Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Dilema


__ADS_3

Setelah beberapa hari menunggu, Dirga tak jua datang. Haira mulai gelisah. Diraihnya telepon genggamnya untuk menghubungi Bu Edy, ibu mertuanya.


"Halo, Bu ...." sapa Haira.


"Iya, Sayang ...." jawab Bu Edy.


"Dirga belum datang juga ya?"


"Hmm ... mungkin dia masih banyak pekerjaan."


"Apa jangan-jangan ... ada yang melarangnya untuk datang?"


"Melarang? Hmm ... iya juga ya. Kalau begitu Ibu harus mengambil tindakan!" tegas Bu Edy.


"Tindakan?" tanya Haira memastikan.


"Iya, Ibu sudah memutuskan. Kamu tenang saja di sini, dan yang terpenting jaga baik-baik kesehatanmu dan juga kandunganmu. Ibu pastikan semua akan beres dan Dirga akan kembali padamu."


Ucapan Bu Edy membuat Haira merona walaupun ia belum tahu secara pasti apa yang akan dilakukan oleh ibu mertuanya itu. Namun ia yakin bahwa keberuntungan akan berpihak padanya.


***


Suara deru mobil yang berhenti di depan rumah membuat Calya beranjak untuk keluar. Seorang wanita paruh baya turun dari mobil itu sembari menenteng sebuah tas. Setelah membayar sewa mobilnya, wanita itu beranjak menuju rumah dinas yang ada di hadapannya.


Calya mengamati wanita itu sampai benar-benar dekat dan ia yakin bahwa yang datang adalah orang yang dikenalinya.


"Ibu?" Calya berlari kecil menghampiri tamunya.


Sesampai di dekat wanita itu ia segera meraih tangannya dan menciumi. Juga mengambil alih barang bawaan wanita yang adalah ibu mertuanya itu.


"Dirga mana?" tanya Bu Edy.


"Jam segini masih di kantor, Bu. Tapi sebentar lagi pulang kok. Mari masuk saja dulu, Bu," sahut Calya.


Setelah sampai di ruang tamu, Bu Edy duduk di kursi yang ada di situ. Calya bergegas ke dapur membuat minuman untuk ibu mertuanya.


"Kok Ibu tidak telepon dulu kalau mau datang? Dan kenapa tiba-tiba, apa ada hal yang penting, Bu?" tanya Calya setelah menghidangkan minuman di meja dan ikut duduk.


"Ibu sudah menyuruh Dirga untuk pulang ke Surabaya, tapi sampai tiga hari menunggu dia tak juga datang. Jadi ... Ibu yang memutuskan ke sini untuk menjemputnya," tandas Bu Edy.

__ADS_1


"Oh ya? Tapi ... Dirga tak pernah bilang bila Ibu menyuruhnya pulang. Memangnya ada hal apa sampai-"


"Ini masalah keluarga kami dan sangat penting," sahut Bu Edy memotong ucapan Calya.


"Masalah keluarga? Calya juga kan keluarga Ibu. Kalau Calya tahu ada hal keluarga yang penting, Calya pasti akan mengingatkan Dirga untuk pulang," gumam Calya.


"Tidak semua masalah internal keluarga itu melibatkan menantu," tutur Bu Edy.


Calya tertegun, tak mengerti dengan maksud ucapan ibu mertuanya itu. Seingatnya, dahulu ibu suaminya sangatlah lembut padanya. Calya masih ingat bagaimana wanita itu menyambutnya dengan hangat saat pertama kali masuk ke dalam keluarga Edy Sudrajat. Juga bagaimana ia selalu memuji-muji kecantikan dan kemahiran Calya sebagai seorang wanita.


***


Calya sedang berada di dapur untuk menyiapkan makan malam saat Dirga pulang. Sementara Bu Edy duduk di kursi ruang tamu.


"Bu? Kenapa Ibu bisa ada di sini?" tanya Dirga bingung.


Bu Edy berdiri lalu berkata, "Ibu mau menjemputmu, kita ke Surabaya besok pagi."


"Apa?"


"Kenapa kamu tidak menurut perintah Ibu? Apa kamu lebih takut sama istrimu itu daripada sama Ibu?" bentak Bu Edy.


"Bu ... sudah Dirga katakan kalau Dirga sedang banyak pekerjaan," sahut Dirga.


"Masa depan Dirga ada di sini, Bu. Bersama Calya ...."


"Halah! Masa depan apa yang kau harapkan darinya? Perempuan mandul itu ...."


"Bu!" Dirga menghentak.


"Apa?! Itu kenyataannya kan? Dia tak bisa memberimu keturunan. Masa depanmu ada pada Haira. Haira lah yang akan memberimu kebahagiaan, juga orang tuamu. Haira sedang mengandung anakmu, kau harus ingat itu, Dirga!"


Prang! Prang! Prang!


Piring yang dipegang Calya lepas dari tangannya. Saat Bu Edy mengucapkan perkataannya, Calya sedang menuju ke ruang tamu sembari membawa piring berisi kue untuk mertuanya.


Wajah Calya memucat. Bibirnya bergetar. Kakinya terasa lemah. Namun ia berusaha melangkah, maju lebih dekat pada suami dan ibu mertuanya.


"A- apa maksud Ibu?" tanya Calya lirih.

__ADS_1


Dirga menghampiri Calya, mencoba memegang tangannya.


"Berhenti, Ga! Berhenti ... jangan sentuh saya dulu .... Bu ... katakanlah siapa yang sedang mengandung anak Dirga, suamiku ini?" lanjut Calya sembari menahan gerak Dirga dengan tangannya.


"Baiklah, kamu pun memang harus tahu. Jadi ... Dirga akan memiliki anak dari Haira. Yang artinya akan menjadi penerus keluarga Edy Sudrajat," ujar Bu Edy lugas.


Calya menahan napas, sejenak ia berpaling pada Dirga. "Kamu melanggar janji, Ga?" Suara Calya memarau.


Dirga hanya terdiam, tak mampu memberi jawaban apapun. Nyatanya, ia memang telah melanggar janji, bahkan bertubi-tubi.


"Jawab, Ga!" Calya memekik.


"Maafkan saya, Cal ...."


"Brengsek kamu, Dirga!" Calya menampar wajah Dirga.


"Hentikan!" Bu Edy membentak.


Calya menoleh pada ibu mertuanya. "Kenapa, Bu? Apa saya tidak boleh marah pada suami saya yang sudah melanggar janji ini?"


"Persetan dengan janji kalian! Itu tidak lah penting! Yang terpenting adalah Haira sudah melakukan tugasnya sebagai seorang istri yaitu memberikan keturunan. Sementara kamu? Apa yang bisa kamu lakukan?" Bu Edy membentak Calya.


"Apakah Ibu lupa? Bagaimana Ibu dan Bapak meminta Calya pada orang tua Calya? Anak adalah hak Tuhan, kami hanya bisa berusaha. Mengapa Ibu menyalahkan Calya untuk hal yang bukan kuasa Calya? Ibu meminta Calya sebagai istri putra Ibu dengan baik-baik. Mengapa sekarang memperkarakan kehadiran Calya yang Ibu anggap tak berguna?" Calya bergumam, air matanya tak tertahankan kini. Tumpah membanjiri wajahnya.


"Sudahlah! Mungkin melamarmu adalah kesalahan terbesar kami." Bu Edy memalingkan wajahnya dari Calya.


"Apa?" Suara Calya menyendu.


"Dirga, sekarang kamu harus memilih, Haira sekaligus anak dan orang tuamu, atau perempuan itu?" Bu Edy berucap pada putranya.


"Apa? Tidak, Bu, itu tidak mungkin ...." Dirga mendengus.


"Pilihlah! Bila memang kau memilih perempuan tak berguna ini, Ibu akan pergi sekarang juga!" bentak Bu Edy lagi.


"Bu ... ini sudah malam ...." Dirga memohon pada ibunya.


"Biarkan saja, Ibu tak peduli. Ayo cepat, sekarang pilihlah!


Dirga melemas. Sebuah pilihan sulit kembali dihadapinya. Calya dan ibunya adalah dua wanita yang dicintainya.

__ADS_1


Siapakah yang harus dipilihnya?


***


__ADS_2