Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Menerima Kenyataan


__ADS_3

"Em ... rupanya ada tamu ya?" ujar Praba sambil menghampiri Bu Edy dan Pak Edy, kemudian menjabat tangan mereka.


Terlihat gurat tanya di kedua wajah para tamu itu. Tentu saja mereka sedang bertanya-tanya tentang sosok laki-laki yang baru saja menyalami mereka itu.


"Bapak dan Ibu orang tua Dirga ya?" ucap Praba setelah ikut duduk.


Pak Edy dan Bu Edy mengangguk.


"Mas ini ...."


"Saya Praba, rekan kerja Dirga," ucap Praba, menuntaskan tanya Pak Edy.


"Oh ... lalu, bagaimana bisa tinggal bersama Calya di sini?" tanya Bu Edy.


"Iya, kami menyewa rumah ini bersama. Selain Calya, ada adiknya juga yang memang sedang kuliah di sini. Ibu dan Bapak pasti kenal juga dengan Myesha kan?" ujar Praba.


"Oh ... iya, Nak Myesha ya. Apa kuliahnya belum selesai?" tanya Bu Edy.


"Belum, Bu," sahut Calya.


"Oh iya, di sini Calya dan Myesha juga membuka usaha kuliner. Mereka berdua memang pekerja keras. Sekarang usaha itu berjalan lancar dan menghasilkan keuntungan yang bagus," ucap Praba lagi.


Tentu saja pria itu bermaksud untuk menuturkan bahwa hidup Calya baik-baik saja pasca perceraian itu. Bahwa wanita yang dulu pernah mereka remehkan, bukanlah wanita lemah yang hanya bergantung pada suaminya.


"Nak Praba sendiri ... apa belum menikah?" tanya Bu Edy pada Praba.


"Kebetulan saya seorang duda, Bu. Istri saya sudah lebih dulu kembali pada Yang Kuasa," sahut Praba.


"Oh ... maaf, Nak. Berarti sekarang Nak Praba pun sendiri?" tanya Bu Edy lagi.


"Iya, begitu lah, Bu."


"Lalu ... kenapa kalian berani tinggal serumah? Apa tidak malu dengan omongan tetangga?" lanjut Bu Edy.


"Apa ... ada tetangga kami yang keberatan, Bu?" tanya Praba.


"Em ... bukan begitu, maksud saya, etikanya kan laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim tidak boleh tinggal bersama," ucap Bu Edy.


"Ya ... etikanya memang seperti itu. Sama seperti etika seorang suami pada istrinya, atau seorang mertua pada menantunya yang harusnya seperti apa. Ya, tapi karena beberapa hal, etika itu terpaksa harus dilanggar. Seperti saya yang terpaksa melanggar etika karena panggilan kewajiban untuk menjaga dia," ujar Praba sambil melirik ke arah Calya.

__ADS_1


"Menjaga?" tanya Bu Edy.


"Iya, seperti yang Ibu lihat sekarang, mantan menantu Ibu ini sedang hamil. Ia terpaksa menjadi janda tanpa mendapatkan apa pun dari mantan suaminya. Ia keluar dari rumah dengan paksaan, tanpa dikembalikan secara baik-baik pada orang tuanya. Saya merasa terpanggil untuk menjaganya dan juga anak yang sedang dikandungnya," ujar Praba.


Mendengar perkataan Praba, Pak Edy dan istrinya kembali saling berpandangan. Mereka menyadari bahwa. Mereka menyadari bahwa Praba sedang menyindir apa yang pernah mereka lakukan pada Calya.


"Sejauh apa hubungan kalian?" tanya Bu Edy lagi.


"Sejauh apa yang Ibu lihat sekarang," jawab Praba.


"Dia kah yang tadi Nak Calya maksudkan sebagai penghuni hati Nak Calya yang baru?" tanya Bu Edy pada Calya.


Calya termangu. Sejenak ia menatap mantan ibu mertuanya itu, kemudian berpaling pada Praba. Lelaki itu menangkap lemparan pandangan Calya dan mencengkeram alur mata itu dengan tatapannya.


Calya menyadari, ada sebuah permohonan dari tatap mata Praba. Permohonan agar wanita itu memberikan jawaban yang menenangkan baginya.


"Ibu tidak perlu tahu siapa sosok yang Calya maksud. Yang pasti, Calya sudah bahagia dengan hidup Calya saat ini. Dan ... Calya tidak pernah berniat untuk kembali pada masa lalu," sahut Calya.


Mendengar jawaban Calya, Bu Edy terdiam sejenak. Ia menyadari telah mendapatkan penolakan dari mantan menantunya itu.


Mengapa penyesalan selalu ada di belakang? Mengapa keegoisan tak pernah dipikirkan akibatnya kelak?


Seperti ambisi yang pernah ada pada kedua orang tua Dirga untuk memiliki keturunan, yang mereka yakini hanya akan diberikan oleh Haira, tanpa pernah mempedulikan perasaan Calya dahulu, seperti itu lah kini mereka harus merasakan keadaan yang terbalik. Keturunan itu rupanya akan diberikan oleh wanita yang pernah mereka ragukan kesempurnaannya.


"Maafkan kami, Nak. Maafkan kami ...." Bu Edy berkata dengan tersengal karena tak bisa menahan sesak di dadanya. Sesak yang timbul karena perasaan sesalnya yang sudah tak terbendung.


"Tidak, Bu. Calya sudah bilang, tak ada yang perlu dimaafkan. Hanya saja untuk bisa memenuhi keinginan Ibu dan Bapak, Calya tidak bisa." Calya mencoba untuk menenangkan Bu Edy.


"Baiklah, Nak. Kalau begitu kami pergi dulu. Tolong berikan kabar atas apa pun yang terjadi pada kehamilanmu. Kami berharap, bisa ada saat kelahiran cucu kami nanti," ujar Bu Edy.


"Iya, Bu. Tentu saja, akan Calya kabari."


Sepasang suami-istri itu pun berpamitan dan kembali ke rumah depan.


***


Setelah kepergian Bu Edy dan Pak Edy, Praba menatap manis pada Calya.


"Terima kasih ya," ujar Praba.

__ADS_1


"Untuk apa?" tanya Calya.


"Untuk tidak mencintai mantan suamimu lagi," jawab Praba.


"Hah?"


"Ya, terima kasih karena hanya ada satu sosok di hatimu."


Calya menyunggingkan senyum heran.


"Maksud kamu apa?"


"Em ... saya memang tidak meminta pengakuan sekarang. Kurang romantis kalau pengungkapannya dalam suasana begini. Nanti, si tempat yang indah, semua pasti akan terjadi," ujar Praba.


"Apaan sih?" gerutu Calya sambil berdiri dan berlalu masuk ke ruangan dalam.


Sementara itu, Praba hanya menyunggingkan senyum sambil memandang kepergian Calya. Ia sangat yakin kalau yang dimaksud Calya pada kedua mertuanya tadi, bahwa ia sudah menyimpan cinta untuk laki-laki yang lain adalah dirinya.


Praba meyakini bila benih-benih cinta memang telah bersemai di hati Calya untuknya. Hanya tinggal menunggu waktu untuk memetik bunga cinta itu saja.


***


Dua hari dirawat di rumah sakit, Haira pun diperbolehkan untuk pulang. Dirga masih setia menemani wanita itu hingga kini membawanya kembali ke rumah.


Di rumah itu, Bu Edy yang mengambil alih pekerjaan rumah untuk sementara karena Haira masih beristirahat untuk kepulihan totalnya.


Sang ibu mertua itu juga yang menyiapkan makanan untuk menantunya. Pertemuannya dengan Calya telah menyadarkan akan sesuatu. Menyayangi apa pun yang sedang dimiliki. Jangan sampai penyesalan menjadi akhir yang tak diharapkan lagi.


Mereka sudah memilih Haira menjadi pendamping hidup Dirga. Jadi, apa pun yang ada pada wanita itu kini, mereka harus tetap menerimanya.


"Haira ... maafkan Ibu ya atas kejadian tempo hari. Jangan pikirkan lagi, Ibu dan Bapak akan tetap sayang padamu," ujar Bu Edy sambil menyerahkan nampan berisi makanan untuk Haira.


Haira terdiam sejenak sambil menatap wajah ibu mertuanya itu. Dalam hati ia bertanya-tanya, apa yang telah terjadi selama ia berada di rumah sakit.


"Apakah Ibu akan memastikan kalau Dirga tidak akan meninggalkan Haira?" tanya wanita itu kemudian.


Bu Edy menarik sehela napas lalu berkata, "Ya, Ibu memastikan hal itu."


***

__ADS_1


__ADS_2