Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Rasa Sayang


__ADS_3

Di depan rumah minimalis berlantai dua itu, taksi yang ditumpangi Praba dan kedua orang tuanya berhenti. Pria itu segera turun dan membuka pintu mobil bagi kedua tamu pentingnya itu. Selanjutnya, ia meraih koper mereka dan membawanya.


Calya yang menyadari kedatangan tamu-tamu itu pun bergegas ke luar rumah untuk menyambut mereka.


Di depan pintu, Pak Nugraha dan istrinya berhenti sejenak.


"Bapak, Ibu ... selamat datang di sini. Saya Calya, teman kontrakan Praba," ujar Calya sambil menyalami pasangan suami istri itu bergantian.


"Oh, ini yang namanya Calya?" ujar Bu Nugraha.


Sesaat kemudian, lirikan matanya jatuh ke perut wanita itu. Ukurannya yang membesar sudah pasti mendatangkan tanya bagi Bu Nugraha.


"Kamu ... hamil?" tanyanya lirih.


Calya terdiam. Ia dapat merasakan ketegangan terpatri di raut wajah kedua orang tua Praba itu.


"Em ... Pak, Bu. Ayo kita masuk saja dulu. Ngobrolnya di dalam saja." Praba mengambil alih obrolan, sambil mengangkat koper dan mengarahkan kedua orang tuanya untuk berjalan masuk ke dalam rumah.


Praba mengantar mereka ke dalam kamar yang sudah disiapkan oleh Calya. Kamar tidur yang sebelumnya pernah digunakan oleh orang tua Calya. Calya sudah mengganti seprai dan gorden berwarna senada, serta meletakkan beberapa kuntum bunga segar di atas meja. Membuat suasana kamar itu menjadi semakin nyaman.


"Bu, Pak, mari makan siang dulu," ujar Calya di depan pintu kamar.


Praba memberi anggukan saat kedua orang tuanya menoleh padanya. Mengisyaratkan tanya tentang persetujuan Praba.


Kini, mereka sudah berada di meja makan. Calya dengan sigap menawarkan makanan untuk Praba dan orang tuanya.


Bu Nugraha masih belum mendapatkan jawaban pasti tentang kehamilan Calya. Karena itu, sesekali ia masih melirik ke arah perut wanita itu. Namun, di dalam hati ia tak memungkiri bahwa Calya adalah wanita yang cantik dan baik.

__ADS_1


"Wah, masakan Nak Calya ini enak sekali. Tidak kalah sama masakan ibunya Praba," ujar Pak Nugraha.


"Ah, Calya yakin kalau masakan Ibu jauh lebih enak," sahut Calya.


"Masakan Ibu dan Calya sama-sama enak." Praba menimpali.


Sampai beberapa saat kemudian, makan siang itu pun selesai. Kini, Praba dan kedua orang tuanya tengah duduk di ruang tamu. Sementara itu, Calya berada si dapur bersama Mbok Darmi untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Praba ... kamu tahu kan, meskipun Ibu ini hanya Ibu sambung, tapi Ibu sangat menyayangi kamu seperti anak kandung Ibu sendiri. Ibu selalu ingin yang terbaik bagimu. Pernikahanmu dengan Mayla harus terpisah karena takdir maut. Ibu sudah pasti berharap kamu bisa mencari pendamping hidup yang baru. Karena manusia itu tidak bisa hidup sendiri, harus ada teman untuk berbagi rasa. Jadi ... Ibu harap, pendamping hidup yang kamu pilih benar-benar yang terbaik. Bukan wanita sembarangan." Bu Nugraha berkata pada putranya itu.


Praba terdiam sejenak. Ibu yang ada di hadapannya memang bukanlah ibu kandungnya. Sang ibu telah tiada sejak ia masih baru beranjak remaja. Namun demikian, sang ibu sambung pun sudah dianggap sebagai ibu kandungnya sendiri. Mereka saling menyayangi selayaknya ibu dan anak.


"Ya, Praba tahu, Bu," sahut Praba.


"Katakan, Nak. Katakan kalau Calya bukanlah wanita yang akan kamu pilih. Katakan kalau kalian hanya berteman biasa karena tinggal di rumah yang sama. Sejujurnya ... Ibu melihat bagaimana cara kamu memandang dia, dan Ibu tahu kalau pandangan matamu padanya memiliki arti, sehingga ... Ibu merasa khawatir."


"Baik? Mana ada wanita baik yang diceraikan oleh suaminya, kemudian hamil dalam status seorang janda." Bu Nugraha berdesah lirih, benar-benar berisi kekhawatiran.


"Bu ... Ibu mau tahu kenapa dia diceraikan oleh suaminya? Salah satu alasannya adalah karena mereka mengatakan Calya tak bisa memberikan keturunan. Mereka menikah sudah lebih dua tahun, tetapi Calya tak juga mengandung. Kemudian, Calya diceraikan dalam keadaan hamil, tanpa disadari oleh siapa pun, termasuk Calya sendiri. Bu ... mantan suami Calya adalah teman sekantor Praba sewaktu di tempat tugas yang lama. Dia bahkan sudah menikahi wanita lain sejak masih beristri Calya. Tanpa kami sadari, takdir yang membawa kami untuk bertemu kembali di sini. Praba ... Praba menyayangi Calya. Kedekatan kami selama ini, membuat Praba ingin selalu menjaganya. Percayalah pada Praba. Praba tidak akan mengecewakan Ibu dan Bapak. Praba tidak akan salah memilih." Praba berkata dengan binar mata yang menyala-nyala.


"Apa kamu akan menikah dengannya?" tanya sang ibu.


Praba mengangguk. "Iya, tapi tidak sekarang. Sebab Calya belum bisa menerima Praba untuk saat ini."


Bu Nugraha menoleh pada suaminya. Sang suami hanya membalas tatapan itu dengan anggukan.


"Lakukan lah apa yang baik untukmu, Nak," ujar Pak Nugraha. Mengisyaratkan persetujuan atas kehendak putranya.

__ADS_1


***


Di dapur, Mbok Darmi sedang mencuci perkakas. Sementara Calya memasukkan beberapa paket ayam geprek ke dalam keranjang. Myesha pun sudah datang untuk mengambil paket ayam yang akan diantarkan lagi. Bu Nugraha saat ini juga sudah berada di dapur untuk melihat-lihat yang dikerjakan di sana.


"Bu, ini Myesha adik saya," ujar Calya memperkenalkan adiknya. "Dan ini Mbok Darmi yang bantu-bantu saya membuat pesanan ayam geprek ini," lanjutnya sambil menunjuk ke arah Mbok Darmi yang ditanggapi dengan anggukan kepala oleh wanita baya itu.


"Oh iya. Jualan ayam geprek ini ramai ya?" tanya Bu Nugraha.


"Alhamdulillah, setiap hari pesanan selalu saja ada, bahkan bertambah, Bu," sahut Calya.


"Wah ... baguslah. Selain ayam geprek apa ada menu yang lain?" tanya Bu Nugraha lagi.


"Saat ini hanya ayam geprek, Bu. Soalnya Calya memang mencari menu yang sederhana, disukai, tidak membosankan, tapi harganya terjangkau untuk berbagai kalangan," ujar Calya.


"Hmm ... iya, memang harus begitu. Tapi ... coba-coba menjual menu lain yang lebih variasi, tapi juga dengan harga yang terjangkau. Terus menunya juga yang disukai banyak orang," papar Bu Nugraha.


"Wah ... Calya belum dapat ide baru, Bu," sahut Calya.


"Emm .. Ibu punya beberapa resep masakan, bagaimana kalau kita uji coba dulu, siapa tahu ada yang cocok dan berhasil," ujar Bu Nugraha.


"Wah ... Ibu mau ngajarin Calya resep masakan?" tanya Calya dengan ekspresi sedikit tak percaya.


Bu Nugraha mengangguk.


"Aduh, Calya senang sekali. Terima kasih ya, Bu. Kalau begitu, hari ini juga, kita sudah bisa uji coba resepnya. Untuk pesanan malam bisa ditangani sama Mbok Darmi, karena ayamnya tinggal digoreng saja. Calya sama Ibu bisa fokus deh," ujar Calya senang.


Bu Nugraha mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


Sore itu, keduanya pun mulai melakukan eksperimen di dapur. Beberapa resep diajarkan oleh Bu Nugraha, sesuai dengan bahan yang tersedia di dapur Calya. Mulai dari ikan tumis saus, telur balado, sampai sambal goreng kentang hati.


__ADS_2