Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Ikhlas


__ADS_3

Malam yang kelam. Calya merasa benar-benar hancur. Seakan seluruh hatinya sudah berantakan, tak tersisa lagi.


Dalam keadaan seperti ini, seorang wanita dapat mengalami apa pun, termasuk sakit jiwa. Tanpa melakukan kesalahan, mendapatkan talak oleh sang suami.


Hening.


Tak ada suara yang tercipta. Calya masih duduk di pojok teras rumah dinas itu. Sementara lelaki yang menemaninya, Praba, hanya mampu memandang dalam jarak beberapa meter darinya.


Praba diam memendam amarah. Perlakuan Dirga pada wanita itu telah menyakiti hatinya juga. Namun, ia tak akan tinggal diam. Calya harus memperoleh keadilan.


"Cal ... tak akan terjadi apa pun padamu. Dirga akan tetap menjadi suamimu," gumam Praba beberapa saat kemudian.


Akan tetapi, Calya tak juga menyahut.


Kembali lagi Praba berkata, tapi kali ini dengan berjalan lebih dekat padanya.


"Hapus kesedihanmu, aku pasti akan membantumu untuk kembali berbaikan dengannya."


Calya mendongak. Menatap lekat pada Praba.


"Berbaikan?" lirihnya.


Praba mengangguk.


Sementara wanita itu justru menggeleng.


"Tidak, kami tidak akan berbaikan lagi, bahkan tidak akan bersama lagi," gumam Calya.

__ADS_1


"Apa maksudmu, Cal?" tanya Praba bingung.


"Apakah saya tidak memiliki hak untuk hidup bahagia?" balas Calya dengan tanya.


Praba terperanjat. Tak menyangka bila Calya mampu mengucapkan kalimat yang mengarah pada hal yang tak biasa itu. Menurutnya, Calya adalah seorang istri yang setia dan akan mempertahankan rumah tangganya dalam keadaan apa pun. Namun, Praba kembali berpikir bila Calya pastilah memiliki alasan untuk perkataannya itu.


"Apakah aku harus menerima semua ini dan hidup menderita dengan perasaan yang terluka sepanjang hidupku?" lirih Calya lagi. Menyentakkan Praba dari lamunan.


"Apakah kamu akan mengambil keputusan?" tanya Praba.


"Ya ...."


"Keputusan apa?" tanya Praba.


Calya berdiri lalu berjalan ke arah luar teras. Selanjutnya, sambil berpegangan pada satu tiang penyangga rumah, ia menatap jauh ke atas langit.


Praba terbeliak. Dugaannya tadi ternyata benar. Calya akan memilih untuk menjalani takdir hidupnya itu.


"Apa kamu yakin? Kamu menyerah, Cal?" tanya Praba memastikan.


"Ya, saya sudah siap untuk melanjutkan hidup yang lebih bahagia. Menjadi janda bukanlah kehendak saya, tapi kehendak takdir. Lagipula, Dirga pun menginginkannya. Bila dia berbahagia dengan itu, mengapa saya harus menolaknya?" balas Calya.


Praba tak mampu lagi menjawab. Ia hanya bisa bergumam di dalam hati. Kekaguman akan kebesaran hati wanita itu membuat Praba merasa sedang berhadapan dengan sosok wanita yang berbeda. Calya tak lagi rapuh. Sebaliknya, dia adalah wanita yang tangguh.


***


Perceraian memang menjadi hal yang dibenci oleh Tuhan. Akan tetapi, bila rumah tangga itu telah dipenuhi bara api, penghuninya pun tak akan bisa hidup dengan nyaman.

__ADS_1


Seperti yang terjadi pada rumah tangga Dirga dan Calya. Kemarahan terus saja tersulut. Tak ada lagi rasa percaya. Perlahan, cinta pun akan lenyap.


Duri yang menancap lewat kehadiran sang madu, terus saja menusuk dan menimbulkan luka. Belum lagi dengan keberpihakan yang tak adil. Tak ada satu penyangga yang bisa membuat Calya untuk bertahan hidup dalam bahtera rumah tangga itu.


[Saya menerima talak darimu. Segera lah proses perceraian kita.] Calya mengirimkan pesan itu ke ponsel Dirga pagi ini.


Lelaki itu meremas gawainya sesaat setelah membaca pesan singkat yang dikirimkan sang istri. Dalam keadaan masih menyimpan amarah, Dirga merasa semakin terbakar dengan perkataan Calya dalam pesan itu.


Segala rasa bercampur aduk kini di benak lelaki itu. Di satu sisi, cintanya masih begitu dalam pada Calya. Namun, rasa cemburu di hatinya terus saja membara.


"Ada apa, Dir?" Haira yang baru saja keluar dari kamar mandi mendekat pada Dirga. Kemudian duduk di tepi tempat tidur, di sisi Dirga.


"Aku akan menceraikan Calya," jawab Dirga.


Mendengar hal itu, sontak rona merah merekah di wajah Haira. Bagai mendapat bingkisan dari langit, perkataan Dirga melambungkannya ke awang-awang.


"Sungguh?" tanya Haira memastikan.


Dirga mengangguk, membuat Haira langsung memeluk lelaki itu.


"Terma kasih, Sayang. Keluarga kita pasti akan senang mendengar hal ini. Anak kita bisa memiliki status hukum yang jelas. Kita akan menikah dengan resmi. Aku sangat bahagia, Dir ..." Haira berdecak.


Sementara itu, Dirga hanya bergeming. Sampai beberapa saat kemudian, ia melepaskan pelukan istri keduanya itu dan menuju kamar mandi.


"Aku harus ke kantor." Hanya itu yang diucapkannya.


***

__ADS_1


__ADS_2