Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Usaha Kuliner


__ADS_3

Keputusan Calya untuk membuka sebuah usaha kuliner telah bulat. Apalagi Praba mendukungnya dengan bantuan modal. Sang ibu dan adik pun senantiasa membantunya saat berkreasi dengan berbagai resep dan menu masakan.


Calya yakin bila setiap sesi kehidupan harus dilalui dengan perjuangan. Ia belum kalah, meskipun telah mengalah. Kesempatan untuk bangkit akan selalu ada bila mau terus berusaha. Baginya, roda kehidupan akan terus berputar, membawa pada titik di mana ia akan bertahan, menjalaninya dengan ikhlas.


"Em ... yang ini rasanya enak, Mbak!" seru Myesha sambil mengunyah sepotong ayam geprek.


"Benar, setelah berapa kali buat, kayaknya sambal ini yang paling enak," sahut sang ibu.


"Benarkah? Akhirnya ... alhamdulilah. Ayo difoto yang bagus, Sha. Hari ini kamu sudah bisa promosi untuk orderan besok pagi," ujar Calya dengan semangat.


Myesha pun melakukan perintah sang kakak. Beberapa kali jepretan kamera telepon genggamnya membidik gambar makanan yang tersaji di meja itu.


Sejak sore, Myesha sudah sibuk mempromosikan ayam geprek itu di media sosialnya. Target utamanya adalah teman-teman kuliahnya yang juga merantau. Harga yang mereka patok juga tak begitu mahal agar terjangkau untuk kalangan mana pun.


"Mbak, sudah masuk sepuluh pesanan nih," teriak Myesha.


"Oke, Sha."


Calya pun mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan diraciknya esok pagi. Ayam sudah di-ungkep dengan bumbu-bumbu, selanjutnya akan digoreng besok pagi. Begitu juga dengan bahan untuk membuat sambal yang sudah disiapkan.


Hari Minggu ini, Praba harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor. Sementara Bagas sudah pulang ke rumahnya sejak sore. Pukul tujuh malam, Praba pulang. Ia hanya berpapasan dengan Pak Darmawan di ruang tamu, sebab ketiga penghuni rumah lainnya masih sibuk berjibaku di dapur.


Namun, seusai mandi dan berganti pakaian, Praba segera turun dan memasuki dapur. Di sana ia mendapati mereka telah selesai menyiapkan makan malam.


"Sepertinya ... saya mencium aroma masakan yang spesial," gumam Praba.


"Iya, tadi kami eksperimen membuat ayam geprek, dan sudah berhasil, Mas. Besok sudah mulai jualan," sahut Myesha.


"Oh ya? Em ... baguslah. Semoga usaha kuliner ini berjalan lancar ya," ucap Praba.


"Amin ...." Mereka bertiga menyahuti pernyataan itu.


***


Makan malam pun berlangsung. Calya menghidangkan ayam geprek yang dibuatnya sebagai menu, sekaligus agar sang ayah dan Praba juga dapat mencicipinya dan memberikan respon.

__ADS_1


"Hmm ... ini benar-benar enak," gumam Praba.


"Iya, enak sekali," sahut Pak Darmawan.


"Sepertinya, akan banyak pelanggan yang membeli ayam geprek ini," sahut Praba lagi.


"Iya, Bapak juga mendoakan yang terbaik untuk usaha kalian ini," timpal Pak Darmawan lagi.


Calya sangat senang mendapatkan apresiasi itu. Semangatnya untuk menjalankan usaha kuliner ini pun semakin menggebu. Sorot matanya berbinar saat menyaksikan sang ayah dan sahabatnya itu menikmati masakan buatannya dengan begitu lahap.


***


Keesokan harinya, sebelum berangkat ke kampus. Myesha mulai mengantarkan pesanan makanan itu. Tentu saja sebelumnya, ia meminta Bagas untuk menjemputnya lebih pagi agar dapat membantu mengantar pesanan makanan itu.


Hari berikutnya, pesanan yang masuk menjadi lebih banyak. Ditambah lagi, Myesha dan Bagas semakin gencar mempromosikan ayam geprek 'Calya' baik melalui media sosial maupun secara langsung. Tetangga di komplek perumahan itu pun mulai mengetahui perihal dagangan kuliner mereka.


Satu bulan berlalu. Calya kini berani untuk membelikan sepeda motor dengan cara mengangsur untuk Myesha, agar lebih memudahkan pergerakan adiknya itu dalam mengantarkan pesanan. Sebab, tak seterusnya mereka bisa meminta bantuan Bagas. Bagaimana pun pemuda itu juga memiliki kegiatan yang lain.


Di bulan ini, kandungan Calya telah memasuki bulan ke empat. Melihat kondisi anak-anak mereka yang kini lebih baik, Pak Darmawan dan sang istri pun memutuskan untuk kembali ke kota mereka.


"Besok, Bapak dan Ibu pulang dulu. Sudah hampir dua bulan kami meninggalkan rumah, pasti sudah banyak debu," ujar Pak Darmawan.


"Nanti kalau Calya lahiran, kami pasti datang lagi," jawab sang ibu.


"Nak Praba, kami titip Calya dan Myesha ya. Kami sangat berterima kasih atas kebaikan Nak Praba pada anak-anak kami," ucap Pak Darmawan pada Praba.


"Tentu saja, Pak. Saya akan menjaga mereka dengan baik," sahut Praba.


Demikianlah, malam itu Calya dan Myesha membantu kedua orang tua mereka mengepak barang. Beberapa buah tangan juga mereka sertakan untuk sanak keluarga dan tetangga di sana.


"Apakah Bapak dan Ibu akan berterus terang pada semua keluarga tentang status Calya saat ini?" Calya mengungkapkan tanya itu setelah aktivitas tadi usai.


Sejenak Pak Darmawan dan istrinya saling berpandangan.


"Tentu saja, hal itu tak perlu ditutup-tutupi," ujar Pak Darmawan kemudian.

__ADS_1


Calya hanya menghela napas, kemudian memeluk ayah dan ibunya bergantian.


"Sekali lagi maafkan Calya, Pak, Bu," ujarnya.


"Tidak, Nak. Tak ada yang perlu dimaafkan," ujar sang ibu.


***


Keesokan harinya, Calya dan Myesha mengantarkan orang tua mereka ke bandara dengan menggunakan taksi. Perasaan lega mengiringi perpisahan itu. Calya lega karena hal yang ditutupinya dari orang tuanya telah terungkap, dan mereka mampu untuk menerima hal itu. Sementara, kedua orang tua Calya lega karena anak-anak mereka telah mampu untuk mandiri. Tak ada yang perlu mereka khawatirkan lagi. Masa lalu yang dialami putri tunggal mereka tak menggugurkan semangat sang putri untuk terus melanjutkan hidup. Mereka merasa bangga atas hal itu. Kebanggaan yang mampu menutupi keperihan hati mereka sebelumnya.


Sekembalinya di rumah sore ini, Calya dan Myesha kembali melanjutkan aktivitas di dapur. Pesanan untuk esok hari sudah direkap oleh Myesha, sehingga Calya harus segera menyiapkan bahan makanan untuk diraciknya.


"Mas Praba kok belum pulang ya, Mbak?" gumam Myesha saat melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan waktu pukul tujuh malam.


"Mungkin banyak kerjaan, Sha," sahut Calya.


"Mbak ... apa Mbak Calya tidak menyadari sesuatu?"


"Hah? Apa?"


"Soal Mas Praba," gumam Myesha.


"Ada apa dengan dia?" tanya Calya bingung.


"Menurut Myesha ... Mas Praba itu suka sama Mbak Calya," desis Myesha.


"Hah? Suka apa?"


"Suka ya suka. Em ... sayang ... atau bahkan cinta," gumam Myesha.


"Hush! Apaan sih? Jangan ngomong begitu ah," gerutu Calya.


"Coba deh Mbak Calya pikir. Mana ada cowok yang mau berkorban sedemikian rupa untuk seorang wanita kalau bukan karena memiliki perasaan. Emm ... maaf, Mbak, contohnya saja Mas Raindra. Waktu itu dia meminta bantuan Myesha untuk bisa memberikan yang terbaik untuk Mbak Calya, ya karena dia masih sayang sama Mbak Calya. Mungkin ... Mas Praba saja yang belum berani untuk mengungkapkannya karena bagaimanapun dia adalah kawan Mas Dirga juga."


Calya termangu mendengar pemaparan sang adik. Jantungnya berpacu sedikit cepat. Ia menyadari bahwa perhatian Praba padanya memang sedikit berlebihan. Namun, ia sendiri tak berani untuk mengambil kesimpulan dengan mengartikannya sebagai hal yang lain. Baginya, Praba melakukan semua ini karena sebuah kepedulian sebagai seorang sahabat.

__ADS_1


Hanya itu.


***


__ADS_2