Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Awal Karma


__ADS_3

Tiga jam berlalu. Pintu ruang operasi itu terbuka. Beberapa orang berpakaian medis keluar, dan berjalan menghampiri keluarga Pak Broto.


"Keluarga Nyonya Haira?" tanya seorang perawat.


"Bagaimana, Dok? Bagaimana dengan putri kami?" sergah Pak Broto.


"Bagaimana dengan kandungannya?" timpal Bu Broto.


Sesaat, dokter yang memimpin operasi itu mengembuskan napas, kemudian berkata.


"Pak, Bu ... kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Nyonya Haira telah berhasil selamat dan melewati masa kritisnya," ucap sang dokter.


"Alhamdulillah, syukurlah. Terima kasih, Dok," sahut Pak Broto yang diikuti oleh istri dan anak bungsunya.


"Akan tetapi ...." Dokter itu melanjutkan, tetapi berhenti sejenak.


"Akan tetapi apa, Dok?" tanya Pak Broto.


"Akan tetapi, kami tak bisa menolong bayi yang dikandungnya. Nyonya Haira mengalami keguguran, pendarahan yang dialaminya terlalu hebat. Kami terpaksa melakukan operasi untuk mengeluarkan bayinya yang sudah meninggal di dalam kandungan," jawab dokter itu.


"Astaghfirullah ... itu tidak mungkin, Dok. Bayi itu sangat berarti untuk Haira." Bu Broto berteriak histeris.


"Ma ... tenanglah, Ma. Yang terpenting kan ibunya selamat. Soal anak, nanti Haira kan bisa mengandung lagi." Pak Broto mencoba untuk menenangkan sang istri.


"Maaf, Pak." Dokter itu kembali bersuara.


"Maaf kenapa, Dok?" tanya Pak Broto dengan raut muka bingung.


"Nyonya Haira tidak akan bisa mengandung lagi," ucap sang dokter.


"A apa? Kenapa bisa begitu, Dok?" tanya Pak Broto semakin bingung.


"Pendarahan yang dialaminya tadi, membuat luka yang cukup parah pada dinding rahimnya, sehingga setelah mengeluarkan bayinya, kami melakukan operasi pengangkatan rahim Nyonya Haira," papar sang dokter.


Kontan, Pak Broto, Bu Broto, dan Mirna terbelalak. Bagai disambar petir, ketiga orang itu merasakan sengatan yang luar biasa.


Seketika, Bu Broto merasakan pusing yang luar biasa di kepalanya. Ia pun terjatuh pingsan.


***


Haira telah dipindahkan di ruang perawatan, tetapi ia belum sadarkan diri. Sementara itu, sang ibu juga sedang menempati ruang perawatan lainnya karena tekanan darahnya yang rendah setelah pingsan tadi. Jarum infus terpasang di punggung tangan Bu Broto yang terbaring lemas di tempat tidur.


"Ma .. ayo makanlah dulu, supaya tekanan darah Mama bisa kembali normal," ujar Mirna yang duduk di tepi tempat tidur sang ibu.


Bu Broto menggeleng. "Bagaimana Haira, apa dia sudah sadar?"

__ADS_1


"Belum, Ma," sahut Mirna.


Tak lama kemudian, Bu Broto kembali terisak.


"Haira pasti akan sangat terpukul. Dia tidak hanya kehilangan anaknya, tetapi juga rahimnya. Rahim itu lambang seorang wanita. Kalau sudah tidak punya rahim ...." Bu Broto tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya. Hanya tangisnya yang semakin menjadi.


"Tenanglah, Ma ... kalau Mama juga ikut depresi, bisa-bisa Mama juga sakit," ujar Pak Broto.


"Bagaimana Mama bisa tenang, Pa? Kehamilan Haira adalah kebahagiaan Dirga dan keluarganya. Bukankah karena itu, mereka lebih memilih putri kita sebagai pendamping Dirga daripada istri pertamanya?" keluh Bu Broto.


Pak Broto mengembuskan napas kasar.


"Apakah ... ini karma untuk putri kita dan juga kita, Ma?" ujar Pak Broto.


"Apa? Karma? Teganya Papa bilang begitu!" hentak Bu Broto.


"Coba Mama ingat-ingat, awalnya kita meminta Dirga menikah dengan Haira adalah agar Haira bersedia dioperasi. Mama ingat bagaimana Mama menemui istri Dirga? Bukankah dia bersedia dimadu dengan syarat bahwa pernikahan itu hanya sebatas untuk menolong Haira? Lalu kita terus meminta lebih dan lebih, sampai akhirnya Haira benar-benar menggantikan posisi istri pertama Dirga," ucap Pak Broto.


"Tapi itu bukan sepenuhnya kesalahan kita dan putri kita, Pa. Salah perempuan itu sendiri yang mandul. Kenyataannya, Haira hamil dan akan memberikan keturunan untuk Dirga dan keluarganya. Artinya, Haira lah yang memang layak untuk menjadi istri Dirga," balas Bu Broto.


"Mandul? Lalu sekarang ... bagaimana dengan putri kita, Ma?" lirih Pak Broto.


Mendengar hal itu, Bu Broto termangu, lalu kembali melanjutkan isak tangisnya. Kali ini, ia harus membenarkan ucapan sang suami, bahwa putri mereka kini tak akan bisa mengandung lagi.


***


Samar-samar, penglihatan Haira mulai menerang. Ia mendapati sang adik berada di sisinya.


"Kak ...," panggil Mirna.


"Aku di mana?" tanya Haira.


"Di rumah sakit, Kak," ujar Mirna.


"Aku kenapa?" tanya Haira lagi.


"Semalam waktu kita ke mall, kakak jatuh di tangga."


Haira mencoba mengingat kejadian itu. Sesaat kemudian ia mengangguk, lalu tersadar akan sesuatu.


Haira mulai meraba-raba perutnya. Ia mencoba untuk bangun, tetapi rasa perih di perut menahannya untuk melakukan itu.


"Bayiku ... kenapa perut aku kempes, Mir? Mana bayiku?" tanya Haira.


"Kak ... Kakak tenang saja dulu. Kakak harus banyak istirahat. Jangan pikirkan yang lain dulu," bujuk Mirna.

__ADS_1


"Tidak, Mir. Jawab aku! Ada apa dengan kandunganku!"


"Kakak ... kata dokter, kandungan Kak Haira tidak bisa diselamatkan. Kakak keguguran," sahut Mirna gugup.


Haira menggeleng, lalu berteriak. "Tidak!"


"Kak, tenanglah! Kakak baru sadar." Mirna kembali membujuk sang kakak.


Suara teriakan Haira terdengar di ruang sebelah tempat di mana Pak Broto sedang menemani istrinya.


Sang ayah pun bergegas menuju ke kamar inap Haira. Di sana, ia mendapati Haira sedang meraung, sedangkan Mirna masih berusaha menenangkannya.


"Ada apa, Nak?" tanya Pak Broto.


"Kak Haira histeris, Pa," jawab Mirna.


"Kenapa?"


"Kak Haira menanyakan kenapa dengan perutnya yang tak besar lagi. Mirna terpaksa mengatakan kalau dia sudah kehilangan bayinya."


Pak Broto menarik napas, lalu mendekat pada Haira.


"Sayang ... putri Papa harus kuat ya. Jangan begitu, ini cobaan untuk kita. Haira adalah anak yang kuat. Papa, Mama, dan Mirna akan selalu ada di samping Haira." Pak Broto mencoba untuk menghibur sang putri sambil mengusap-usap kening Haira yang tampak basah karena keringat.


"Haira gak mau kehilangan anak itu, Pa ...."


"Ini sudah takdir, Sayang," sahut Pak Broto.


"Dirga ... mana Dirga, Pa? Ayo telepon dia, suruh dia ke sini, Pa," pinta Haira.


"Iya, Nak. Papa akan menelepon Dirga dan kedua mertuamu. Sekarang tenanglah dulu."


Pak Broto pun berpaling, mengambil telepon genggamnya, lalu menghubungi Pak Edy untuk mengabarkan berita kecelakaan Haira. Pak Edy yang menerima telepon, sontak sangat terkejut, lalu memberi kabar pada istrinya dan bergegas menuju ke rumah sakit.


Sementara itu, Dirga yang juga menerima telepon dari Pak Broto, mengalami kepanikan yang sama.


"Lalu ... bagaimana keadaan Haira dan kandungannya sekarang, Pa?" tanya Dirga di saluran telepon.


"Lebih baik Nak Dirga ke sini saja sekarang. Nanti di sini baru kita bicarakan lagi. Haira menunggu Nak Dirga di sini," jawab Pak Broto.


"Baik, Pak."


Dirga pun bergegas meminta izin pada atasannya untuk mengambil cuti karena sang istri tengah dirawat di rumah sakit. Dengan penerbangan terdekat, ia berangkat ke Surabaya. Menilik sang istri dan anak mereka yang masih di kandungan itu.


***

__ADS_1


__ADS_2