
Waktu yang terus berputar tak akan membawa untuk kembali ke masa lalu. Meskipun ada bagian dari masa lalu itu yang memang indah. Seperti Raindra yang sore ini memutuskan untuk meliburkan warung kopinya, dan menikmati suasana tepi pantai yang indah.
Di bawah naungan atap gazebo yang menghadap ke arah laut, lelaki itu duduk bersila dengan sebutir kelapa muda di hadapannya. Pikirannya melayang ke masa beberapa tahun silam. Di tempat ini, ia dan kekasihnya dulu selalu datang dan menghabiskan waktu bersama. Berbagai cerita pernah terungkap di situ. Namun, kini semua sirna bagai terbawa desir angin dan tergulung riak ombak.
Raindra menarik napas, menghirup dalam-dalam udara sejuk yang menerpanya itu. Setidaknya, mengenang memori itu sudah cukup untuk melepas kerinduan yang terpendam. Rasa rindu yang tak mungkin menemui dermaganya lagi, karena sang penerima rindu tak lagi mengharapkannya.
Sampai ketika telepon genggam milik Raindra berdering, ia pun terjaga dari khayalan itu.
Setelah meraih benda itu, Raindra memicingkan mata saat melihat nama Anela terpampang di sana. Sesaat, ia menimbang-nimbang ponselnya, sembari memikirkan untuk menjawab panggilan itu, atau membiarkannya terus berdering sampai berhenti dengan sendirinya.
Beberapa detik berlalu, Raindra masih belum juga mengambil keputusan. Sampai deringan panggilan kedua kembali terdengar.
Perlahan, ia pun meraih gawai itu, lalu menggeser tombol menerima panggilan.
"Halo," sapa Raindra setelah meletakkan ponsel itu di telinganya.
"Rain ... aku ... aku boleh bicara kan?" sahut Anela.
"Ada apa?"
"Kamu di mana? Kenapa pergi dengan cara seperti itu?" tanya Anela.
"Aku sudah mengembalikan semuanya kan? Jangan tuntut apa pun lagi dariku," ujar Raindra.
"Aku tak akan menuntut apa pun. Aku hanya ingin agar hubungan kita tetap baik-baik saja," balas Anela.
"Hubungan?"
"Em ... maksudnya adalah hubungan silahturahmi di antara kita."
"Oh ... ya, baiklah," sahut Raindra.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi," ujar Anela lagi.
"Yang mana?"
"Kamu di mana?"
"Aku ... sudah kembali ke kampung halaman."
"Apa yang kamu lakukan sekarang?"
"Saat ini?" tanya Raindra memastikan pertanyaan Anela.
__ADS_1
"Iya."
"Aku ... sedang berada di pantai."
"Sama siapa?"
"Sendiri."
"Rain ... maafkan aku," ujar Anela setelah hening beberapa detik.
"Sudahlah, Nel ...," sahut Raindra.
"Aku mohon, jangan marah lagi padaku. Aku berjanji untuk tidak memaksakan kehendak lagi. Kita jadi teman baik seperti dulu, waktu kita masih SMA. Kalaupun ada perasaan di hatiku, tak akan pernah aku ungkapkan lagi bila itu akan mengganggumu," ucap Anela
"Apa maksudmu, Nel?"
"Aku juga sudah membuat keputusan. Kedua usaha kafe kita akan ku serahkan pada Aliyah dan suaminya. Aku juga akan pindah kembali ke sana," sahut Anela.
"Kamu ... mau ke sini?" Raindra mengembuskan napas kasar.
"Untuk apa? Semua keluargamu kan ada di Jogja," sambung Raindra.
"Sudah ku katakan tadi. Aku ingin merubah semuanya," jawab Anela.
"Hmm ... terserah kamu saja. Tapi jangan pernah berharap lebih dariku lagi," ujar Raindra.
Sementara Raindra sendiri masih belum bisa mengartikan perasaannya setelah mendengar niatan Anela. Namun, di dalam hati ia dapat merasakan bahwa wanita itu telah berubah.
***
Cinta. Entah mengapa anugerah Tuhan yang satu itu bisa mengubah sisi manusia. Dari baik menjadi jahat, atau pun sebaliknya. Seperti yang terjadi pada Anela. Wanita yang telah menyimpan rasa cinta untuk sahabatnya sejak di bangku SMA, pernah membuatnya menjadi wanita egois.
Saat dia tahu bahwa cintanya tak akan berbalas, maka dia mencari cara dengan memanfaatkan kelemahan sang sahabat untuk menjauh dari wanita yang dicintainya. Dia lah Raindra.
Saat ini, setelah upayanya itu berakhir dengan kegagalan, Anela menyadari bahwa cinta yang membuatnya menjadi seperti itu, kini menjadi cinta yang memberikan pelajaran baginya.
Cinta tak bisa dipaksakan, tetapi dibiarkan dengan sendirinya bekerja. Dan hal itulah yang akan dilakukan oleh Anela. Membujuk cinta agar berpihak padanya dengan cara yang tak memaksa.
"Kamu yakin akan ke Sulawesi lagi, Nak?" tanya ibu Anela saat menghampiri putrinya yang sedang berkemas.
Wanita itu mengangguk. "Yakin, Bu."
"Kamu begitu mencintainya sampai harus melakukan ini?"
__ADS_1
"Anela hanya ingin Raindra merubah pandangannya pada Anela. Anela tidak ingin dia berpikir bahwa Anela sejahat itu."
"Bagaimana kalau dia tetap saja tidak mencintai kamu? Bukankah kamu hanya akan membuang-buang waktu saja?" lanjut sang ibu.
"Anela tak peduli soal akhirnya. Apa pun yang akan terjadi antara Anela dan Raindra, Anela akan tetap menerimanya."
"Sampai kapan? Ingatlah, Nak, adikmu Aliya sudah menikah. Kamu tidak boleh lebih lama lagi menunda-nunda waktu," ujar ibu Anela lagi.
Wanita itu pun melangkah lebih dekat pada ibunya.
"Anela hanya ingin mendapat maaf dari Raindra. Memperbaiki hubungan persahabatan kami seperti dulu. Anela tidak mengharap hal yang lebih darinya. Karena itu, setelah semuanya usai, Anela akan kembali ke kota ini. Melakukan apa pun yang Mama dan Papa inginkan. Anela bersedia menikah dengan siapa saja yang kalian kehendaki," ucap Anela sambil menatap lekat pada sang ibu.
"Baiklah, apa pun yang terbaik untukmu, kami akan mendukungnya," sahut wanita paruh baya itu sambil memeluk sang putri.
***
Hari ini, pesawat Anela telah mendarat di kota tujuannya. Wanita itu turun dari pesawat dengan mengurai senyum di wajahnya. Sudah sangat lama dia meninggalkan kota itu. Memang sudah cukup banyak perubahan yang terjadi. Mulai dari tatanan kota sampai tingkat keramaiannya.
Setelah masuk ke dalam taksi, Anela pun menyebut tujuannya di salah satu hotel yang sudah dipesannya di aplikasi online. Dahulu, saat keluarganya pindah ke Jogja, mereka memang menjual semua aset mereka di kota ini. Selain itu, di sini juga mereka tidak memiliki sanak keluarga. Karena itu lah, Anela akan benar-benar memulai perjuangannya sendiri di kota ini.
Di dalam kamar hotel, sembari beristirahat di tempat tidur, Anela meraih ponselnya dan mengirim pesan pada Raindra.
[Aku sudah tiba.]
Sementara itu, Raindra yang sedang berada di pantry warung kopinya, merasakan telepon genggamnya bergetar. Setelah membuka dan membaca pesan dari Anela itu, dia pun membalasnya.
[Iya.]
[Kamu sedang apa?] balas Anela.
[Kerja.]
[Di mana?]
Raindra hanya membaca pesan itu, tetapi tidak membalasnya. Lelaki itu hanya kembali fokus pada pekerjaannya, membuat menu pesanan para pelanggan.
Di sisi lain, Anela menarik napas dalam-dalam. Mencoba untuk menenangkan perasaannya. Ia pun mulai memikirkan hal-hal yang harus dilakukannya. Yang pertama tentu saja mencari tempat tinggal.
Anela pun mulai berselancar di dunia maya untuk mencari iklan rumah yang disewakan. Tentu saja rumah itu harus memiliki lokasi yang strategis, karena dia akan mulai merintis sebuah usaha baru di sana, untuk memulai hidup barunya.
***
Anela adalah salah satu peran pendukung di cerbung ini. Dan kali ini Author akan memberikan visualisasi Anela yang diperankan oleh Della Dartyan.
__ADS_1
Nah, inilah dia.