Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Celaka


__ADS_3

Pesawat yang ditumpangi Haira sudah mendarat di bandara Juanda. Wanita itu turun dan bergegas menuju pintu keluar. Di sana, sang ayah sudah menunggu untuk menjemputnya kembali ke rumah.


Di dalam mobil, Haira mencoba menelepon sang adik, Mirna.


"Aku sudah sampai, Mir. Kamu pulang kerja jam berapa? Ntar malam kita jalan-jalan lho ya."


"Oke, Kak. Tenang saja," sahut Mirna di seberang telepon.


Setelah menutup telepon, Haira menyunggingkan senyum bahagia karena telah tiba di kota besar itu. Kerinduannya akan keramaian pun sudah terobati.


Sang ayah yang memperhatikan ekspresi sang putri pun bersuara.


"Seharusnya jangan pergi-pergi dulu nanti malam. Kamu kan baru tiba, istirahat saja dulu. Perginya besok-besok saja."


"Ah ... Papa ini, Haira kan sudah kangen jalan-jalan dan shoping di mall. Bosan tau, Pa, tinggal di pelosok," sahut Haira.


Sang ayah pun tak menjawab lagi. Hanya menggeleng sebentar, lalu kembali fokus di depan kemudinya.


Sesampai di rumah, sang ibu sudah siap menyambut kedatangan putri sulungnya.


"Haira, Sayangku ... kamu baik-baik saja kan?" tanya Bu Broto sambil memeluk putrinya.


"Iya dong, Ma," sahut Haira.


"Ayo, makan siang dulu," ucap sang ibu sambil menggandeng tangan anaknya menuju ruang makan.


Sesampai di meja makan, Haira berdecak senang melihat berbagai sajian makanan di atas meja.


"Aduh ... Haira benar-benar rindu masakan enak begini," ucap Haira dengan mata berbinar.


"Kamu kayak tidak pernah makan saja, Nak," ujar Pak Broto yang sudah ikut duduk di situ.


"Ya ampun, Pa ... di sana tuh gak ada makanan enak. Haira bosan dengan makanan yang dijual di sana," sahut Haira sambil mulai mengunyah makanannya.


"Dijual? Jadi makanan beli terus ya?" tanya sang ayah lagi.


"Ya iyalah, Pa! Memangnya siapa yang mau masak? Dirga kan kerja," ucap Haira.


Pak Broto melongok sebentar pada sang putri. Namun, di saat itu, sang istri memberi kode padanya dengan kedipan mata agar tak melanjutkan tanyanya.


"Haira kan lagi hamil, Pa ... jadi dia pasti gak bisa kalau harus ke dapur untuk memasak," ucap Bu Broto.


"Ah... Mama kan tahu kalau Haira memang tidak pernah ke dapur. Haira gak tahu masak apa pun," ujar Haira dengan masih tetap fokus pada piring makannya.

__ADS_1


"Ya belajar dong, Nak," sahut Pak Broto.


"Ngapain, malas ah," sahut Haira tanpa beban.


Bu Broto kembali memberi kode pada sang suami agar tak lagi membahas hal itu.


"Pa ... bantu urus kepindahan Dirga dong. Ke Surabaya gitu. Atau kalau gak bisa, setidaknya di Pulau Jawa," ucap Haira.


Pak Broto berhenti makan sejenak untuk menoleh pada sang putri. Sesaat ia berpikir bila mungkin saja hal itu baik bagi rumah tangga putrinya. Ia khawatir bila ketidaksenangan Haira berada di kota kecil akan membuatnya sering meninggalkan Dirga. Bagaimana pun, sebagai orang tua, ada rasa cemas bila keretakan rumah tangga akan kembali dirasakan oleh sang putri.


Pak Broto mengangguk. "Baiklah, besok Papa akan mencoba untuk menghubungi teman Papa untuk meminta bantuan."


Haira pun tersenyum bahagia. "Makasih, Pa."


"Oh ya, Sayang. Malam nanti kita ke rumah mertuamu ya. Mama sudah bilang sama mereka kalau hari ini kamu datang. Mereka meminta agar kamu ke sana. Mereka rindu dan ingin mengelus perutmu, katanya," ucap Bu Broto.


"Apa? Tidak ah, Ma. Haira kan sudah janjian sama Mirna mau jalan-jalan ke mall," sambut Haira.


"Janji sama Mirna kan bisa dibatalkan dulu, Sayang. Jalan-jalannya besok saja. Tidak enak kan sama orang tua Dirga," ucap Bu Broto lagi.


"Gak mau ah, Ma. Haira sudah pengen belanja di mall. Mama telepon saja lagi mereka, bilang Haira capek gitu," decak Haira.


Bu Broto hanya mendengkus, lalu mengangguk. Menyetujui keinginan sang putri.


***


"Uh, ngapain sih Ibu menelepon!" gerutu Haira saat melihat nama ibu mertuanya tertera di layar.


"Siapa, Sayang?" tanya sang ibu yang hendak mengantar kedua putrinya ke luar rumah.


"Ibunya Dirga, Ma," sahut Haira.


"Ya, diangkat dong, Sayang. Ibu mertuamu kan ingin bertemu denganmu," tandas Bu Broto.


"Ya, sudah!" seru Haira sambil memencet tombol menjawab panggilan.


"Halo, Bu ...."


"Halo, Haira, Sayang ... kamu sudah di Surabaya, kan?" Suara Bu Edy dari seberang telepon.


"Iya, Bu," jawab Haira.


"Kalau begitu, Ibu tunggu di rumah ya. Malam ini Haira nginap sama Ibu, ya."

__ADS_1


"Oh ... em besok saja ya, Bu. Ini Haira capek banget dan ini sudah mau tidur. Maaf ya, Bu," gumam Haira.


"Oh begitu ya, Nak. Ya sudah kalau begitu Haira sekarang istirahat saja. Besok biar Ibu yang ke situ untuk jemput Haira ya."


Setelah mengiyakan, Haira pun menutup telepon itu. Sejurus kemudian ia mengajak Mirna untuk segera pergi.


***


Di mall, Haira dan Mirna menyusuri setiap toko yang terbuka. Berbagai tentengan tas berlabel branded tertengger di tangan mereka. Sampai waktu telah menunjukkan begitu larut, mereka tersadar dan dengan tergesa berjalan ke luar mall untuk pulang.


Mereka melewati pintu belakang yang menghubungkan dengan parkiran. Beberapa anak tangga harus dilewati. Namun, karena telah cukup lelah berjalan, langkah kaki Haira salah menapak. Membuatnya tergelincir dan terjatuh. Tubuhnya pun bergelinding di sepanjang anak tangga itu.


"Kak Haira!" Mirna memekik.


Matanya membeliak menyaksikan tubuh sang kakak kini tak bergerak dengan genangan darah di sekitar bokongnya.


Mirna bergegas menuruni anak tangga menuju tempat keberadaan sang kakak.


"Tolong, tolong panggil ambulans!" teriaknya lagi.


Beberapa orang pun mulai berdatangan untuk melihat. Petugas yang ada di situ segera menelepon ambulans.


"Kak, Kak Haira, bangun," ujar Mirna yang duduk di samping kakaknya yang terbaring di dalam ambulans sambil.


Namun, Haira masih saja bergeming dalam pingsannya.


Sesampai di rumah sakit, petugas paramedis segera mendorong tempat tidur Haira menuju ke ruang operasi. Sementara itu, Mirna menunggu di luar sambil menangis.


Gadis itu pun teringat pada orang tuanya. Ia segera menelepon mereka.


"Apa?!" pekik Bu Broto setelah mendapat kabar kecelakaan Haira.


"Ayo, Pa ... kita segera ke rumah sakit.


Pak Broto melajukan mobilnya dengan cepat, hingga setelah sampai di rumah saki, mereka segera menuju ke tempat di mana Mirna sedang menunggui kakaknya.


"Bagaimana keadaan kakakmu, Mir?" tanya Bu Broto pada Mirna, sesampainya mereka di depan ruang operasi.


"Dokter belum keluar, Ma. Kak Haira pendarahan," jawab Mirna sambil terisak.


"Aduh Gusti ... bagaimana dengan kandungannya. Kenapa kalian tidak berhati-hati to, Nak?" ujar Bu Broto sambil turut terisak.


"Sudahlah, Bu ... lebih baik kita tunggu dokter keluar dulu," ucap Pak Broto menenangkan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2