
Dalam keterkejutan itu, Calya merasa ada dua hal yang sedang menderanya. Kebahagiaan dan kekalutan.
Tentu saja ia merasa bahagia karena bisa bertemu kedua orang yang sangat dirindukannya. Namun, di sisi lain dia juga merasa sedih karena kenyataan yang masih disembunyikannya.
"Calya ...," gumam Bu Darmawan sambil bergegas menghampiri putrinya. Memeluk erat tubuh putri sulungnya itu.
Bu Darmawan pun tak kuasa menahan air mata untuk tak tumpah. Perasaan untuk melindungi sang putri begitu menggebu-gebu di kalbunya kini.
Hal yang sama dilakukan oleh Calya. Begitu erat dia membalas pelukan sang ibu. Air mata pun luruh membasahi pipinya.
"Ibu ...," desis Calya di sela isakan.
Tak lama berselang, sang ayah pun mendekat. Juga untuk memeluk sang putri.
"Maafkan Bapak, Nak," ujar Pak Darmawan.
Saat pelukan itu terlepas, Calya menatap gamang pada sang ayah. Ia tak mengerti maksud perkataan maaf itu.
"Bapak meminta maaf untuk apa?" tanya Calya bingung.
"Bapak sudah tahu semuanya," ujar Pak Darmawan. Tepat di saat itu, ia tak kuasa menahan kesedihannya. Membiarkannya terurai dalam derai air mata.
Di depan pintu, Praba berdiri dan menyaksikan adegan haru itu.
***
Pak Darmawan dan Bu Darmawan bergantian membersihkan diri. Sementara itu, Calya sudah menyiapkan empat gelas teh hangat di teras kamar. Di sana, Calya dan Praba duduk berhadapan tanpa banyak bercerita.
Tak lama kemudian, kedua orang tua Calya pun keluar dan turut duduk bersama mereka.
"Pak, Bu, diminum tehnya," ucap Calya.
Pak Darmawan duduk di samping Praba, sementara sang istri di samping putrinya.
"Jadi, Nak Praba ini siapa? Kalian berkenalan di mana?" tanya Pak Darmawan menyelidik. Bagaimanapun, rasa penasaran akan perkataan Dirga bahwa Calya menjalin hubungan dengan lelaki lain masih mengusik batinnya.
"Em ... saya dan Calya bertemu di kota tempat kami tinggal sebelumnya," sahut Praba.
Saat mendengar hal itu, sontak Pak Darmawan termangu. Batinnya mulai gelisah.
"Bagaimana bisa begitu? Lantas bagaimana sekarang kalian bisa sama-sama berada di sini?" tanya Pak Darmawan lagi.
"Sebelumnya, saya bekerja di kantor yang sama dengan Dirga, mantan suami Calya. Karena itu juga saya dan Calya menjadi saling mengenal. Namun, beberapa waktu yang lalu, saya mendapat pemindahan tugas ke kota ini. Saya juga terkejut saat pertama kali berjumpa kembali lagi dengan Calya di tempat kerjanya," jawab Praba.
__ADS_1
"Sekantor dengan Dirga? Artinya, Nak Praba tahu segalanya tentang apa yang terjadi pada mereka?" cecar Pak Darmawan lagi.
Mendengar pertanyaan itu, sesaat Praba melihat ke arah Calya. Sinar matanya seakan berbicara, menanyakan tentang jawaban apa yang harus diberikannya.
Menyadari hal itu, Calya bersuara. "Praba adalah satu-satunya orang yang berada di samping saya saat masa-masa berat itu terjadi."
"Apa maksudnya, Nak? Sedekat apa hubungan kalian? Apakah yang dikatakan Dirga itu benar?" Pak Darmawan mengajukan pertanyaan bertubi. Seolah menumpahkan semua rasa penasarannya.
"Apa yang Dirga katakan, Pak?" tanya Calya cepat.
"Dia bilang, alasannya menceraikan kamu karena memiliki lelaki lain," sahut Bu Darmawan.
Calya menengok pada ibunya.
"Apa?!" Calya memekik.
"Katakan itu tidak benar, Nak," ucap Pak Darmawan.
"Tentu saja tidak, Pak," ujar Calya.
"Syukurlah kalau begitu," ucap sang ibu.
"Lalu ... bagaimana dengan dengan kehamilan mu?" tanya sang ayah.
"Tadi kami bertemu Raindra di cafe depan jalan. Dia yang bercerita," jawab ibunya.
"Raindra?" Calya berdesis.
Ia pun bingung mengapa Raindra bisa mengetahui hal itu. Entah dari Myesha atau dari Anela.
Di sisi lain, Praba tampak mengernyitkan dahi. Nama Raindra baru didengarnya saat ini. Apalagi karena nama itu tampak sangat dikenal oleh Calya dan orang tuanya.
Namun, Praba tak mengungkapkan tanyanya saat itu. Ia memberi kesempatan bagi Calya untuk memberikan penjelasan pada sang orang tua tentang semua hal yang telah menimpanya. Dalam obrolan itu, tentu saja keharuan terus menyelimuti.
Semua rasa perih dan terpukul menyatu di antara anak dan orang tua itu. Namun, Praba merasa lega sebab satu beban hati Calya sudah hilang. Pengakuan pada sang orang tua telah dilakukan oleh wanita itu. Terlebih lagi, mereka pun menerima keputusan Calya untuk tak memberi tahu Dirga tentang kehamilannya. Keputusan Calya yang diambilnya dengan tujuan tak ingin menimbulkan keributan baru lagi dengan Dirga dan keluarganya.
***
Praba dan Calya sudah duduk di kursi antrian pasien. Praktek dokter kandungan ini dibuka mulai pukul tujuh malam. Seusai mengobrol dengan orang tuanya, Calya dan Praba pergi untuk memeriksakan kandungan wanita itu.
"Nyonya Calya," ucap seorang perawat memanggil pasien.
Calya dan Praba pun berdiri, lalu masuk ke dalam ruangan praktek itu.
__ADS_1
"Ini pertama kali periksa ya, Bu?" tanya dokter wanita itu setelah Calya dan Praba duduk di depannya.
"Iya, Dok," sahut Calya.
Kemudian, setelah itu dokter mulai menanyakan tanggal menstruasi terakhir, lalu keluhan yang dialaminya.
"Kita USG dulu ya, Bu," ucap dokter itu sambil mempersilakan Calya berbaring di atas tempat tidur pemeriksaan.
Calya menurut pada titah sang dokter. Kemudian, sambil menggerak-gerakkan sensor USG itu, dokter itu juga menunjukkan letak janin yang berada di dalam rahim Calya melalui layar monitor USG nya.
"Usia janinnya dua belas minggu ya, Bu. Mari Pak, silakan dilihat, ini janinnya. Ini jantungnya, berdetak dengan baik," jelas dokter itu.
Praba pun melangkah mendekati layar monitor itu. Entah mengapa ia merasa bahagia melihat janin itu berada di sana.
Calya yang tertegun menyaksikan gambar bayinya, seketika meneteskan air mata. Rasa haru tak bisa dibendungnya. Tudingan mandul tentu saja sudah terbantahkan untuk tersemat padanya. Meskipun bayi itu mungkin tak akan pernah bertemu dengan ayah kandungnya, Calya tetap merasa bahagia karena memilikinya.
"Ini resep vitaminnya, Ibu masih boleh beraktivitas seperti biasa, tetapi jangan lupa untuk beristirahat. Selain itu, makanannya harus diperhatikan, supaya berat badan bayi bisa ikut bertambah dengan baik," papar sang dokter.
"Baik, Dok. Terima kasih," sahut Calya.
"Bapak juga, harus terus mengawasi Ibu ya. Ada yang namanya suami siaga, siap antar jaga." Dokter itu beralih pada Praba.
Praba tersenyum sesaat lalu berkata, "Tentu saja, Dok. Itu sudah pasti akan saya lakukan."
Setelah itu, dia kembali berpaling pada Calya. Sementara wajah wanita itu tampak gamang membalas tatapannya. Tentu saja karena Calya tertegun dengan jawaban yang diberikan oleh Praba pada dokter itu.
Sambil menunggu panggilan untuk pengambilan obat di apotek, Calya dan Praba duduk sambil menikmati panganan terang bulan.
"Kamu kok ngaku-ngaku tadi?" tanya Calya tiba-tiba.
"Ngaku-ngaku apa?" sahut Praba.
"Tadi waktu di ruang periksa."
"Oh, ngaku jadi suami kamu?"
Calya tak menjawab.
"Kan dokter itu yang mengira kalau saya adalah suamimu. Saya hanya menyahuti saja. Ya, dari pada cerita menjadi lebih panjang kalau saya mengaku hanya sebagai teman yang mengantar," ujar Praba sambil mengunyah makanannya.
Calya berpikir sejenak, mengiyakan penuturan Praba. Sampai beberapa menit kemudian, resep obat miliknya telah selesai diproses, dan petugas memanggil namanya.
Setelah mengambil obat itu, mereka py berlalu pergi.
__ADS_1
***