Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Rain and Snow


__ADS_3

Setiba di kamar kos, Calya kembali membaringkan tubuhnya yang terasa lelah. Sampai beberapa menit kemudian, Myesha pun datang.


"Mbak, sudah pulang?" tanya Myesha sambil menggantungkan tas yang dipakainya tadi ke sebuah pengait yang tersemat di dinding.


"Iya, Sha. Mbak agak pusing, mau baringan dulu," jawab Calya.


"Kalau begitu Mbak makan saja dulu, Myesha buatkan teh hangat ya," ujar Myesha.


Calya menggeleng. "Tidak usah, Sha. Mbak sudah makan tadi," sahutnya.


"Lho, makan dimana, Mbak?"


Calya pun beranjak bangun dan duduk di atas kasur.


"Sha ... Mbak ketemu Raindra," ujar Calya kemudian.


"Apa? Siapa, Mbak?" tanya Myesha setengah kaget.


"Raindra, mantan pacar Mbak dulu," pertegas Calya.


"Ya ampun, dia ada di sini?" Myesha ternanap.


"Sepertinya dia memang sudah lama di sini, Sha."


"Wah, dua tahun di sini, tapi Myesha belum pernah ketemu dia. Memangnya, Mbak Calya ketemu Mas Raindra di mana?" selidik Myesha.


"Di Cafe Rain and Snow," jawab Calya.


"Oh cafe itu. Kalo malam ramai di sana, Mbak, tapi Myesha belum pernah nongkrong di sana. Ya, maklumlah Bagas cuma bisa ngajak Myesha nongkrong di angkringan," gumam Myesha.


"Raindra pemilik cafe itu, Sha," ujar Calya lagi.


"Hah? Kok bisa, Mbak? " tanya Myesha tak percaya.


"Mbak tadi pingsan dan ditolong sama dia, dibawa ke ruangannya dan dikasi makan minum," papar Calya.


"Astaga! Mbak Calya pingsan?"


"Iya, pas di depan cafenya. Sebelumnya Mbak memang ke sana, niatnya mau tanya-tanya lowongan kerja juga."


"Tapi ... tunggu dulu, Mbak. Nama cafe itu Rain and Snow, bukannya itu julukan kalian berdua dulu? Mas Raindra adalah hujan, dan Mbak Calya adalah salju," gumam Myesha.


Calya hening sejenak. Perkataan Myesha telah menelisik kalbunya. Memang benar, seperti itu lah adanya. Hujan dan salju pernah melekat pada diri mereka.


"He em," sahut Calya kemudian.


"Lalu mengapa Mas Raindra memakai nama itu untuk cafenya? Tapi ... dia sudah nikah belum ya, Mbak?" tanya Myesha penasaran.


"Entahlah, Sha. Kami tidak mengobrol lama tadi. Dan tidak perlu juga untuk saling mencari tahu," sahut Calya.


"Yang pasti, dia mungkin tahu kalau Mbak Calya sudah menikah waktu dia menghilang."


"Iya, dia tahu. Dan dia mengira pernikahan itu masih terjadi," ujar Calya.


"Artinya, dia belum tahu dengan status baru Mbak sekarang?"


"Untuk apa dia tahu? Tidak mungkin juga saya memberi tahu," sahut Calya.


"Lalu ... sekarang apa yang akan Mbak lakukan lagi?"


Calya menarik napas. "Mbak akan tetap berusaha mencari pekerjaan, Sha. Kamu sendiri masih hidup dengan sisa uang pensiun Bapak yang tidak seberapa. Mbak sudah tidak bisa membantu biaya kuliahmu seperti dulu. Mbak tidak mendapat apa pun dari perceraian itu. Simpanan Mbak juga sudah menipis untuk ongkos ke sini. Kamu harus tetap kuliah, dan kita harus tetap hidup."


"Myesha juga bisa kerja paruh waktu, Mbak," gumam Myesha.


"Jadwal kuliahmu bagaimana?" tanya Calya.


"Myesha kan kuliah pagi sampai siang saja. Setelah itu, Myesha bisa lanjut kerja sampai jam tujuh malam gitu. Kalau bisa sih yang dekat-dekat dengan kosan ini," ujar Myesha.


Calya pun mengangguk. "Asalkan kuliahmu tidak terganggu, Sha."


"Tenang saja, Mbak. Untuk ngerjain tugas kan ada Bagas yang bisa bantuin Myesha, hehehe."


"Kasihan lah si Bagas," sahut Myesha.


"Ya, siapa suruh dia ngejar-ngejar Myesha. Padahal Myesha sudah bilang tidak ingin berpacaran dulu, dia malah maksa. Ya sudah, kebetulan dia memang anaknya pintas, sekalian saja Myesha manfaatkan untuk bantu ngerjain tugas."

__ADS_1


"Hus, tidak boleh begitu ah, Sha."


Calya dan Myesha pun terkekeh.


***


Suara ketukan di depan pintu kamar kos itu, membuat Calya beranjak membukanya. Seorang pemuda pun tampak di depan sana.


"Sore, Mbak. Saya Bagas temannya Myesha, mau jemput dia keluar sebentar," guman pemuda itu menyapa Calya.


"Oh iya, tunggu sebentar ya. Myesha nya masih di kamar mandi," sahut Calya.


Bagas pun mengangguk lalu duduk di bangku yang ada di teras.


"Sha, Bagas sudah datang," teriak Calya.


"Iya, Mbak."


Sesaat kemudian, Myesha pun keluar dalam keadaan rapi.


"Myesha keluar dulu ya, Mbak. Mau cari buku sama Bagas," ujarnya pada sang kakak.


"Iya, Sha. Pulangnya jangan kemalaman ya."


Myesha pun beranjak ke luar menemui Bagas. Tak lama, mereka pun melenggang pergi, menyusuri jalan gang menuju ke arah jalan utama.


"Sebenarnya kita mau ke mana, Sha?" tanya Bagas setelah beberapa saat berjalan.


Beberapa jam sebelumnya, Myesha memang mengirim pesan pada Bagas untuk menjemput dan menemaninya pergi ke suatu tempat.


"Ke Cafe Rain and Snow, Gas," sahut Myesha.


"Oh, yang di jalan depan itu?" tanya Bagas.


"Iya, yuk cepetan jalannya," ujar Myesha sambil menarik tangan Bagas untuk berjalan lebih cepat.


"Memangnya mau ngapain sih ke sana? Kamu mau mentraktir saya ya?"


"Enak saja," gerutu Myesha.


"Kalau itu, saya juga tahu! Sudah ah, diam saja," ujar Myesha sambil mempercepat langkahnya.


Hingga beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di depan cafe itu. Myesha dan Bagas pun melangkah masuk, dan langsung menuju ke meja kasir.


"Ada yang bisa dibantu, Mbak, Mas?" sapa kasir wanita itu.


"Mbak, apa saya bisa ketemu sama pemilik cafe ini?" tanya Myesha.


"Ada keperluan apa ya, Mbak?"


"Hmm ... apa di sini ada lowongan pekerjaan?"


"Oh, kalau itu kami juga belum tahu, Mbak."


"Bisa tidak, untuk ditanyakan ke bos-nya?"


Kasir itu tampak diam dan menautkan alis. Pertanda tak nyaman dengan permintaan Myesha.


Menyadari hal itu, Myesha pun meralat ucapannya.


"Em ... maaf, Mbak. Maksud saya, hanya ingin bertemu dengan Mas Raindra."


"Mas Raindra?" tanya kasir itu.


"Iya, apa bisa bilang ke Mas Raindra kalau adik temannya, em ... nama saya Myesha ingin menemuinya," jelas Myesha.


"Ya sudah, sebentar saya tanyakan dulu," sahut kasir itu.


Kemudian ia mengangkat gagang telepon dan berbicara dengan seseorang. Setelah menutupnya, kasir itu pun berteriak memanggil seorang pramusaji.


"Ra, tolong antar Mbak ini ke ruangan Pak Raindra."


Mendengar hal itu, Myesha pun tersenyum. Kemudian bergegas mengikuti langkah pramusaji tadi menuju ke sebuah ruangan. Bagas pun turut serta mengikuti Myesha.


"Silakan masuk, Mbak," ujar Rara sambil membuka pintu.

__ADS_1


"Makasih, Mbak," sahut Myesha.


Gadis itu bersama kekasihnya pun melenggang masuk ke ruangan kerja Raindra. Sejenak, setelah saling bertatap muka, Raindra dan Myesha sama-sama terdiam. Sampai beberapa detik kemudian, Raindra pun menyapa Myesha.


"Ayo duduk."


Myesha dan Bagas pun duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Mas Raindra masih ingat saya kan?" tanya Myesha setelahnya.


"Tentu saja. Rupanya kamu kuliah di Yogya ya? Anehnya, selama ini kita tidak pernah ketemu," sahut Raindra.


"Iya, itu yang namanya takdir, Mas. Takdir Mas Raindra ya ketemunya sama Mbak Calya, yang padahal baru saja kemarin datang ke sini," ujar Myesha.


"Em ... iya .... Oh rupanya dia baru tiba ya? Em ... berarti Calya cerita kalau kami habis ketemu tadi?" tanya Raindra.


"Iya, Mbak Calya cerita. Karena itu, saya memutuskan untuk ke sini menemui Mas Raindra."


"Oh ... kenapa?"


"Saya butuh pekerjaan, Mas."


"Oh iya ... tadi Calya ke sini juga untuk menanyakan lowongan kerja, dan saya tahu kalau itu pasti untukmu."


"Mbak Calya juga butuh pekerjaan," tandas Myesha lagi.


"Hah?" Reaksi Raindra tak percaya.


Sementara di depannya, Myesha mengangguk pertanda membenarkan pernyataannya tadi.


"Bukankah suaminya seorang aparat negara? Seharusnya hidupnya berkecukupan kan? Dan bukannya dia ke sini hanya untuk jalan-jalan, mengunjungimu?" tanya Raindra dengan gurat wajah bingung.


"Iya, seharusnya begitu, bila suaminya tak menikah dengan wanita lain dan menceraikan Mbak Calya," ungkap Myesha.


"Apa?!" Raindra membeliak.


Myesha kembali mengangguk. "Mbak Calya sekarang adalah seorang janda."


Raindra tertegun. Ia kembali membayangkan saat pertemuan dengan Calya tadi. Bagaimana wajah cantik itu tampak begitu pucat dan lelah, seakan menyimpan penderitaan yang teramat dalam.


"Mas Raindra sudah menikah?" Myesha memberanikan diri untuk menanyakan hal itu.


Membuat Raindra tersentak dan menggeleng. "Belum."


"Oh ...." Myesha menghela napas.


"Mas ...," lanjut Myesha.


"Ya," sahut Raindra.


"Kenapa waktu itu, Mas Raindra pergi tanpa kabar? Mas tahu tidak kalau Mbak Calya sangat terluka. Mbak Calya patah hati dan selalu menangis. Dia terus bertanya-tanya apa kesalahannya sampai Mas Raindra meninggalkannya seperti itu."


Raindra kembali terdiam sesaat, lalu berkata, "Ada alasannya, Sha."


"Apa?"


Raindra mengembuskan napas pelan.


"Waktu itu, Calya sudah selesai kuliah dan bekerja. Sementara, Mas Raindra masih saja menganggur. Kuliah Mas tak juga selesai, berantakan. Mas merasa tidak punya masa depan yang baik. Mas malu dan merasa tidak pantas untuk Calya."


"Kalian kan sudah bersama selama tiga tahun. Artinya sudah saling menerima kelebihan dan kekurangan. Alasan itu sungguh tidak masuk nalar, Mas," celetuk Myesha. "Walaupun waktu itu, Myesha masih lima belas tahun, Myesha sudah cukup memahami tentang hubungan kalian. Dan Myesha bisa merasakan kesedihan Mbak Calya," lanjutnya lagi.


"Tapi seperti itulah yang terjadi, Sha. Mas benar-benar merasa malu dengan keadaan Mas waktu itu. Laki-laki mana yang tidak akan merasa rendah diri saat pasangannya telah memiliki pekerjaan dan masa depan yang lebih baik. Saya merasa tak berguna saat itu," ujar Raindra


"Lalu, mengapa Mas Raindra bisa berada di sini sekarang?"


"Saat itu, saya curhat sama Anela, seorang teman Mas yang ada di kota ini. Dia pun menawarkan untuk melakukan kerja sama. Dia memberikan modal, dan saya mengelola bisnisnya. Berhasil. Saya bisa mengembalikan modalnya, dan memiliki modal sendiri. Sambil mengelola bisnis itu, Mas juga melanjutkan kuliah di sini sampai lulus. Kemudian Mas juga membuka cafe ini. Itulah yang Mas lakukan selama menghilang. Namun, saat itu, Mas kemudian mengetahui kalau Calya menikah dengan orang lain, padahal saat itu sebenarnya Mas sedang berjuang untuk memantaskan diri bersamanya."


"Ya salah Mas Raindra sendiri, kenapa perginya tidak bilang-bilang. Perempuan mana yang mau menunggu dalam keadaan tidak jelas. Waktu Mbak Calya mencari ke rumah Mas Raindra, keluarga Mas semua pun bungkam. Mbak Calya semakin sakit hati. Merasa dicampakkan begitu saja," gerutu Myesha lagi.


"Iya, memang saya yang meminta mereka untuk tak memberi tahu Calya ke mana saya pergi."


Myesha menghela napas. Setidaknya tujuannya ke tempat ini telah tercapai. Dia telah bertemu Raindra dan menanyakan misteri masa lalu yang pernah terselubung pada mantan kekasih sang kakak itu. Selain itu, Myesha juga merasa lega karena telah memberi tahu Raindra tentang status kakaknya itu kini.


Sebabnya pasti, Myesha berharap kebahagiaan untuk kakaknya hadir lagi. Dan Myesha sangat berharap bila kebahagiaan sejati sang kakak ada pada lelaki yang ada di hadapannya itu. Raindra.

__ADS_1


***


__ADS_2