Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Berubah


__ADS_3

Kehamilan Calya sudah memasuki bulan ke sembilan. Artinya, sebentar lagi saat yang dinanti akan tiba. Hari ini, Calya pun menelepon kedua orang tuanya untuk mengabarkan hal itu.


"Halo, Bu," sapa Calya, mengawali panggilannya.


"Halo, Sayang, bagaimana kabar kalian di sana?" sahut sang ibu.


"Baik, Bu. Ibu dan Bapak sendiri bagaimana?" tanya Calya.


"Alhamdulillah, baik, Nak. Bagaimana kandunganmu?" tanya Bu Darmawan lagi.


"Sudah masuk bulan ke sembilan, Bu. Dokter bilang HPL-nya dua mingguan lagi. Ibu dan Bapak jadi ke sini kan?" ujar Calya.


"Iya, Nak. Ibu dan Bapak pasti akan ke sana. Tapi mungkin baru bisa minggu depan ya, soalnya Ibu harus memastikan kalau keadaan Bapak sudah benar-benar pulih dan siap untuk bepergian jauh," jelas Bu Darmawan.


"Lho ... bukannya Ibu tadi bilang kalau Bapak dan Ibu baik-baik saja?" Calya mulai gusar mendengar ucapan ibunya tentang kondisi sang ayah.


"Em ... iya Bapak baik-baik saja. Hanya beberapa waktu yang lalu, Bapak jatuh waktu bantuin Ibu beres-beres rumah."


"Apa? Jatuh? Bagaimana bisa, Bu? Lalu apa yang terjadi?" tanya Calya bertubi-tubi.


"Iya, Nak. Bapak jatuh dari kursi, lalu pingsan. Terus waktu Ibu teriak minta tolong, untung saja Nak Raindra dengar, lalu datang dan membawa Bapak ke rumah sakit."


"Raindra? Ibu bilang Raindra?"


Mendengar tanya Calya, Bu Darmawan seketika tersadar bahwa ia telah menyebut nama seseorang yang akan membuat Calya terkejut.


"Em ... iya, Nak. Jadi ... sudah beberapa minggu ini, Nak Raindra tinggal di depan rumah kita. Dia sudah kembali ke kota ini, lalu buka usaha warung kopi di rumah barunya yang dibeli di depan rumah kita itu," jelas Bu Darmawan.


"Raindra ... kembali ke sana?" desis Calya.


"Iya, Nak. Awalnya kami juga kaget. Tapi Nak Raindra memang masih seperti yang dulu, dia masih baik dan suka membantu. Ibu bersyukur dia jadi tetangga kita karena dia jadi sering membantu Ibu dan Bapak."


"Oh ... em ... sampaikan salam Calya padanya, Bu. Dan ... juga terima kasih."


Setelah mengobrol beberapa lama, Calya pun mengakhiri telepon itu. Dia sedikit tertegun karena mengingat obrolan tentang Raindra. Calya tahu bila Raindra adalah laki-laki yang baik. Dia memang selalu begitu sejak dulu, tak sungkan menolong orang lain.


Calya kembali berpikir, mengapa Raindra bisa pindah ke sana? Apakah ada hubungannya dengan kejadian penolakan cintanya? Calya pun bertanya-tanya di benaknya, bagaimana dengan usaha miliknya di sini, dan juga bagaimana hubungannya dengan Anela?

__ADS_1


Sampai saat Myesha masuk ke dalam kamar, Calya pun tersentak.


"Mbak melamun ya?" tanya Myesha.


"Eh ... kamu sudah pulang? Ini ... Mbak baru saja teleponan sama Ibu," sahut Calya.


"Oh ... bagaimana keadaan mereka, Mbak?"


"Ibu bilang, Ayah habis jatuh," jawab Calya.


"Hah? Kapan?"


"Beberapa hari yang lalu. Katanya ... untung ada Raindra yang membantu."


"Raindra ... Mas Raindra?" tanya Myesha memastikan bila yang dimaksud adalah mantan kekasih sang kakak.


Calya mengiyakan, lalu menceritakan apa yang diberi tahu oleh ibu mereka tadi.


Mendengar hal itu, Myesha pun berniat untuk mencari tahu tentang hal itu di Rain and Snow Cafe. Terlebih tentang alasan Raindra meninggalkan kota ini.


***


Setelah berbasa-basi sejenak, Myesha pun mulai mencari tahu tentang Raindra.


"Ra ... saya dapat kabar kalau Pak Raindra sudah tidak di sini ya?" tanya Myesha.


"Iya, Sha. Tadinya kafe ini diserahkan ke Bu Anela, teman dekat Pak Raindra itu. Tapi sekarang Bu Anela juga malah menyerahkan kafe ini untuk diurus sama adiknya, Bu Aliya. Terus katanya, Bu Anela juga pindah ke Sulawesi," jawab Rara.


"Sulawesi?" tanya Myesha memastikan.


"Iya ... gosipnya sih dia nyusul Pak Raindra ke sana. Soalnya Bu Anela kan cinta setengah mati sama Pak Raindra. Tapi jangan bilang-bilang lho ya, itu cuma gosip di kalangan pegawai sini sih," sahut Rara.


Myesha merasa informasi yang didapatnya sudah cukup. Dia pun berpamitan pada Rara, dan kembali ke rumah.


***


Di rumah depan, Haira yang sudah bisa beraktivitas lagi, mulai melakukan pekerjaan rumah seperti biasa. Kedua mertuanya masih berada di sana. Pak Edy dan Bu Edy memang memutuskan untuk tetap di sana sampai cucu mereka yang sedang dikandung oleh Calya lahir.

__ADS_1


"Nak Haira mau ngapain?" tanya Bu Edy saat melihat Haira berada di dapur.


"Masak, Bu. Ibu kan sudah repot beberapa hari ini. Sekarang biar Haira yang melakukannya," ujar Haira.


"Kamu yakin bisa melakukannya, Nak?" tanya Bu Edy memastikan.


Sesaat, Haira menoleh pada ibu mertuanya itu.


"Haira ... akan berusaha mempantaskan diri sebagai seorang istri, Bu. Haira tahu, selama ini Haira tak pernah melakukan tugas seorang istri dengan baik," ujar Haira.


Bu Edy tertegun mendengar pernyataan menantunya itu. Namun, ia sangat menghargai niatan Haira untuk menjadi seperti itu.


Sampai saat waktu makan malam, dan semua orang sudah berada di ruang makan, Haira pun telah menghidangkan hasil masakannya.


"Apa yang kamu masak, Nak?" tanya Bu Edy.


"Ini, Bu, Haira bikin tumis kangkung, ayam goreng, dan sambal terasi," sahut Haira.


"Em ... kelihatannya enak ini. Ayo Pak, Dirga ... kita cicipi," ujar Bu Edy.


Haira pun merasa senang karena ibu mertuanya menyambut hasil masakannya dengan reaksi seperti itu.


Setelah mereka makan, ungkapan pujian pun diterima oleh Haira.


"Wah ... rasanya benar-benar enak lho, Nak," ujar Pak Edy.


"Bagaimana, Dirga?" tanya Bu Edy pada putranya.


Dirga mengangguk. "Iya, enak."


Haira mengurai senyum. Seharian tadi dia memang berusaha untuk memasak dengan baik meski sambil melihat resep. Ia tak ingin gagal lagi menjadi seorang istri. Bagaimana pun, Haira harus membuat Dirga tetap mempertahankan dirinya sebagai pendamping hidup. Meski tanpa kesempurnaan sebagai seorang wanita, ia ingin tetap menjadi layak untuk disebut sebagai seorang istri.


Begitulah hidup. Dalam perjalanannya akan ada banyak peristiwa yang bisa merubah tabiat. Sebuah karma mungkin harus terjadi untuk bisa melunturkan keegoisan dan kesombongan. Selanjutnya, menjadi pilihan dari manusia itu sendiri untuk melakukan perubahan atau tidak.


Mungkin, seperti itulah yang kini terjadi pada Haira. Dia sedang mencoba melalui karma dengan sebuah perubahan dalam hidupnya. Bila selama ini dia merasa diri berada di atas langit, maka sekarang dia akan belajar untuk menginjak bumi.


Perlahan, bulir bening di mata indah milik Haira menetes. Ada keharuan yang dirasakannya saat melihat sang suami dan mertua memakan masakannya dengan lahap.

__ADS_1


Begini kah rasanya menjadi seorang istri yang sejati? Bahagianya sungguh tak terkira.


Haira bergumam lirih di dalam sanubarinya ....


__ADS_2