Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Saling Selidik


__ADS_3

Pagi ini, Haira memutuskan untuk berbelanja berbagai perabotan dan keperluan rumah tangga. Ia hanya tinggal memilih barang-barang itu, yang kemudian akan diantarkan oleh pihak toko ke alamat rumah mereka.


Setelah melakukan pembayaran biaya sewa, Dirga sudah mendapatkan kunci rumah itu yang sudah diserahkan pada Haira. Namun, karena ia harus ke kantor, maka Haira sendiri lah yang ke rumah itu untuk menunggu berbagai barang yang sudah dibelinya datang.


Dari balik jendela rumah, Calya mengintip ke arah rumah depan. Ia bisa melihat bagaimana mantan madunya itu sedang sibuk mengarahkan para pengantar barang yang mengangkat barang-barang itu ke dalam rumahnya.


Calya mengembuskan napas pelan, kemudian berpaling hendak masuk ke dalam. Namun, langkah kakinya terhenti saat mengingat sesuatu. Ia pun kembali menuju ke jendela, dan kembali mengintaikan pandangannya ke arah depan. Khususnya ke arah tubuh Haira.


Wanita itu sedang memakai sebuah gamis berwarna hitam. Namun, di sisi pinggangnya yang berlekuk, sangat jelas menampilkan tubuh langsing wanita itu. Sekali lagi, Calya mencoba untuk menajamkan penglihatannya. Akan tetapi, kali ini gerakan lincah Haira justru menegaskan bahwa tubuh Haira memang tidak menunjukkan tanda-tanda yang semestinya ada padanya saat ini.


Sejenak, Calya mencoba menerka usia kandungan Haira yang semestinya sudah memasuki bulan ke delapan. Di usia kandungan yang segitu, seharusnya tubuh Haira tak selangsing itu. Begitu juga dengan gerakannya yang tak mungkin selincah yang dilihat oleh Calya.


"Apa mungkin, dia sudah melahirkan secara prematur?" gumam Calya.


Namun, tentu saja ia belum bisa mendapatkan jawaban itu saat ini. Tak mungkin juga ia langsung memunculkan dirinya ke hadapan wanita itu. Calya pun memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya seperti biasa.


***


Hari ini, Dirga masih menggunakan taksi saat pulang dari kantor. Haira meneleponnya untuk langsung pulang ke rumah baru mereka. Saat memasuki rumah, Dirga cukup kaget melihat rumah itu sudah dalam keadaan bersih dan rapi.


"Tadi aku order tenaga kebersihan beberapa orang untuk bantu beresin rumah ini. Terus, aku juga order makanan online. Maaf, aku capek banget jadi belum bisa masak sendiri," ujar Haira saat melihat guratan wajah sang suami yang tampak heran.


"Oh ...," sahut Dirga. "Lalu .. apa kamu senang dengan rumah ini?" lanjutnya lagi.


"Senang banget, Dir. Rumahnya nyaman," ujar Haira.


"Baguslah. Hmm ... aku mandi dulu ya," ucap Dirga kemudian berlalu memasuki kamar utama.


Selepas itu, ia pun menghampiri sang istri di meja makan. Sambil menyantap makan malam, mereka berbincang.


"Bagaimana keadaan di kantor, Dir?" tanya Haira.


"Ya, biasa saja. Em ... apa saya belum bilang?" sahut Dirga.


"Bilang apa?"


"Soal Praba."

__ADS_1


"Praba? Temanmu yang itu?"


Dirga mengangguk. "Ya, Praba. Dia juga bertugas di sini, dan kembali lagi, kami seruangan, dan dia menjadi atasanku."


Haira mengembuskan napas kasar. "Tenang saja, Sayang. Aku akan minta Papa lagi untuk membantu mengurus jabatan untukmu. Praba itu hanya sedikit beruntung saja bisa jadi atasanmu."


"Aku tidak memikirkan soal itu, Ra." Dirga tampak tak suka dengan perkataan Haira.


"Lantas?" sergah Haira.


"Praba juga tinggal di sini. Tepatnya di rumah depan itu," ujar Dirga.


"Oh ya? Tapi ... saya lihat rumah itu kelihatan ramai. Setidaknya ada beberapa orang yang tinggal di sana. Tadi ada cewek yang beberapa kali keluar masuk pakai motor," ungkap Haira.


"Em ... kata Arya, Praba memang mengontrak rumah itu bareng temannya. Ya, mungkin supaya biaya sewanya lebih terjangkau," gumam Dirga.


"Lalu ... apa masalahnya kalau Praba jadi tetangga kita?" tanya Haira memastikan kekhawatiran Dirga yang sebelumnya.


Dirga terdiam sejenak. Ia kembali mengingat saat dirinya berseteru dengan pria itu. Bagaimana dia mendapati temannya itu memeluk tubuh istrinya, Calya. Bagaimana ia pernah sangat cemburu, dan mencurigai adanya hubungan di antara mereka.


***


Sampai saat usai makan, Myesha yang mengambil alih pekerjaan mencuci piring, sehingga Calya pun beristirahat di kamarnya. Di ruang tengah, Pak Nugraha dan istrinya sedang menonton televisi. Kesempatan itu digunakan oleh Praba untuk mengirim pesan pada Calya agar bercerita padanya.


Calya pun memberi tahu Praba tentang kondisi fisik Haira yang dilihatnya pagi tadi. Ia tak melihat ada tanda-tanda wanita yang sedang hamil tua pada wanita itu. Mengetahui hal itu, Praba pun berjanji pada Calya untuk mencari tahu tentang hal itu. Memang itu bukanlah urusan mereka, tetapi karena Calya merasa ganjal dengan hal itu, maka Praba pun memutuskan untuk mengetahuinya.


***


Pagi ini, saat Mbok Darmi datang, Calya menyodorkan selembar kertas dan beberapa lembar rupiah padanya.


"Mbok, bisa tolong untuk hari ini Mbok yang belanja ke pasar ya," gumam Calya.


"Iya, Bu, dengan senang hati," ujar Mbok Darmi.


Calya memang belum ingin keluar dari rumah. Ia hanya khawatir bila Haira harus melihat dirinya secepat ini.


Pak Nugraha yang sedang berada di depan rumah, tiba-tiba tersentak saat seseorang menyapanya. Ia menoleh pada wanita cantik itu.

__ADS_1


"Pak, perkenalkan, saya Haira, tetangga depan rumah. Saya dan suami baru saja pindah kemarin." Haira berkata sambil tersenyum pada pak Nugraha.


"Oh iya, Bu. Pantas saja, saya lihat rumahnya sudah terang semalam ," sahut Pak Nugraha.


"Iya. Em ... Bapak sendiri, sudah lama ya tinggal di sini?" tanya Haira mencari tahu.


"Oh ... tidak, Bapak ini bukan orang sini. Kebetulan anak kami pindah tugas di sini, jadi saya dan istri memutuskan untuk mengunjunginya sekalian jalan-jalan," ujar Pak Nugraha.


"Oh, anak Bapak kerja di kantor mana?"


"Di kantor kejaksaan."


"Wah ... sama dong dengan suami saya," ujar Haira.


"Oh ya? Kok bisa kebetulan ya," ujar Pak Nugraha.


Tepat di saat itu, Bu Nugraha keluar dari dalam rumah. Ia menghampiri tempat di mana suaminya sedang mengobrol dengan Haira.


"Ada tamu ya, Pak?" sapa Bu Nugraha.


"Oh, ini tetangga depan rumah, Bu, baru pindah kemarin" ucap Pak Nugraha. "Suaminya ternyata sekantor sama Praba, Bu," lanjutnya.


"Oh ya?" sahut Bu Nugraha.


"Oh ... anak Bapak dan Ibu itu Pak Praba ya?" ujar Haira, berpura-pura tidak tahu.


Suami-istri itu mengangguk.


"Wah ... kalo sama Pak Praba, suami saya teman baik. Bahkan sebelum di sini, mereka kan di tempat tugas yang sama juga," ujar Haira. "Em ... apa sekarang Pak Praba sudah menikah, atau mungkin sudah punya calon istri?" lanjut Haira menyelidiki.


Pak Nugraha dan istrinya saling berpandangan sejenak, sebelum akhirnya Bu Nugraha menjawab. "Praba belum menikah lagi, tapi semoga disegerakan."


"Oh ... berarti calon istrinya sudah ada ya?" tanya Haira.


"Em ... bisa dibilang begitu" sahut Bu Nugraha lagi.


"Wah ... syukurlah kalau begitu. Em ... tapi kalau boleh tahu, calon istrinya itu siapa ya?"

__ADS_1


Pak Nugraha dan istrinya kembali saling berpandangan.


***


__ADS_2