
Sore hari di Rain and Snow Cafe.
Myesha sedang melayani para pengunjung seperti biasa. Sementara itu, di ruang kerjanya, Raindra duduk dengan perasaan tak menentu. Hal yang diketahuinya tentang Calya tengah mengusik pikirannya.
Sesaat kemudian, lelaki itu mengangkat gagang telepon. Menelepon ke meja kasir, meminta agar Myesha menghadap ke ruangannya.
"Sha, Pak Raindra meminta kamu ke ruang kerjanya," ucap Rara saat mereka berada di pantry.
Myesha hanya mengernyitkan dahi sejenak, kemudian melaksanakan perintah itu.
Di depan pintu ruangan Raindra ia berhenti dan mengetuknya.
"Masuk!" seru Raindra dari dalam.
"Bapak manggil saya?" tanya Myesha setelah membuka pintu.
"Iya, masuklah dan duduk," sahut Raindra.
Myesha pun melangkah masuk dan duduk di kursi yang ada di hadapan Raindra.
"Bagaimana, Pak? Ada apa ya?" ujar Myesha.
"Kalau lagi berdua, jangan panggil Pak. Panggil seperti biasa saja," sahut Raindra.
"Ya, udah, Mas. Ada apa?"
__ADS_1
Raindra sedikit mencondongkan badannya ke depan.
"Apa benar bila Calya sekarang sedang hamil?"
Myesha spontan membesarkan bola matanya.
"Hah? Mas Raindra tahu dari mana?"
"Calya bekerja di Rainela Cafe kan?" tanya Raindra.
Myesha mengangguk pelan. "Mas Raindra juga tahu?"
"Pemilik cafe itu adalah teman saya."
"Oh."
Myesha kembali mengangguk, tanpa kata.
"Sha ... apa yang sebenarnya terjadi pada Calya? Mengapa dia mengalami ini semua? Bukankah dia bahagia dengan pernikahannya? Bukankah lelaki itu seorang aparat negara?" Raindra mencecar Myesha dengan tanya yang bertubi.
Myesha mengembuskan napas sesaat.
"Itu adalah masa lalu Mbak Calya," jawab Myesha kemudian.
"Myesha ... bantu aku untuk melakukan sesuatu yang bisa mengurangi rasa bersalah pada Calya. Bantu aku untuk membantunya sekarang. Kamu tahu kan, aku pernah melakukan kesalahan besar padanya. Menyakiti hatinya. Sekarang, bila kesempatan untuk menebus kesalahan memang ada, aku akan melakukannya. Setidaknya, untuk mengurangi rasa bersalahku sendiri." Raindra berkata sambil menatap nanar pada Myesha.
__ADS_1
"Mas Raindra ... bersungguh-sungguh?" tanya Myesha memastikan niat lelaki itu yang sebenarnya.
Raindra mengangguk. "Tentu saja."
"Hanya sebatas untuk menebus rasa bersalah, atau ...."
"Atau apa?"
"Mas Raindra masih memendam rasa pada Mbak Calya?" Myesha mengangkat satu alisnya.
Raindra tertegun atas pertanyaan gadis di depannya itu. Sekaligus menyentakkan hatinya.
Bila menilik ke dalam hati itu, tentu saja Raindra masih menyimpan perasaan khusus pada wanita yang ditinggalkannya tanpa kejelasan itu. Namun, sebuah posisi sulit sedang dihadapinya kini. Keberadaan Anela yang sekian lama menanti jawaban cintanya tentu menjadi pertimbangan sendiri bagi lelaki itu.
"Aki hanya ingin membantunya. Itu saja. Soal perasaan, itu hanya bagian dari masa lalu," ujar Raindra.
"Oh." Myesha memasang ekspresi datar. Rupanya dugaannya salah. Harapannya pada pria itu akan kebahagiaan sang kakak ternyata salah. Raindra sudah tak menaruh perasaan pada Calya.
Myesha mulai berpikir, mungkin saja informasi kehamilan kakaknya lah yang membuat Raindra mengubah haluan rasanya. Lelaki mana yang mau menerima seorang janda yang dalam keadaan mengandung anak lelaki lain.
"Apa yang bisa saya lakukan?"
Raindra menatap lekat pada Myesha. Menyiratkan kesungguhannya akan hal yang sedang ia niatkan. Hingga obrolan beberapa saat itu pun berakhir, Myesha keluar dengan menyunggingkan seutas senyum.
Setidaknya, niatan yang telah disampaikan Raindra akan cukup menenangkan hati dan pikirannya. Bagaimanapun, Myesha tak menolaknya karena juga merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga sang kakak.
__ADS_1
***