
Sabtu pagi ini, Praba sudah mengatur rencana untuk mengantar Calya berbelanja keperluan melahirkan nanti. Mereka akan mulai mempersiapkan segala hal yang diperlukan untuk menyambut kehadiran sang anak.
Kali ini, Praba merental sebuah mobil yang dikemudikannya sendiri. Dia tahu akan ada banyak barang yang dibeli. Ditambah lagi dengan kondisi kehamilan Calya yang telah membesar itu. Ia pasti akan sangat kelelahan bila harus bepergian dengan menggunakan sepeda motor.
Di sebuah toko perlengkapan bayi, Praba menghentikan laju mobil itu. Dia dan Calya kemudian turun, dan memasuki toko itu. Lebih kurang satu jam mereka berada di toko itu. Mulai dari pakaian bayi sampai tempat tidurnya sudah mereka pilih. Setelah semuanya selesai, Praba pun mengeluarkan kartu debitnya untuk membayar. Namun, Calya mencegahnya, dan mengatakan akan membayarnya sendiri.
Praba pun tak bisa memaksa lagi. Ia membintangi Calya membayar sendiri belanjaannya. Kemudian setelah selesai, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.
Praba tak langsung mengarahkan mobil itu menuju ke tempat tinggal mereka. Akan tetapi, dia mengajak Calya untuk mampir ke sebuah restoran dulu.
"Kita nongkrong dulu ya," ujar Praba.
"Nongkrong? Kayak anak muda saja," sahut Calya sambil menyengir.
"Menang yang sudah tidak muda lagi, gak boleh nongkrong? Gak boleh kasmaran gitu?" goda Praba.
Calya hanya memanyunkan bibirnya menanggapi gombalan Praba. Membuat lelaki itu terbahak.
Sesampai di restoran yang dimaksud, mereka pun turun, lalu menempati sebuah meja. Saat pelayan restoran datang, Praba dan Calya pun memesan makanan masing-masing.
Sambil menunggu pesanan itu datang, Praba kembali mengajak Calya mengobrol.
"Cal ... boleh gak kalau nanti saya yang ngasih nama ke anak kamu?" tanya Praba.
"Em ... ya, boleh-boleh saja. Memangnya kamu mau ngasih nama apa?" sahut Calya.
"Ada deh. Nanti kalau anaknya sudah lahir, baru saya kasih tahu."
"Namanya harus bagus lho ya," ujar Calya.
"Ya pasti lah," gumam Praba. "Em ... kalau Dirga juga mau ngasih nama, gimana?" lanjut Praba.
Calya terdiam sejenak, lalu berkata, "Ya ... boleh juga. Ini kan anaknya."
"Jadi ... kamu pilihnya nama yang mana?" tanya Praba memastikan.
"Ya semuanya lah. Kalau bapak dan ibuku ngasih nama, ya akan saya terima juga. Nanti baru digabungkan," ujar Calya.
"Kamu sendiri ... apa gak siapkan nama?" tanya Praba.
"Em ... sebenarnya sih ada," ujar Calya.
"Apa?"
"Andica," jawab Calya.
"Andica? Artinya apa?" tanya Praba lagi.
"Anaknya Dirga dan Calya," sahut Calya.
"Oh," lirih Praba singkat.
__ADS_1
Sangat jelas bila ada raut muka berbeda terpancar dari wajah pria itu. Calya pun memahaminya, lalu seketika mengurai decak tawa.
"Kenapa tertawa?" tanya Praba.
"Karena kamu lucu," jawab Calya sambil terus tertawa.
"Apa yang lucu?" gerutu Praba.
"Ya ... ekspresi wajahmu," ujar Calya.
Praba membuang pandangannya karena kesal. Kekesalannya semakin berlipat karena Calya menertawakannya.
Menyadari hal itu, Calya pun menghentikan tawanya, dan mengamati wajah Praba.
"Prab ... Praba ...," desis Calya.
Akan tetapi, pria itu masih saja bergeming.
"Kamu kok gitu sih? Tuh lihat ada cewek cantik di sebelah sana," ujar Calya lagi. Masih mencoba untuk merayu Praba.
Namun, lelaki itu tetap saja berpura-pura tak mendengar.
Calya terdiam sejenak untuk memikirkan sesuatu, sampai akhirnya dia kembali memanggil Praba, tetapi dengan sebutan yang lain.
"Sayang ...," desis Calya.
Mendengar ucapan itu, Praba seketika menoleh pada wanita di depannya itu.
"Hah? Apa? Coba ulangi lagi," ujar Praba.
"Itu ... kamu tadi bilang apa?" Praba mempertegas pertanyaannya.
"Memangnya saya bilang apa?" tanya Calya lagi.
Praba mengembuskan napas kasar, lalu kembali melempar pandangan ke arah yang lain. Melihat hal itu, Calya pun tersenyum. Dia merasa sudah cukup untuk mengerjai pria itu.
Perlahan, Calya mengulurkan tangannya, lalu jatuh di atas punggung tangan Praba.
"Sayang ... jangan marah lagi ya," ucapnya lembut.
Seketika, Praba mengulur pandangannya pada wanita itu. Seuntai senyum tergerai di bibirnya. Secepat kilat, kedua tangannya kini menggenggam jemari wanita itu. Kemudian mengecupnya lembut.
"Terima kasih ... Sayang ...," lirih Praba.
"Sudah tidak marah, kan?" gumam Calya.
"Bagaimana saya bisa marah sama kamu? Em ... saya hanya pernah marah sekali, dan itu sudah cukup," ujar Praba.
"Kapan itu?" tanya Calya.
"Ya waktu kita pertama kali bertemu. Kamu menjatuhkan barang-barang di jalanan waktu saya mau lewat dengan motor," sahut Praba.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Calya kembali tertawa. Ia tak menyangka bila awal pertemuan itu kini membawa mereka pada situasi saat ini. Itulah perjalanan cerita hidup atas dasar takdir.
"Iya ... benar, waktu itu kamu marah sekali. Tapi ... entah kenapa, saya juga tidak mau kalah dan terus melawan kamu," ujar Calya.
"Kamu tahu tidak kalau setelah pertemuan itu, dan pulang ke tempat tinggal saya yang pertama, em ... saya terus teringat sama kamu."
"Apa karena kamu masih marah?" tanya Calya.
Praba menggeleng. "Karena saya penasaran sama kamu. Wajahmu ... sangat mirip dengan ...." Praba mengehentikan ucapannya.
Ia tiba-tiba teringat sesuatu. Bila ia menyebutkan bahwa Calya mirip dengan mendiang istrinya, Mayla, maka Calya akan berpikir bila dirinya sama saja dengan Praba. Hanya menjadikan wanita itu sebagai pelarian cinta setelah kehilangan. Praba merasa bila Calya pasti masih lah trauma dengan hal itu.
"Siapa?" tanya Calya.
"Mendiang ibuku," jawab Praba.
"Bisakah saya melihat fotonya?" tanya Calya.
Praba mengangguk, lalu meraih telepon genggamnya. Ia membuka galeri foto, lalu memperbesar sebuah gambar yang menunjukkan seorang wanita dengan latar dan busana jaman dulu.
"Ini adalah foto ibu saya sewaktu masih muda," ujar Praba sambil mencondongkan layar ponsel itu pada Calya.
Sejenak Calya mengamati gambar wanita itu, kemudian berkata, "Dia sangat cantik."
"Iya ... cantik seperti kamu," ujar Praba.
Calya tersenyum simpul mendengar pujian itu.
"Lantas ... setelah tahu kalau saya ini istri teman sekantor-mu?" tanya Calya lagi.
"Ya ... mau bagaimana lagi? Tidak mungkin kan lantas saya jadi perebut istri orang? Tapi ... yang namanya takdir kan tidak ada yang tahu. Saya hanya selalu mencoba untuk menempatkan diri saya sebagai orang yang akan selalu ada untuk membantumu. Mungkin Tuhan melihat hal itu, lalu memutuskan untuk memberikan kesempatan padaku untuk lebih dekat denganmu lagi," sahut Praba.
Calya tertegun. Entah kata apa yang harus diucapkannya. Di balik semua kesedihan yang diterimanya, ternyata ada begitu banyak makna kebahagiaan yang telah disediakan untuknya. Kehamilan, kebersamaan dengan keluarganya, serta cinta yang luar biasa dari seorang pria yang tak pernah disangka.
"Terima kasih," ujar Calya kemudian.
"Sayang?"
Calya tersenyum kecil, lalu mengangguk.
"Iya ... terima kasih, Sayang," sahutnya.
Praba kembali meraih jemari Calya, kemudian mengecupnya lembut. Sampai saat dua orang pelayan restoran datang dan mengantarkan pesanan mereka, Praba pun menjadi salah tingkah dan melepaskan genggaman tangannya. Calya yang melihat hal itu hanya tersenyum geli.
***
Untuk episode mendatang, Author akan menampilkan beberapa part ulangan dari episode-episode sebelumnya ya. Jadi jangan bertanya, kok di-posting ulang? Beberapa part pilihan saja yang akan dipilih sebagai napak tilas pertemuan Calya dan Praba.
Nah, sekarang Author akan menampilkan visualisasi dari tokoh Praba Satya Nugraha. Sosok pria ganteng, tenang, tapi jagoan gitu. Dan Author memilih Chiko Jericho untuk memerankannya.
Inilah dia.
__ADS_1
Bagaimana? Cocok gak? Cocok kan? Ya kan?