
Pagi ini Dirga akan kembali ke kota tempat tugasnya. Namun, kali ini ia tak sendiri, Haira akan ikut bersamanya.
Di depan pintu keberangkatan bandara, Dirga dan Haira tengah berpamitan dengan keluarga mereka.
"Baik-baiklah di sana, Nak. Perhatikan kesehatanmu. Kalau ada apa-apa telepon Mama ya?" ucap Bu Broto pada putrinya setelah berpelukan.
Haira berpaling pada Bu Edy, melakukan hal yang sama, memeluknya sebagai ungkapan perpisahan.
"Bila di sana ada yang mengganggumu sampaikan pada Ibu, ya?" ucap Bu Edy.
Bu Edy kemudian berpaling pada Dirga, "Dirga ... jaga istrimu ini baik-baik di sana. Ingat, dia sedang mengandung."
Dirga hanya mengangguk pelan.
Setelah sesi berpamitan itu selesai, Dirga dan Haira pun masuk ke dalam ruang check-in bandara. Hingga akhirnya pesawat terbang membawa mereka menuju kota tempat tugas Dirga.
***
Mobil yang ditumpangi Dirga dan Haira berhenti di sebuah penginapan. Mereka turun, diiringi dengan sopir mobil yang menurunkan beberapa barang bawaan mereka.
Dirga masuk dan memesan sebuah kamar. Setelah itu, mereka pun masuk ke dalam kamar itu.
"Untuk sementara kamu di sini dulu sampai aku mendapatkan rumah kontrakan untukmu," ucap Dirga pada Haira.
"Kamu juga di sini kan, Dir?" tanya Haira sembari membongkar isi kopernya.
"Aku kan harus pulang. Aku harus kembali bekerja," jawab Dirga.
"Terus ... aku sendiri di sini?" tanya Haira lagi dengan ekspresi tak terima.
"Kamu bisa memesan makanan ke pemilik penginapan. Kalau ada keperluan yang lain, tinggal hubungi aku."
"Aku tidak berani tidur sendiri di sini!" Haira merajuk.
"Selama ini kamu kan sudah biasa tidur sendiri setelah menjanda, iya kan?"
"Dirga!" Haira menyentak. Tak terima dengan sebutan yang diucapkan Dirga pada dirinya.
"Aku istrimu, Dirga! Tak pantas kau menyebut statusku sebelumnya. Itu sama saja menghina dirimu sendiri, karena sekarang kamu lah yang bertanggung jawab sepenuhnya padaku!"
Dirga tertegun. Ia hanya menarik napas. Mengangkat tasnya, kemudian berjalan menuju pintu keluar.
"Aku pulang dulu."
__ADS_1
Tanpa menunggu persetujuan dari Haira, Dirga segera berlalu pergi dari penginapan itu.
***
Dengan menumpangi sebuah motor ojek, Dirga pulang ke rumah dinasnya. Merasakan kehadiran seseorang di depan rumah, Calya bergegas membuka pintu.
"Dirga? Kamu ... sudah kembali?"
Dirga mengangguk pelan. "Cal ... kamu baik-baik saja?" tanya Dirga kemudian.
"Semua baik-baik saja kan, Ga?" Calya balik bertanya.
Dirga tak menjawab, ia hanya berjalan memasuki rumah lalu menuju ke kamar tidur. Calya mengikuti dari belakang. Dirga meletakkan tas bawaannya lalu membuka pakaian yang dikenakannya.
"Aku mandi dulu ya, Cal," ucap Dirga seraya menyampir sebuah handuk di pundaknya dan berjalan menuju kamar mandi.
Calya pun turut menuju ke dapur. Membuat secangkir teh hangat untuk suaminya. Kemudian ia duduk di kursi makan untuk menunggu Dirga. Calya bisa merasakan bahwa sesuatu sedang terjadi dan Dirga pasti akan mengatakannya setelah ini.
Usai mandi dan berganti pakaian, Dirga pun menghampiri Calya di meja makan. Pria itu meneguk teh buatan istrinya.
"Sayang, maafkan kejadian kemarin. Maafkan ibu ...." ucap Dirga setelahnya.
Calya menggeleng pelan. "Sudahlah, Ga ... jangan bahas itu lagi. Kamu sudah memilih untuk pergi bersama ibu, dan itu sudah terjadi. Sekarang kamu sudah kembali, katakanlah padaku, apa yang terjadi di sana? Apakah ada keputusan yang akan kita jalani lagi?"
Pria itu segera menggenggam tangan istrinya.
"Cal ... apapun yang terjadi, jangan pernah membenciku. Jangan tinggalkan aku ...."
Calya menarik tangannya dari genggaman Dirga secara perlahan.
"Beban itu seharusnya bukan berada pada saya. Kamu lah yang memutuskan," Calya berucap lirih.
"Cal ...."
"Sekarang katakanlah, apa yang terjadi?" Calya menatap nanar pada Dirga.
"Dia ada di sini." Dirga menundukkan kepalanya.
"Dia?"
Dirga kembali mengangkat kepalanya, dan berkata, "Ya, Haira ikut bersamaku. Dia mau tinggal di kota ini juga."
Calya menahan napas. Ia menyadari masalah baru yang akan mengusik hidupnya. Tidak, bukan hanya sekadar hidupnya tapi kehidupan rumah tangganya.
__ADS_1
"Kenapa dia harus ikut ke sini, Ga? Ingat lah karirmu, Ga. Kalau pimpinan tahu, ini bisa menjadi masalah untukmu."
"Haira tidak akan melakukan apa pun di kantor. Haira ikut ke sini hanya supaya bisa dekat denganku karena dia sedang mengandung," sahut Dirga.
"Lalu ... di mana dia sekarang?" tanya Calya.
"Di penginapan sambil menunggu aku mendapat rumah kontrakan untuknya."
"Artinya ... kamu akan berada di dua rumah secara bergantian? Ga ... ini kota kecil, orang akan mudah melihat keberadaan kita." Calya menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Aku akan berhati-hati, Cal. Selama kamu masih bersamaku dan percaya padaku, semua akan baik-baik saja."
"Percaya?" Calya tak melanjutkan kata-katanya lagi.
Dia hanya merasa muak dengan kata 'percaya'. Bagaimanapun kata itu sudah tak ada untuk Dirga lagi. Berulang kali kepercayaan itu dinodai oleh suaminya.
Calya menatap wajah suaminya lekat. Seakan ingin memastikan perasaan yang ada di hatinya untuk lelaki itu.
Cinta? Ya, sesungguhnya Calya sangat mencintai suaminya. Mungkin karena itu lah, hingga kini ia masih bertahan meski dengan perasaan yang luluh lantak.
Dirga berdiri dan berjalan menghampiri Calya. Setelah itu Dirga membungkuk dan memeluk tubuh istrinya yang masih duduk.
"Aku tidak sanggup bila harus kehilangan kamu, Cal .... Maafkanlah aku ... maafkan semuanya. Tetap lah di sampingku. Kita pasti bisa melalui semua ini bila bersama."
Beberapa bulir air mata menetes dari kedua sudut mata Dirga.
Calya menghela napas. Namun entah mengapa kali ini ia tak menangis. Calya bergeming mendengar setiap kata yang keluar dari mulut suaminya.
"Berjanji lah, Cal .... Berjanji padaku, apa pun yang terjadi, hubungan kita akan tetap baik-baik saja." Dirga melanjutkan.
"Berjanji? Saya pernah memintamu berjanji, Ga ... tapi itu sia-sia. Sekarang jangan minta saya melakukannya. Kita memang akan tetap bersama, karena seperti yang kukatakan tadi, keputusan ada di tanganmu ...."
Calya mengusap lembut punggung suaminya, lalu perlahan melepaskan rengkuhan itu.
"Istirahat lah, Ga. Saya mau ke pasar untuk membeli bahan makanan."
Calya berdiri kemudian berlalu pergi. Alasan yang diucapkannya sesungguhnya hanya sebuah alasan. Calya hendak pergi untuk menenangkan hatinya yang gulana. Madunya, istri kedua suaminya berada di kota yang sama dengannya kini. Siapkah hatinya berbagi segalanya dengan jarak yang lebih dekat?
Dirga terpaku, menatap kepergian istrinya. Hatinya terasa kosong meskipun memiliki dua istri yang dekat dengannya kini. Calya seakan menjauh darinya. Sementara Haira bukan lah yang diharapkannya untuk dekat dengannya kini.
Wanita yang dicintainya adalah Calya, namun dalam rahim Haira ada benih keturunannya. Dirga tak ingin kehilangan Calya, tapi Haira akan memberikan kebahagiaan untuknya dan kedua orang tuanya.
Dirga berjongkok, meremas rambut dengan kedua tangan. Ia menyadari bahwa semua ini terjadi karena kelalaiannya. Bagaimana dunia maya kini telah membuat persoalan rumit dalam dunia nyatanya.
__ADS_1
***