Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Jebakan Madu


__ADS_3

Mendengar ketukan pintu, Calya bergegas membukanya. Meskipun ia agak bingung siapa yang datang pagi-pagi begini.


"Ya, sebentar!" seru Calya dari dalam rumah.


"Kamu?!" Roman muka Calya tampak kaget melihat sosok di hadapannya. "Mau apa lagi ke sini?"


"Aku hanya mau bersilahturahmi. Apa aku tak boleh masuk?" gumam Haira.


Calya memandangi wajah wanita di depannya itu dengan seksama.


"Silakan," sahutnya kemudian. Meski di dalam hati, ia menaruh kecurigaan.


"Nyaman juga tempat tinggal kalian," gumam Haira sembari berjalan dan mengamati setiap sisi ruang tamu itu.


Calya hanya terdiam dan memperhatikan wanita yang adalah madunya itu.


"Kota ini memang kecil, rumah ini juga kecil, tetapi dalam suasana seperti ini, seharusnya pasangan yang tinggal di sini berbahagia," ujar Haira lagi.


"Ya, tentu saja. Aku dan Dirga selalu hidup berbahagia. Jauh lebih berbahagia lagi sebelum cobaan ini datang," sahut Calya.


"Cobaan? Cobaan apa itu?" tanya Haira berpura-pura tidak tahu.


"Tentu saja kehadiran orang lain yang semestinya tidak perlu dalam rumah tanggaku. Terlebih, alasan yang digunakannya begitu mengiba."

__ADS_1


"Dirga lah yang memulai semuanya. Dia yang pertama kali mulai menghubungiku lagi. Kami tahu tidak? Dia mengirim pesan di Facebook bahwa aku sangat cantik. Em ... mungkin maksudnya aku semakin cantik. Lalu setelah itu, grup alumni kembali mempertemukan kami. Ah, di grup itu kami berdua selalu menjadi sorotan, dan kuperhatikan bila Dirga menikmatinya."


Perkataan Haira tentu saja seperti api yang membakar sekam. Seperti cemeti yang memecuti kuda pedati. Panas dan perih. Namun, ia mencoba mengendalikan diri untuk tak lagi menyentuh wanita itu dengan tangannya.


"Suamiku memang begitu, selalu ramah pada siapa pun. Hanya saja kadang ada yang menyalahartikan kebaikannya. Sudah jelas kan, dia memang hanya berniat menolongmu dari kritis karena sakit. Namun, rupanya kamu menginginkan lebih "


"Aku? Ah, sepertinya kamu belum juga mengerti. Bukan aku yang menginginkan lebih, tapi Dirga. Coba pikirkan, mana mungkin dia mau melakukan hubungan intim denganku bila memang tidak menginginkannya? Mana ada ceritanya laki-laki diperkosa oleh wanita?" Haira mendekatkan mukanya pada Calya.


"Itu hanya lah kesalahan satu malam," ujar Calya, mencoba mempertahankan perasaannya untuk tetap tenang.


"Satu malam yang menanamkan benih cinta menjadi calon buah hati kami," desis Haira seakan memercikkan sinar api untuk semakin membakar kemarahan Calya.


Ya, Haira memang sedang berusaha melakukan hal itu. Menggaungkan kata-kata yang membuat Calya semakin terbakar dalam amarah. Tentu saja, sebuah tujuan terselubung dalam sanubarinya.


"Bila Dirga memang bahagia bersamamu, dalam suasana senyaman ini, kalian mestinya sudah memiliki anak. Namun, nyatanya? Atau ... kau memang benar-benar ... mandul?" Haira kembali berdesis.


"Ah, maaf kalau aku terpaksa menanyakannya. Terang saja aku mencurigai hal itu. Dua tahun kan kalian sudah menikah? Artinya selama dua tahun itu kalian tidur berdua setiap malam? Lalu ... mengapa kamu tak kunjung mengandung?"


Calya bergeming. Matanya semakin menyala. Kemarahan seakan sudah berkumpul di situ. Menjadi sebuah bom yang siap meledak.


Tepat di saat itu, Haira mulai menjalankan aksi selanjutnya. Diam-diam memencet panggilan ke nomor telepon Dirga di telepon seluler yang sedang tergenggam di tangannya. Sebelumnya, dia telah mengatur nama Dirga berada di log panggilan terakhir.


"Bukankah itu memang kenyataannya?" gumam Haira lagi.

__ADS_1


"Kamu sudah keterlaluan! Kamu sungguh perempuan tak tahu diri!" Teriakan Calya memekakkan telinga lantaran nyaringnya.


"Tidak ... jangan lakukan apapun padaku." Haira melemaskan suaranya.


"Kau pikir apa yang akan kulakukan padamu?" bentak Calya.


"Aw! Aku mohon jangan!" Haira memekik.


Haira membuat gerakan menampar pipinya sendiri hingga terdengar bunyi tepukan.


Tak lama kemudian, Haira membuat gerakan berlari lalu mengambil sebuah bingkai foto di ruangan itu. Foto pernikahan Calya dan Dirga.


"Tidak, Calya! Jangan lakukan itu, jangan lempar aku dengan benda itu! Ku mohon ...." Haira kembali memekik, diiringi bantingannya pada pas foto itu.


"Apa yang kau lakukan?" Calya menjerit melihat bingkai foto pernikahannya hancur berantakan.


"Aw ... jangan kumohon." Lagi, Haira mengeluarkan teriakan seakan sedang mengalami sesuatu.


Sejurus kemudian dia berlari ke arah meja lalu mengambil vas bunga yang ada di sana, melemparkan ke lantai.


"Hentikan, Haira!" Bentak Calya.


"Kamu lah yang seharusnya menghentikan, ini menyakitiku, Calya," jerit Haira.

__ADS_1


Calya kini tampak bingung. Ia semakin tak mengerti dengan perbuatan Haira yang seperti itu. Seakan sedang bersandiwara, tetapi tak memahami maksudnya.


Apa yang sedang terjadi pada Haira?


__ADS_2