
Seminggu berlalu lagi. Hari Minggu ini, kedua orang tua Praba memutuskan untuk mengunjungi orang tua Bagas. Mereka hendak bersilaturahmi sebagai kawan lama. Tentu saja Myesha yang mengawal mereka ke rumah itu. Sementara karena hari ini Calya merasa kurang enak badan, ia pun tak menerima pesanan makanan. Apalagi Mbok Darmi juga izin untuk tidak masuk hari ini karena ada acara keluarga di kampungnya. Praba sendiri memutuskan untuk tinggal di rumah dan menemani Calya.
Di rumah depan, Haira sendiri selalu mengurung diri di dalam rumah. Setelah mengetahui bila Calya ada si rumah itu, ia merasa tak ingin terlihat oleh wanita itu juga. Haira tidak mau kalau Calya tahu tentang keadaannya yang tak mengandung lagi. Ia pun khawatir bila Calya tahu tentang kondisinya yang tidak akan pernah bisa memiliki anak.
Dirga sendiri, selama di rumah akan memilih untuk lebih banyak menghabiskan waktu di lantai atas. Meski kamar tidur mereka berada di bawah, tetapi Dirga selalu saja tidur di kamar lain. Haira sendiri tak mampu untuk menahan keinginan Dirga. Baginya, yang harus dilakukan hanyalah tetap melayani Dirga sebagai seorang istri. Hanya itu cara untuk bisa mempertahankan statusnya sebagai pendamping hidup Dirga.
Praba sedang berada di dapur membuatkan sup ayam untuk Calya. Setelah masak, ia pun menuju kamar tidur Calya.
"Cal ... ini sup ayamnya dimakan dulu mumpung masih panas," ujar Praba sambil meletakkan mangkuk sup itu di atas meja.
Calya yang tadi berbaring, kini mengangkat tubuhnya untuk duduk.
"Makasih, ya," sahut Calya.
Wanita itu pun meraih mangkuk sup itu dan mulai menyantapnya.
Praba terus duduk di tepi tempat tidur Calya, mengamati wanita yang disayanginya itu. Praba tahu pasti bila saat ini perasaan Calya masih bercampur aduk setelah kehadiran Praba dan Haira. Selain itu, Calya juga terlalu lelah dengan kegiatannya sehari-hari.
Di atas meja, telepon seluler milik Calya terus saja berbunyi. Menandakan banyak pesan yang masuk. Sejak tadi, Calya hanya membiarkan ponsel itu tergeletak di sana. Namun, kini sehabis makan, ia pun sudah merasa lebih baik. Perlahan Calya meraih benda pipih miliknya itu, kemudian mulai membaca satu per satu isi pesannya.
"Pada nanyain ayam geprek sama telur balado," ujar Calya sambil membalas pesan-pesan itu.
"Berarti hari ini pelanggan kecewa ya?" ujar Praba.
"Em ... Calya kan tidak mungkin membiarkan Ibu yang memasak pesanan-pesanan itu. Apalagi kan acara hari ini untuk mengunjungi keluarga Bagas kan sudah dari beberapa hari yang lalu mereka rencanakan. Kasian kalau sampai batal, apalagi keluarga Bagas juga sudah menunggu," sahut Calya.
"Cal ... sepertinya kita harus memikirkan untuk menambah tenaga kerja lagi. Jangan sampai kita malah kehilangan pelanggan kalau sehari saja tidak berjualan. Coba lihat, hari libur begini saja pelanggan masih nanyain, apalagi kalau hari kerja yang jumlah orderan lebih banyak," ucap Praba.
"Iya, benar juga sih. Terus bagaimana dong?" tanya Calya, meminta pendapat Praba.
"Ya sudah, kita coba cari pekerja lagi, kira-kira kemampuan kita membayar pekerja sampai berapa orang lagi?" tanya Praba.
"Kalau dari pesanan yang masuk selama ini, kayaknya bisa untuk tiga orang deh. Kita bisa bagi untuk dua shift. Pengantaran siang dan malam. Untuk pesanan pagi kan saya sendiri yang handle, jumlahnya juga tidak begitu banyak dibandingkan dengan pesanan siang dan malam," jelas Calya.
__ADS_1
"Oke, kalau begitu besok saya akan coba cari lagi orangnya," ujar Praba.
Calya pun tersenyum. Kali ini, seperti biasa, Praba akan selalu mengerti apa yang ia butuhkan. Lelaki itu seakan sengaja dikirimkan oleh Tuhan untuk selalu menjaganya.
***
Beberapa hari kemudian, kondisi Calya sudah membaik. Dua orang pekerja barunya juga sudah siap untuk mulai bekerja. Calya sudah mengatur jadwal kerja mereka dalam dua shift. Sementara untuk proses pengantaran pesanan, Bagas pun sudah kembali turut serta. Namun, kali ini ia mendapatkan gaji untuk itu. Karena jumlah orderan sudah semakin banyak, tenaga Myesha memang sudah tak cukup lagi.
Seminggu setelahnya, Pak Nugraha dan Bu Nugraha memutuskan untuk kembali ke Semarang. Calya merasa sangat sedih ketika mereka berpamitan untuk pergi. Namun, Calya tak mungkin juga bisa menahan mereka untuk tinggal lebih lama lagi.
"Jaga diri baik-baik ya, Nak Calya. Semoga semuanya lancar sampai kamu lahiran. Ibu dan Bapak akan datang lagi saat kamu lahiran nanti," ujar Bu Nugraha.
Praba kemudian mengantarkan kedua orang tuanya ke bandara. Sementara Calya dan Myesha menunggu di rumah.
Dirga yang melihat dari jendela rumahnya ketika Praba dan orang tuanya memasuki taksi kemudian berpikir untuk menemui Calya. Ia beranjak keluar dari rumahnya. Melangkahkan kaki menuju rumah seberang itu.
Ketukan pintu terdengar. Myesha memberi kode pada Calya untuk tetap duduk di kursi makan itu. Dia lah yang akan membuka pintu.
Benar saja, Myesha melihat Dirga yang berdiri di depan pintu. Meski kesal, gadis itu tetap saja memutuskan menemui Dirga.
"Aku mau ketemu Calya," ujar Dirga.
"Untuk apa?" tanya Myesha lagi.
"Aku hanya ingin berbicara sebentar. Tolong, panggilkan dia."
"Tidak, lebih baik Mas Dirga pergi saja," ujar Myesha.
Akan tetapi, Dirga tak mau menuruti permintaan Myesha. Ia justru mendorong tubuh Myesha agar tak menutup jalan pintu itu. Kemudian, dengan cepat ia berjalan memasuki rumah itu.
"Aduh! Hei, tunggu! Jangan sembarangan masuk ke dalam rumah orang!" seru Myesha sambil berusaha mengejar Dirga
Namun, langkah pria itu lebih cepat, hingga kini ia telah berada di ruang tengah, di mana Calya sedang berada.
__ADS_1
Melihat kehadiran Dirga, sontak Calya berdiri dan menatap lamat pada mantan suaminya itu.
"Dirga ...," desis Calya.
Dirga yang sudah menghentikan langkah, kini terpaku di pijakannya. Pandangannya lurus menatap wanita yang ada di depannya itu. Terlebih karena bentuk tubuh Calya yang tampak berbeda. Perutnya yang membesar tentu menjadi pemandangan yang membeliakkan mata Dirga.
"Calya ... ka kamu ... ada apa denganmu?" lirih suara Dirga.
Menyadari kebingungan yang terpatri di wajah Dirga karena bentuk tubuhnya itu, Calya pun memegang bagian tubuhnya yang membuncit itu. Menampakkan bahwa perut yang membesar itu adalah nyata.
"Saya ... sedang hamil," ujar Calya mantap.
"Ham ... hamil?" Suara Dirga sedikit bergetar, seakan sulit untuk mengucapkan kata itu.
Calya mengangguk. "Iya, saya sedang hamil. Enam bulan."
"Enam bulan?" Dirga termenung. Ia tahu persis bila usia perceraiannya baru lima bulan.
Calya kembali mengangguk.
"Bagaimana mungkin kamu bisa hamil? Kamu kan ...."
"Mandul?" Calya mematahkan ucapan Dirga.
Dirga tak menyahut. Ia tergagap saking rasa tak percaya.
"Siapa yang mengatakan bahwa saya tak bisa mengandung? Bukankah itu hanya anggapan kamu dan keluargamu saja?" ujar Calya.
Myesha yang sudah sampai di ruangan itu, kini ikut menyimak percakapan Calya dan Dirga. Namun, ia tetap waspada bila Dirga sampai melakukan hal yang tidak-tidak pada kakaknya.
"Anak siapa?" Suara Dirga terdengar berat saat menanyakan hal itu.
"Menurutmu anak siapa? Dengan siapa saya tidur enam bulan yang lalu?" Calya menjawab dengan suara yang sedikit tertahan. Penyebabnya adalah kaca-kaca di matanya yang telah terbentuk. Emosinya yang membuncah akibat pertanyaan Dirga lah yang menyebabkan hal itu.
__ADS_1
***