
Gontai, langkah Calya memasuki gedung kantor itu. Menuruti permintaan Pak Bambang untuk menemuinya sehubungan dengan klarifikasi niatan perceraian dirinya dengan Dirga.
"Permisi, Pak," sapa Calya setelah sekretaris Pak Bambang membukakan pintu.
"Masuklah Bu Dirga," sambut Pak Bambang.
Wanita itu pun melangkah masuk.
Di hadapan Pak Bambang, Calya mencoba untuk tetap tersenyum. Menutupi kegalauan hatinya.
"Bu Dirga, sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena sudah bersedia memenuhi panggilan saya," ujar Pak Bambang.
"Iya, Pak," sahut Calya.
"Selanjutnya, saya mau menyampaikan bahwa pagi tadi, Pak Dirga sudah lebih dulu menghadap saya. Dia menyatakan niat untuk berpisah dengan Bu Dirga. Yang artinya adalah perceraian. Hal yang semestinya tidak dianjurkan oleh aparat sipil negara, bila tidak karena alasan yang kuat," lanjut Pak Bambang.
Calya mengangguk, pertanda bahwa ia menyimak dan menanggapi perkataan Pak Bambang dengan baik.
"Sekarang, saya ingin memastikan hal itu pada Bu Dirga. Apakah memang, perceraian ini atas keinginan Bu Dirga?" Pak Bambang bertanya dengan penuh keseriusan.
Calya hening sejenak, kemudian perlahan mengurai senyum. Mencoba untuk kembali menguatkan diri dalam menjawab pertanyaan yang diterimanya.
"Benar, Pak. Rumah tangga kami sudah tak bisa diteruskan lagi. Saya memutuskan untuk mundur dari ikatan pernikahan ini," jawab Calya kemudian.
"Mengapa? Bukankah sebelumnya Bu Dirga yakin dengan keputusan poligami Pak Dirga?" selidik Pak Bambang lagi.
__ADS_1
"Dirga bahagia dengan pernikahan keduanya. Maka ... terlalu egois bagi saya bila tidak membiarkan jalan kebahagiaan itu terbuka baginya, istri keduanya itu, serta keluarga mereka," jawab Calya.
"Lalu bagaimana dengan kebahagiaan Bu Dirga sendiri?" tanya Pak Bambang lagi.
"Saya akan menemukan kebahagiaan saya sendiri, Pak."
Jawaban Calya sontak membuat Pak Bambang berpikir akan kebenaran kata-kata Dirga sebelumnya, bahwa Calya sudah memiliki pria lain untuk menggantikan posisinya. Pak Bambang pun tak banyak bertanya lagi dan mempersilakan Calya untuk pergi.
Praba sempat melihat saat Calya akan pergi. Ia pun menghampirinya.
"Cal ...."
Calya menoleh. "Ya?"
"Pasti," sahutnya.
"Kamu akan pulang sendiri? Bagaimana kalau ku antar?" tawar Praba.
Calya tersenyum lalu menggeleng. "Terima kasih, tapi tidak perlu. Saya bisa pulang sendiri."
Setelah mengatakan itu, Calya pun kembali berbalik dan benar-benar pergi.
***
Di dalam kamar, Calya pelan-pelan mulai mengemasi barang-barang miliknya. Sebisa mungkin tak menyisakan apa pun yang akan menjadi kenangan tentang dirinya bagi Dirga. Terlebih, ia tahu bahwa rumah ini kelak akan dihuni oleh nyonya yang baru.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, telepon genggamnya berdering. Calya meraihnya dan mendapati adiknya, Myesha yang menelepon.
"Halo, Sha ...," sapa Calya.
"Mbak ... bagaimana dengan keputusan Mbak?" tanya yang Myesha di seberang telepon.
"Sudah final, Sha. Mas Dirga sudah memproses perceraian kami," balas Calya.
Sesaat terdengar suara isakan. Myesha sedang menangis. Adik Calya yang berusia dua puluh tahun itu seakan turut merasakan kesedihan sang kakak.
"Sha ... untuk sementara, jangan bilang ke ibu dan bapak dulu ya. Kasihan, bapak sedang sakit, nanti malah jadi tambah kepikiran," gumam Calya.
"Tapi sampai kapan akan ditutupi, Mbak?"
"Nanti ... Mbak sendiri yang akan bilang langsung sama mereka, saat waktunya tepat."
"Lalu ... selanjutnya apa yang akan Mbak lakukan setelah berpisah dari Mas Dirga?" tanya Myesha lagi.
"Mbak akan ke tempatmu di Yogya. Di sana Mbak akan cari kerja. Mbak numpang di kos mu dulu ya."
"Iya, Mbak."
Setelah obrolan itu berakhir, Calya pun menutup teleponnya. Hatinya merasa sedikit lega karena masih ada sang adik yang akan bersamanya.
***
__ADS_1