
Pagi ini, wanita berparas cantik itu tengah mematut diri di depan cermin. Penampilannya telah rapi. Hijab pashmina telah tersemat menutup kepalanya.
Tak ada yang bisa menghalanginya kini. Sebuah keputusan telah final diambilnya. Dokumen yang ada di atas meja kini tuntas masuk ke dalam tas tangannya.
Haira melangkah meninggalkan kamar penginapan. Menuju ke lobby hotel.
"Ini pembayaran sewa mobilnya," ucap Haira pada seorang resepsionis.
"Baik, Bu. Ini kunci mobilnya," sahut resepsionis itu sembari menyerahkan sebuah plat besi kecil yang terkait dengan gantungannya.
Haira meraih benda itu lalu melangkah menuju halaman luar penginapan. Tempat terparkirnya mobil yang disewakan oleh pihak penginapan.
Bergegas, ia mengendarai kendaraan roda empat itu menuju ke tempat yang menjadi sasaran misinya. Kantor Dirga.
Kantor pemerintahan pusat itu tampak lenggang. Mungkin karena masih terlalu pagi. Beberapa orang sekuriti tampak berjaga di meja penerimaan tamu.
"Ibu mau bertemu siapa?" tanya salah seorang setelah Haira berdiri di hadapan mereka.
"Pimpinan kantor ini," jawab Haira.
"Ibu siapa dan ada keperluan apa?"
"Saya istri Pak Dirga."
"Pak Dirga?"
"Iya, Dirga Mahendra."
"Hah? Apa tidak salah, Bu? Kami tahu persis yang mana istri Pak Dirga.
"Saya istri keduanya."
Kedua sekuriti itu saling berpandangan. Tentu saja ada gurat tanya dalam sorot mata mereka.
"Sebentar ya, Bu. Saya menghadap pimpinan dulu untuk meminta persetujuan beliau, bersedia atau tidak menemui Ibu."
Haira mengangguk. Sementara seorang sekuriti sudah berjalan memasuki area dalam kantor.
Di dalam ruangan sang kepala kantor, sekuriti itu menyampaikan tentang kedatangan seorang wanita yang mengaku sebagai istri kedua Dirga. Tanpa berpikir lama, ia memerintahkan agar wanita itu diperhadapkan padanya.
__ADS_1
"Bu, mari ikut saya ke dalam ruangan Pak Bambang," ujar si sekuriti setelah keluar menemui Haira kembali.
"Pak Bambang?" tanya Haira.
"Iya, kepala kantor ini," jawab sekuriti itu.
Haira mengangguk lalu berjalan mengikuti langkah sekuriti itu. Hingga sampai di depan sebuah ruangan, sekuriti itu membuka pintu dan mempersilakan Haira untuk masuk. Setelah itu kembali menutupnya dan berlalu menuju ke meja penjagaan lagi.
"Selamat pagi, Bu. Saya Bambang, kepala kantor ini. Apa ada yang bisa saya bantu?" sapa Pak Bambang setibanya Haira di ruangannya.
Haira mengulurkan tangan pada Pak Bambang.
"Saya Haira Permatasari, istri Dirga Mahendra, pegawai di kantor ini."
"Sebelumnya silakan duduk dulu," ujar Pak Bambang sambil mengarahkan tangannya ke sebuah kursi di hadapan mejanya.
Haira pun duduk di situ. Sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya.
"Bapak pasti kaget mendengar bahwa saya adalah istri Dirga kan?"
"Ya, tentu saja. Yang kami ketahui, istri Pak Dirga bernama Calya Janalin. Dan ... kami pun mengenalinya," sahut Pak Bambang.
"Ya, memang benar karena saya adalah istri kedua Dirga. Kami menikah beberapa bulan yang lalu. Pernikahan atas persetujuan dari istri pertamanya. Kedua orang tua kami pun menghadiri acara pernikahan itu. Saya membawa bukti-buktinya."
Pak Bambang meraih foto-foto itu, sejenak mengamatinya. Memastikan bila yang ada di gambar itu memang lah benar pegawainya.
"Dirga menikahi saya untuk memperoleh keturunan yang tidak bisa diberikan oleh istrinya. Dan ... sekarang saya sedang mengandung anak Dirga, buah pernikahan kami. Ini adalah buktinya." Haira kembali mengeluarkan sesuatu dari dalam amplop.
Kali ini, lembar hasil pemeriksaan kehamilan serta foto USG janinnya. Pak Bambang kembali menerima dan mengamatinya.
"Lalu ... apa tujuan Ibu ke sini dan memperlihatkan semua ini pada saya?" tanya Pak Bambang.
"Saya hanya ingin menuntut keadilan. Sebelum istri pertama Dirga datang ke sini dan melaporkan yang tidak-tidak, saya merasa perlu untuk datang dan menyampaikan yang sebenarnya. Anak yang sedang saya kandung ini sangat diharapkan oleh Dirga dan orang tuanya. Sementara, Calya tak bisa memberikannya dan sekarang dia sedang menyimpan sakit hati pada saya. Saya hanya takut bila dia berusaha menyingkirkan saya, dan melaporkan saya sebagai wanita perebut suaminya. Padahal, kenyataannya Dirga menikahi saya tanpa keterpaksaan, tetapi karena benar-benar mencintai saya yang adalah mantan kekasihnya. Selain itu, karena Dirga juga sangat mengharapkan keturunan." Haira menjelaskan panjang lebar. Segurat ekspresi dibuatnya sedemikian rupa sehingga siapa pun yang melihatnya akan yakin dan percaya dengan penuturannya.
"Hmm ... saya akan memanggil Dirga dan mempertemukan dengan Ibu agar semuanya benar-benar jelas," ujar Pak Bambang.
"Baiklah, Pak," sahut Haira.
Tak lama kemudian, Pak Bambang mengangkat telepon dan menghubungi seseorang yang tak lain adalah Dirga. Beberapa menit kemudian, pria itu pun mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan pimpinannya.
__ADS_1
"Permisi, Pak."
"Ya, Pak Dirga mari silakan duduk," gumam Pak Bambang.
Dirga melangkah menuju kursi di depan meja Pak Bambang. Namun, sejenak ia menoleh pada wanita yang juga duduk di situ. Dan setelahnya, bisa dipastikan bagaimana reaksi Dirga. Terkejut.
"Haira?"
Wanita yang namanya disebut itu hanya mengurai senyum sinis di tepi bibirnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Dirga lagi.
"Pak Dirga ... duduk lah dulu," ujar Pak Bambang lagi.
Dirga pun menuruti perintah atasannya itu. Duduk di samping Haira.
"Bu Haira datang ke sini dan mengaku sebagai istri kedua Pak Dirga. Benarkah demikian?" tanya Pak Bambang.
Dirga terbelalak. Seakan tengah dihujam sebilah pedang yang siap menusuk jantungnya. Ia tak menyangka bila Haira akan melakukan hal sejauh ini.
"Jawablah Pak Dirga, agar tak ada fitnah dalam perkara ini." Gumaman Pak Bambang menyentakkan Dirga yang masih bergeming.
"Ya, itu benar, Pak," jawab Dirga perlahan.
"Katanya, pernikahan ini atas persetujuan istri pertama Anda?" tanya Pak Bambang lagi.
Dirga kembali diam sesaat sebelum kembali mengangguk. "Iya, Pak."
"Apakah benar pernikahan ini karena untuk mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan oleh istri pertama Pak Dirga?" tanya Pak Bambang lagi.
Namun, kali ini pertanyaan itu mengundang kemarahan di hati Dirga. Sebabnya adalah karena Haira telah mengatakan kebohongan tentang alasan pernikahan mereka terjadi.
"Tidak, itu ti-"
Belum juga Dirga menyelesaikan ucapannya, terdengar suara raungan dari wanita itu di sampingnya. Haira sesenggukan di tengah isak tangisnya.
"Bu Haira, tenang lah. Mengapa Ibu menangis seperti itu?" ucap Pak Bambang yang juga kebingungan melihat yang terjadi pada Haira.
"Susah saya katakan, Pak. Saya datang untuk menuntut keadilan. Saya menuntut hak saya yang juga sebagai istri. Saya tidak mau hanya dijadikan tempat pembuatan anak lalu dibuang begitu saja," ucap Haira sambil terus terisak.
__ADS_1
Dirga tergugu melihat sandiwara yang sedang dilakukan oleh Haira. Ia tak pernah menyangka bila Haira menjadi senekat ini. Terlebih memojokkan Calya di depan pimpinannya.
"Haira ... inikah balasanmu untuk pengorbanan yang aku dan Calya berikan?" Dirga bergumam pelan pada Haira. Namun wanita itu berpura-pura tak mendengar dan mengeraskan suara tangisnya.