
Di ruang tamu, satu set kursi plastik yang dibawa dari rumah lama sudah ditata. Pak Darmawan, Praba, dan Bagas sudah duduk di sana. sambil menikmati hidangan teh hangat yang sudah disajikan. Sementara itu, Calya, Myesha dan ibu mereka masih sibuk menata dapur.
"Mbak ... maafkan Myesha ya. Mbak Calya sudah tidak marah kan?" Myesha mendekat pada sang kakak yang sedang menata piring.
"Hem ...," gumam Calya.
"Mbak ... ayo dong senyum sama Myesha," rengek gadis itu lagi.
"Iya ... iya, nih ... hiii," sahut Calya sambil menunjukkan deretan giginya, menandakan bahwa ia telah menuruti permintaan sang adik.
"Makasih kakakku tersayang," ujar Myesha sambil memeluk tubuh Calya.
"Mbak tidak mungkin bisa marah lama-lama sama kamu, Sha," lirih Calya sambil mengelus rambut sang adik.
Sang ibu yang menyaksikan hal itu pun melangkah mendekati mereka.
"Sudahlah, Nak. Semua pasti ada hikmahnya. Bagaimana pun juga, kita tetap harus berterima kasih pada Raindra, karena niatnya yang baik untuk membantu, apa pun alasannya. Secepatnya, Myesha harus menemui Raindra untuk melakukan hal itu, sekaligus meminta maaf atas apa yang harus terjadi," gumamnya.
"Iya, Bu. Sore ini Myesha akan menemui Mas Raindra di cafe, sahut Myesha.
Sementara itu Calya mengangguk sesaat, lalu berkata, "Sampaikan permohonan maaf Mbak juga padanya "
Myesha menatap sang kakak. "Iya, Mbak, Myesha mengerti."
Calya mengembuskan napas pelan. "Yuk, lanjutkan pekerjaannya."
***
Malam ini di rumah Bagas. Praba sedang memasukkan barang-barang miliknya ke dalam tas. Setelah beres, ia pun menemui kedua orang tua Bagas untuk berpamitan, sebab hari ini ia akan pindah ke rumah baru itu.
Setelah berpamitan, Praba pun mengajak Bagas untuk pergi bersamanya. Kebetulan ini adalah malam minggu, sehingga Bagas akan menginap bersama Praba, sekaligus bisa apel dan bertemu Myesha.
Setiba di rumah baru itu, keluarga Calya tengah bersiap untuk makan malam. Praba dan Bagas pun bergabung dengan mereka setelah sebelumnya menyimpan barang-barang mereka ke dalam kamar di lantai atas.
Dalam acara makan malam sederhana itu, hanya obrolan ringan yang terjadi. Namun, sesekali Praba mencuri pandang pada Calya. Di dalam hati, Praba merasa bahagia karena bisa berada lebih dekat dengan wanita itu.
Sampai saat makan malam itu selesai, Praba mengajak Calya untuk duduk di teras balkon.
"Mau ngapain?" tanya Calya.
"Ngobrol-ngobrol saja sambil lihat bulan," ujar Praba.
Sementara itu, Pak Darmawan dan sang istri kini telah masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Sedangkan, Bagas dan Myesha memilih untuk duduk dan mengobrol di teras depan.
"Lihat bulan?" tanya Calya lagi.
"Iya ... yuk." Praba langsung memegang tangan Calya dan mengajaknya berdiri lalu berjalan menapaki anak tangga.
Di teras balkon, Praba menggelar sehelai tikar plastik. Kemudian mengajak Calya untuk duduk di situ.
"Tahu tidak, kalau ibu hamil itu harus selalu bahagia," ujar Praba.
"Ya ... supaya anaknya juga bahagia," sahut Calya.
"Em ... kalau sudah tahu begitu, ya mestinya kamu tidak boleh bersedih lagi," ucap Praba.
"Siapa yang bersedih?" tanya Calya.
__ADS_1
"Jadi kamu tidak sedih?" Praba menengok pada Calya.
Wanita itu menggeleng.
"Kamu tidak sedih setelah kehilangan pekerjaan?" tanya Praba lagi.
Calya kembali menggeleng. "Kalau terus bekerja di sana, bukankah justru akan membuat saya semakin sedih?"
"Lalu ... sekarang rencanamu apa? tanya Praba.
"Sepertinya, memang sudah tidak memungkinkan lagi untuk saya mencari pekerjaan. Saya akan mencoba membuka usaha kuliner, lalu dijual online. Myesha juga kan sudah tidak bekerja lagi. Saya rasa dia akan mau membantu saya memasarkan jualan itu," papar Calya.
"Wah ... bagus. Ide itu bagus sekali. Kamu kan pandai memasak. Hmm ... saya juga akan membantu untuk memasarkan kuliner buatanmu," sahut Praba.
Calya mengangguk sambil tersenyum senang. "Tapi ... saya harus bisa membuat sesuatu yang unik. Sesuatu yang punya nilai lebih, sehingga orang-orang akan terus membeli makanan itu."
"Caranya gimana?" tanya Praba.
"Cara apa?"
"Ya caranya membuat sesuatu yang mempunyai nilai lebih itu."
"Ya ... harus uji coba terus dong," sahut Calya.
"Oke ... kalau begitu, saya akan menanam modal untuk memulai usaha kuliner itu," gumam Praba.
Calya menengok padanya. "Sungguh?"
"Ya, tentu saja. Asal kamu bahagia, apa pun akan saya lakukan," ujar Praba
"Hah?"
"Kenapa kebahagiaan saya penting untuk kamu?"
"Kan sudah saya bilang tadi, ibu hamil itu harus bahagia," sahut Praba.
Calya hening sejenak sambil mengelus perutnya. Ia merasa bersyukur karena ada orang lain yang begitu peduli akan kebahagiaan bayi itu. Hal yang bahkan tidak dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri.
"Cal ... coba lihat bulannya," ujar Praba, menyentakkan Calya dari khayalannya.
Calya pun mendongakkan kepalanya, melihat ke arah benda langit itu.
"Ingat tidak, saya pernah bilang kalau kamu lagi sedih, ke luar saja melihat bulan. Dan ... waktu itu, saya memberikan sesuatu padamu sebagai hadiah ulang tahun," lanjut Praba.
Mendengar hal itu, Calya pun teringat pada kalung liontin berbentuk bulan yang pernah diberikan oleh Praba itu. Perlahan, jemarinya merogoh benda yang tergantung di lehernya itu, dan terselip di dalam baju yang dipakainya.
Sekarang, benda itu tergenggam di jemarinya.
"Kamu masih memakainya?" gumam Praba saat melihat ke arah Calya.
"Iya, tentu saja. Sejak kamu memberikannya, saya tidak pernah melepaskan kalung ini," jawab Calya.
"Oh ya? Em ... terima kasih," sahut Praba.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Calya bingung.
"Terima kasih karena selalu memakai benda pemberianku itu. Saya mengira, kamu sudah membuangnya," gumam Praba.
__ADS_1
"Ya ampun, tidak mungkin lah saya membuangnya. Kalung ini sangat berarti bagi saya," ujar Calya.
"Berarti? Kenapa?"
"Ya, karena ini adalah pemberian dari seseorang yang menghibur saya di hari ulang tahun yang harus dilalui tanpa seseorang yang semestinya berada di sisi saya saat itu," jelas Calya.
"Hmm ... saat-saat itu sudah berlalu. Sekarang sudah sepantasnya kamu melalui masa-masa bahagia. Untuk dirimu, keluarga, dan anakmu kelak." ujar Praba.
Calya menanggapi perkataan Praba dengan anggukan.
"Cal ... apa saya boleh memegang tanganmu?" tanya Praba sambil menatap sendu pada wanita itu.
"Untuk apa?" Calya membalas tatapan Praba.
"Untuk meramal masa depanmu."
"Hah? Memangnya kamu bisa?" Calya menautkan alisnya.
Praba mengangguk. "Kita coba saja dulu."
Perlahan, Calya pun mengulurkan telapak tangan kirinya pada Praba. Lelaki itu meraihnya dan menempatkan di atas satu telapak tangannya. Sementara itu, telapak lainnya mulai meraba garis-garis yang terukir di situ.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Calya.
"Em ... sepertinya garis tangan kita sama," ujar Praba dengan mimik muka serius.
"Apanya yang sama?" tanya Calya penasaran.
"Ya garisnya," jawab Praba.
"Garis?" tanya Calya lagi.
"Iya garis-garis ini," ujar Praba sambil menunjuk telapak tangan Calya.
Menyadari bahwa Praba sedang mengerjainya, Calya pun sontak menarik tangannya, lalu memukul bahu Praba.
"Ih ... kamu ngerjain saya ya!"
Praba pun terbahak. Ia merasa geli dengan kekesalan Calya.
"Ampun ... ampun, Tuan Putri," ujar Praba sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.
"Sudah ah, saya mau turun saja. Ngantuk mau tidur," ujar Calya sambil berdiri.
Praba pun ikut berdiri.
"Hmm ... iya tidurlah. Ini juga sudah malam," sahut Praba.
Calya melangkah memasuki rumah. Praba mengiringinya. Namun, sesaat sebelum Calya menuruni anak tangga, Praba memanggilnya.
"Cal!"
Wanita itu menoleh. "Apa lagi?"
"Mimpikan saya ya," ujar Praba sambil tersenyum.
Calya hanya melototkan matanya, lalu memalingkan wajah dan kembali melangkahkan kaki menuruni tangga.
__ADS_1
***