Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Istri


__ADS_3

Satu bulan sejak Dirga kembali ke kota tempat tugasnya, Haira pun memutuskan untuk menyusul. Namun, meski telah mengabari sang suami, Dirga tak menjemput Haira di Surabaya. Dia membiarkan istrinya untuk datang seorang diri. Kesibukan menjadi alasannya.


Sesampai di rumah dinas, Haira langsung masuk ke dalam rumah dengan menggunakan kunci yang dibawanya. Saat ini, Dirga masih berada di kantor.


Haira memperhatikan seisi rumah itu. Tak ada yang berubah. Namun, ia meyakini bila sikap sang suami telah berubah padanya. Ia sudah tak memiliki senjata untuk memenangkan hati lelaki itu lagi.


Drrttt. Telepon genggam milik Haira bergetar. Membuyarkan lamunan Haira. Nama Bu Heri terpampang di layar benda pipih itu. Haira pun menjawabnya.


"Halo, Bu Heri," sapa Haira.


"Halo Bu Dirga yang cantik. Apakah Bu Dirga sudah sampai di rumah dinas? Hmm... perginya kok lama banget ya?" sahut Bu Heri.


"Iya, ini saya baru sampai. Bu Heri tahu dari mana kalau saya datang hari ini?"


"Oh ... itu Pak Heri yang bilang. Lha kan saya memang suruh nanyain ke Pak Dirga. Soalnya saya kan rindu sama Bu Dirga. Terus ... saya sama Bu Dito juga ingin menghibur Bu Dirga. Kabarnya kan Bu Dirga keguguran ya?"


"Em ... Bu Heri tau dari mana lagi?" tanya Haira.


"Ya kan waktu itu Pak Dirga cuti pulang untuk menengok Bu Dirga yang harus dioperasi kan? Ya namanya di kantor, berita pasti cepat menyebar. Iya kan? Kami turut berduka lho Bu Dirga."


"Oh ... iya, terima kasih, Bu Heri."


"Kalau begitu, sekarang juga, saya dan Bu Dito akan ke rumah Bu Dirga ya?"


"Oh ... iya, baiklah."


Obrolan di telepon itu pun berakhir. Haira menyempatkan diri untuk berganti pakaian sejenak di kamar. Ia melihat beberapa tumpukan pakaian milik Dirga yang masih terbungkus plastik teronggok di atas kasur. Sepertinya baru diambil dari laundry. Haira pun memasukkan pakaian-pakaian itu ke dalam lemari.


Haira duduk termenung di tepi tempat tidur. Ia sedang berpikir akan kelanjutan masa depan rumah tangganya. Bagaimana sekarang Dirga bisa mencintai dirinya dengan keadaan yang seperti ini. Ia tak akan pernah bisa memberikan keturunan untuk suaminya itu.


Namun, Haira tak akan menyerah. Mendapatkan Dirga dilakukannya dengan penuh perjuangan. Berada di posisi seperti ini pun tak mudah baginya. Haira telah menyandang gelar sebagai istri sah, maka ia tak akan pernah melepaskannya begitu saja.


Setengah jam berlalu, suara ketukan pintu membangunkan Haira yang sedang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Wanita itu pun beranjak untuk membukanya.

__ADS_1


Di depan pintu, senyuman dua orang wanita telah menunggu. Bu Heri dan Bu Dito pun melangkah masuk setelah Haira mempersilakan.


"Wah ... Bu Dirga makin cantik saja setelah pulang ke kota. Pasti di sana perawatan terus ya?" gumam Bu Heri.


"Ah biasa saja kok, Bu Heri. Saya fokus istirahat saja di sana, ujar Haira.


"Hmm ... istirahat saja bisa makin cantik, apalagi kalau perawatan," timpal Bu Dito.


"Ah ... Bu Dito bisa saja. Ya sudah duduk dulu ya, biar saya buatkan minum," ucap Haira sambil melenggang menuju ke dapur.


"Tidak usah repot-repot ya, Bu Dirga, keluarin apa yang ada saja," teriak Bu Heri mengiringi aktivitas Haira di dapur.


Beberapa menit kemudian Haira sudah kembali dengan membawa sebuah nampan. Tiga cangkir teh sudah diletakkan di atas meja. Sepiring kue lapis legit melengkapi sajian itu.


"Mari, silakan dinikmati Ibu-ibu," ujar Haira.


"Ini lapis legitnya pasti oleh-oleh dari Surabaya ya?" ujar Bu Heri sambil mencomot satu potong kue itu.


"Waduh ... kirain bawanya banyak, buat oleh-oleh untuk kita-kita gitu," ujar Bu Heri sambil mengerlingkan matanya pada Bu Dito.


"Ah Bu Heri ini, barangkali barang bawaan Bu Dirga sudah penuh sama tas-tas dan baju-baju yang baru," celetuk Bu Dito.


"Wah iya ya. Apa seperti itu Bu Dirga?" tanya Bu Heri.


"Ah, tidak juga kok. Seperti yang saya bilang tadi kalau saya tidak bisa membawa banyak barang karena datangnya sendiri," sahut Haira.


"Oh begitu ya," ujar Bu Heri dan Bu Dito bersamaan. Ada gurat kecewa terpatri di wajah mereka.


"Ya sudah kalau begitu, sepertinya kita tidak usah lama-lama di sini Bu Dito. Bu Dirga kan perlu istirahat juga untuk persiapan malam nanti," ujar Bu Heri lagi.


"Lho memangnya sebentar malam ada acara apa to, Bu Heri?" tanya Bu Dito bingung.


"Aduh Bu Dito ini pura-pura tidak tahu saja. Pak Dirga kan sudah satu bulan ini puasa, jadi sebentar malam sudah pasti kalau dia akan buka puasa. Hihihi," ujar Bu Heri sambil cekikikan.

__ADS_1


"Oh iya ya. Apalagi Bu Dirga baru saja habis keguguran. Ya, pastilah Pak Dirga akan jor-joran supaya jadi lagi. Hehehe," timpal Bu Dito.


Mendengar hal itu, mimik wajah Haira berubah. Senyuman menghilang dari wajah cantik itu.


"Iya nih, makanya kita pulang saja supaya Bu Dirga bisa istirahat," sahut Bu Heri.


"Tapi ini lapis legitnya enak banget lho," kata Bu Dito sambil melirik ke arah piring kue itu.


"Oh ya sudah kuenya itu dibawa sana, Ibu-ibu. Sebentar ya saya ambilkan plastik," ujar Haira.


Kedua ibu itu pun mengangguk sambil tersenyum semringah. Sementara Haira kini berlalu untuk mengambil dua buah wadah di dapur. Tak lama kemudian ia kembali dan mengisi kue itu ke dua tempat dan diserahkan ke masing-masing tamunya.


"Waduh, terima kasih lho Bu Dirga. Walau hanya sedikit tapi kami senang karena sudah dapat oleh-oleh dari Bu Dirga," sahut Bu Heri.


Haira hanya menanggapinya dengan anggukan dan senyum tipis. Sampai akhirnya kedua tamunya itu benar-benar berlalu pergi.


***


Sore hari, Dirga telah pulang. Haira menyambutnya dengan menyiapkan makanan dan minuman yang dimasaknya sore tadi.


"Tumben," gumam Dirga, mendapati pelayanan yang tak biasa dilakukan oleh sang istri.


"Aku kan istrimu, Dir ...," gumam Haira.


"Oh," sahut Dirga.


"Dir ... please. Jangan bersikap seperti itu padaku. Aku akui bila selama ini aku tak sempurna melayani kamu sebaiknya seorang istri. Tapi sekarang aku berjanji bahwa aku akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk kamu. Aku akan memasak makanan untukmu, mencuci dan menyiapkan pakaianmu, serta melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya. Aku akan menjadikan diriku layak untuk mendampingi kamu, Dir ...."


"Kenapa baru sadar sekarang? Apa karena kamu sudah tidak merasa di atas angin lagi? Apa karena sudah tak ada yang bisa kamu bandingkan lagi dari Calya?" Dirga menatap tajam pada Haira.


Wanita itu bergeming. Perkataan Dirga benar-benar menusuk ke dalam hatinya. Namun, ia tak mampu membalasnya. Sebab, pertengkaran pasti akan menjadi ujungnya.


***

__ADS_1


__ADS_2