
Waktu kerja Calya sudah berakhir. Setelah melepas celemek, ia pun bergegas keluar dari cafe. Namun, ia terkejut saat di depan sana, Praba sedang menunggu di motornya. Calya mengernyitkan dahi sebab seingatnya saat ini ia sedang tak membuat janji untuk bertemu dengan lelaki itu.
"Kamu? Ada apa?" tanya Calya setelah mendekat pada tempat Praba berada.
"Yuk pulang," sahut Praba.
"Pulang?" tanya Calya bingung.
"Iya, pulang ke rumah barumu," ujar Praba.
"Hah? Kamu tahu?"
"Iya, Bagas yang bilang. Saya juga kan penasaran dan ingin mampir ke tempat tinggal barumu," gumamnya.
"Oh ... ya sudah, ayo lah," ujar Calya.
"Naik lah," pinta Praba.
Calya pun menurut dan segera naik ke boncengan motor Praba.
***
Di rumah, Pak Darmawan dan sang istri sedang bersantai sambil menonton televisi. Sementara Myesha sudah berangkat kerja. Kali ini, Myesha yang jarak tempat kerjanya menjadi sedikit lebih jauh.
Mendengar kedatangan Calya bersama Praba, kedua orang tuanya pun segera berdiri dan menyambut mereka. Sementara Calya berganti pakaian, sang ibu sibuk menyiapkan makan malam. Tentu saja karena mereka akan turut mengajak Praba dalam jamuan makan itu. Sampai saat semuanya telah siap, mereka pun menyantap makanan itu bersama.
Praba tampak sangat bahagia bisa berada di antara keluarga ini. Kehangatan yang diberikan oleh orang tua Calya dalam penyambutan mereka membuatnya semakin yakin akan sesuatu.
Seusai makan malam, mereka berempat duduk bersama di ruang tamu. Obrolan pun dimulai.
"Bagaimana dengan pekerjaan Nak Praba?" tanya Pak Darmawan.
"Alhamdulillah lancar, Pak," jawab Praba.
"Syukurlah. Em ... keluarga Nak Praba tinggal di mana?" tanya ayah Calya lagi.
"Orang tua saya di Semarang, Pak."
"Oh, iya sampaikan salam kami untuk mereka ya."
"Baik, Pak, akan saya sampaikan."
"Nak Praba, kami juga ingin mengucapkan terima kasih atas apa yang telah Nak Praba lakukan selama ini pada putri kami, Calya," lanjut Pak Darmawan.
"Sama-sama, Pak."
"Em ... tapi kalau boleh tahu, Nak Praba sebaik itu pada Calya, apakah hanya sebatas karena rasa kasihan padanya?" tanya Pak Darmawan lagi.
Namun, kali ini Calya bereaksi, seakan tak terima dengan pertanyaan sang ayah.
"Pak ...," desisnya. "Tanya apa sih?" lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Ya, Bapak kan hanya ingin tahu, supaya Bapak bisa lebih tenang," gumam sang ayah.
"Tidak apa-apa, Cal." Praba yang menyahut.
Sesaat kemudian ia berpaling pada Pak Darmawan.
"Tidak, Pak. Saya membantu Calya bukan karena kasihan, tetapi karena adanya sebuah panggilan hati. Saya paling tidak senang bila melihat seorang wanita disakiti. Apalagi ... oleh orang yang semestinya melindungi dirinya. Saya juga pernah memiliki seorang istri. Bila bisa, saya ingin melindungi dan menjaganya lebih lama, tapi takdir tidak menghendaki," jelas Praba.
"Wah, Nak Praba ini memang luar biasa. Lantas ... kenapa Nak Praba tidak menikah lagi?" tanya Pak Darmawan lagi.
"Mungkin karena saya memang belum bertemu dengan jodoh, Pak," sahut Praba sambil mengurai senyum tipis.
"Oh ... kalau begitu kami doakan semoga disegerakan bertemu dengan jodohnya," ujar Pak Darmawan sambil melepas tawa.
Praba turut menyambut tawa itu dengan senyuman ringannya sambil melirik ke arah Calya. Namun, wanita yang mendapat lirikan itu tak menampakkan ekspresi apa pun.
Calya tak tahu harus menanggapi hal itu dengan reaksi seperti apa. Hubungan dirinya dengan lelaki itu hanya sebatas pertemanan. Dia pun tak ingin berandai-andai untuk hal yang lebih jauh. Keadaannya yang sedang mengandung kini sudah pasti menjadi pertimbangan untuknya.
***
Cling. Sebuah pesan masuk ke gawai Calya Minggu pagi ini. Wanita itu baru saja usai mandi pagi dan sedang berada di kamarnya.
[Hari ini kamu libur kan?]
[Iya.] balas Calya singkat.
Setiap dua minggu sekali, dia memang mendapat jatah libur sehari.
[Jalan-jalan yuk]
[Ke mana?]
[Ke kebun binatang]
[Ngapain?]
[Lihat teman-teman kamu.]
Kali ini, Calya tak hanya tersenyum, tetapi juga tertawa.
[Saya jemput sekarang ya.] Belum juga Calya membalas pesan yang tadi, Praba sudah mengirim pesan susulan.
[Oke.]
Persetujuan Calya tentu saja menggerakkan Praba untuk segera memacu motornya menuju ke rumah Calya, mengajaknya untuk menikmati hari libur di kebun binatang Gembira Loka.
Kedua orang tua Calya tentu saja melepas kepergian putri mereka dengan senyuman bahagia. Mereka seakan tahu dan turut merasakan kenyamanan Calya berada di sisi lelaki itu.
Di kebun binatang, Calya dan Praba berjalan-jalan sambil melihat hewan-hewan yang ada di sana. Sesekali mereka akan saling mengejek, membandingkan satu sama lain dengan hewan yang ada di sana.
Setelah berjalan beberapa meter, Praba pasti akan meminta Calya untuk duduk dan beristirahat. Seperti yang sedang mereka lakukan saat ini.
__ADS_1
"Capek?" tanya Praba.
"Lumayan, tapi senang," sahut Calya.
"Senang karena bertemu teman-teman ya?" ledek Praba.
"Hmm ... senang karena ini pertama kalinya saya ke kebun binatang," ujar Calya.
"Pertama kali?" tanya Praba memastikan.
"Iya ... waktu kecil kalau nonton tv dan melihat kebun binatang, saya ingin sekali ke situ. Tapi, di kota kami kan tidak ada yang namanya kebun binatang," jawab Calya.
"Lantas setelah menikah? Kamu kan pasti pernah diajak sama Dirga ke Pulau Jawa, kenapa tidak minta diajak ke kebun binatang?" cecar Praba.
Calya terdiam sejenak lalu menggeleng. "Dirga tidak pernah mau kalau saya minta diajak ke kebun binatang. Katanya, ngapain ke tempat yang cuma mau lihat hewan saja, masih banyak tempat lain yang lebih menarik."
"Hmm ... berarti saya adalah orang yang telah mewujudkan mimpi kamu," gumam Praba.
"Em ... iya sih. Terima kasih ya," ujar Calya.
"Cuma terima kasih?" tantang Praba.
"Lalu? Mau apa?" tanya Calya.
Praba berpikir sejenak, lalu mengangkat telunjuknya dan mengarahkan ke pipinya.
"Hah? Gila kamu!" pekik Calya.
"Lha ... memangnya apa?"
"Kamu minta dicium kan?"
"Memangnya saya bilang begitu?"
"Lha itu tunjuk-tunjuk ke pipi?" Calya memanyunkan bibirnya karena kesal.
"Ya ampun, ini tunjuk ke pipi artinya pipi saya gatal, pengen digarukin," ujar Praba sambil tertawa.
"Ntar saya panggilkan monyet dulu untuk bantu garuk ya," sahut Calya.
"Iya, tapi monyetnya kamu," celetuk Praba, membuat Calya berang dan memukul lengan Praba.
Mendapat serangan itu, sambil tertawa Praba mencoba menangkap tangan Calya. Akan tetapi, tepat di saat ia memegang tangan Calya, tenaganya yang lebih besar justru menarik tubuh wanita itu ke dalam dekapannya.
Menyadari tubuhnya telah terengkuh, Calya melempar pandangannya pada Praba. Hal yang sama dilakukan oleh pria itu. Alur mata mereka telah bertemu kini.
"Praba ... lepaskan saya ...," desis Calya.
Membuat lelaki itu tersentak dan perlahan melonggarkan rengkuhannya.
"Em ... maaf," ujar Praba.
__ADS_1
"Lebih baik kita lanjut saja, yuk!" ajak Calya.
Praba pun menyetujuinya. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan mengelilingi kebun binatang itu.