira?" tanya Calya karena merasa terperanjat atas tarikan Haira.
"Tidak, jangan! Jangan bunuh anakku! Hentikan, Calya!" Haira kembali berteriak.
"Apa maksudmu?" tanya Calya dengan rona wajah heran.
"Aku tahu kau membenciku tapi jangan bunuh anakku." Kembali lagi, Haira memekik.
Namun, kali ini disertai gerakan tangannya yang menarik tubuh Calya. Kemudian, tepat di saat Dirga masuk ke dalam rumah, Haira menghempaskan tubuhnya ke lantai seakan telah mendapat dorongan oleh Calya.
"Aw! Tidak!" pekik Haira.
"Calya hentikan! Apa yang kau lakukan padanya?" Dirga berlari menuju tubuh Haira yang tersungkur di lantai.
__ADS_1
"Ah, aduh ... sakit .... Dir, perut aku sakit. Kandunganku, anak kita. Dia ingin melenyapkannya. Huuu ... huuuu ...." Haira mengadu pada Dirga sembari tersedu.
Tangisan sandiwara.
"Ga ... saya tidak melakukan apapun padanya." Calya mencoba menepis tudingan Haira.
Namun, Dirga seakan tak menggubris ucapan Calya. Lelaki itu lebih memilih untuk mendekat pada Haira.
"Ayo kita ke rumah sakit," ujar Dirga pada Haira.
"Aku gak kuat berdiri, Dir ...." sahut Haira dengan nada suara lemah.
Telat di saat Dirga akan menggendong tubuh Haira. Membuat Dirga berpaling pada Calya, dan merutuknya dengan sebuah kalimat yang menghentakkan.
"Kaupikir aku tak punya mata? Kau kira aku tak punya telinga?" hardik Dirga pada Calya.
"Ga?" Calya berdesis lirih.
"Aku mendengar saat kamu menghajarnya. Mungkin hape Haira terpencet dan memanggil nomorku. Lalu, aku buru-buru ke sini, dan benar saja, kamu memang sedang mencelakainya." Mata Dirga nyalang. Menyiratkan perasaan marah pada sang istri.
Calya menggeleng, tak percaya dengan tudingan yang diucapkan suaminya. Lelaki yang semalam baru saja berjanji untuk selalu bersamanya. Bertahan dalam situasi pelik yang sedang melilit mereka.
__ADS_1
Dan kini, Calya pun menyadari bila tingkah laku aneh yang dipertunjukkan Haira tadi adalah sebuah jebakan untuknya. Haira sedang mencoba untuk menyudutkan dirinya di depan Dirga. Seakan Calya tengah berusaha untuk membunuh bayi dalam kandungan madunya itu.
Dirga kembali akan mendekat pada Haira saat Calya memegang pundaknya.
"Ga, percayalah padaku. Kejadian tadi tidak seperti yang kau sangkakan. Saya ti-"
Plak!
Calya meringis sembari memegangi pipi kirinya. Wajahnya memerah. Namun, lebih dari hatinya memanas. Ia tak pernah menyangka bila sang suami akan mengangkat tangan padanya. Lelaki yang begitu dicintai dan dipercayai, yang telah menggores luka di hatinya, kini mengukir perih di raganya.
Sakit, tamparan itu memang menyakitkan. Akan tetapi, perasaan Calya jauh lebih terluka kini. Luka yang semakin dalam. Luka di atas luka.
Sementara itu di lantai, Haira sang madu mengukir ekspresi yang berbeda. Garis-garis di wajah cantiknya menyimpulkan seuntai senyum yang memiliki arti tersendiri. Sebuah kemenangan dan kepuasan. Sebabnya pasti, misi sang madu telah berhasil.
"Kamu menamparku, Ga?" Lirih, tanya itu keluar dari bibir Calya yang bergetar.
Akan tetapi, sang suami tak menjawab sepatah kata pun. Justru, lelaki itu berbalik menghadap pada Haira. Dengan sigap membopong tubuh istri keduanya itu, dan berlalu pergi meninggalkan rumah dinas itu.
Membiarkan sang istri mematung dalam perihnya.
***
__ADS_1