Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Mencari Muka


__ADS_3

Haira sudah bersiap untuk pergi dari penginapan itu. Seperti biasa, ia menyewa mobil dari penginapan. Dua buah kantong plastik berukuran besar ditentengnya.


Beberapa saat setelah menyetir, tibalah dia di halaman kantor. Namun, ia tak bertujuan untuk masuk ke gedung kantor tempat Dirga bekerja itu. Haira hanya menemui satpam untuk menanyakan alamat.


Setelah itu, ia kembali mengemudikan mobilnya dan berlalu menuju alamat rumah yang sedang dicarinya.


Tok tok tok


Haira mengetuk pintu.


"Permisi ...."


Tak lama kemudian, seseorang membuka pintu.


"Ibu siapa ya? Dan ada perlu apa?" tanya Bu Dito setelah melihat Haira berdiri di depan pintu rumahnya.


"Saya Haira, istri Pak Dirga, teman kantor suami Ibu," sahut Haira.


"Apa? Kamu si pelakor itu ya? Mau ngapain ke sini?" gumam Bu Dito sambil melototkan matanya.


"Wah, kok aku disebut seperti itu ya? Aku bukan pelakor, Bu. Justru aku adalah teman baru Bu Dito," balas Haira.


"Teman baru apa?" tantang Bu Dito.


"Iya, kan sebentar lagi saya yang akan jadi istri sah Pak Dirga satu-satunya," jawab Haira.


"Idih idih si pelakor. Pede amat ya ngaku-ngaku begitu?" Bu Dito tampak kesal dengan ucapan Haira.


"Kalo aku ini pelakor, pasti tidak akan berani datang ke rumah ibu kan?" ujar Haira.


Sementara itu Bu Dito masih memasang tampang curiga dan kesal pada Haira. Namun, tepat di saat itu, seseorang meneriakkan nama Bu Dito.


"Bu Dito, ada tamu ya?" Dari balik pagar, Bu Heri yang sedang lewat memekik.


"Bukan tamu, ini si pelakor. Istri keduanya Pak Dirga," balas Bu Dito.

__ADS_1


Yang otomatis membelalakkan mata Bu Heri. Jiwa penasaran pun menggelora di dada wanita itu. Terlebih Bu Heri memang sangat suka dengan hal yang berbau rumpi.


Dengan cepat, Bu Heri melangkah memasuki halaman rumah Bu Dito, hingga sampai di teras depan.


"Oh ... ini to si pelakor? Memang cantik sih. Ya, ampun ... berhijab pula?" gumam Bu Heri sambil memelototi Haira dari bawah ke atas.


"Ini Bu Heri ya?" tanya Haira.


"Lho kok kamu bisa tahu tentang saya?" tanya Bu Heri bingung.


"Sebelum ke sini, aku singgah ke kantor untuk bertanya pada satpam tentang ibu-ibu yang aktif di organisasi wanita kantor. Sebentar lagi, aku kan akan menjadi bagian dari kalian, jadi aku menyempatkan diri untuk datang ke rumah kalian, ya sekalian berkenalan begitu," jelas Haira.


"Hah?" Bu Heri dan Bu Dito saling berpandangan.


"Iya ... jadi sebenarnya, Pak Dirga dan istri pertamanya itu memang sudah tidak harmonis, dan sebentar lagi mereka akan bercerai."


Kali ini Bu Dito dan Bu Heri benar-benar terkejut.


"Apa maksud Anda? Kalau sampai mereka bercerai, itu pasti karena kehadiran Anda dalam rumah tangga mereka," gumam Bu Dito.


"Sudak aku katakan tadi, aku ini bukan pelakor. Karena, pernikahan kami terjadi atas restu masing-masing orang tua kami. Orang tua Pak Dirga sudah lama sangat mendambakan kehadiran cucu. Maklum, Pak Dirga adalah putra mereka satu-satunya. Sementara ... istrinya itu tak bisa memberikan keturunan alias mandul. Seharusnya ibu-ibu bisa memahami sampai di sini. Pelakor itu biasanya perempuan miskin, yang mengambil suami orang supaya bisa hidup enak. Tapi aku bukan perempuan seperti itu. Kedua orang tuaku bahkan mampu menghidupi diriku sampai tujuh turunan. Aku tak kesusahan materi. Kalian bisa lihat sendiri dari penampilan dan barang yang kupakai."


Penjelasan Haira membuat sorot mata Bu Heri dan Bu Dito menuruti keingintahuan mereka. Setelah memandangi penampilan Haira lebih saksama, mereka pun saling berpandangan dan mengangguk.


"Benar Bu Heri, gamis yang dipakainya itu berharga jutaan. Sudah lama saya ingin membeli gamis bermerek itu, tapi belum kesampaian," tutur Bu Dito.


"Iya ... tasnya juga. Itu kan branded. Puluhan juta. Kapan saya bisa punya tas seperti itu ya?" gumam Bu Heri.


"Oh iya, ini kebetulan waktu ke kota ini, aku membawa beberapa tas. Dan dua tas ini asli dan branded. Baru sekali dua kali saja aku pakai. Dan ... semoga Bu Heri dan Bu Dito tidak keberatan untuk menerimanya," ucap Haira sambil mengangkat dua tas plastik yang dibawanya tadi.


Mula-mula Bu Heri dan Bu Dito saling memandang, lalu dengan cepat tangan mereka meraih masing-masing plastik itu. Kemudian mengeluarkan isinya yang berupa tas wanita.


"Wah ... ini mah tas mahal ...." gumam Bu Dito dengan mata membeliak.


"Iya benar, menghemat uang dapur berapa tahun pun kita mana bisa membeli tas ini," timpal Bu Heri.

__ADS_1


"Lain kali, aku akan membawa baju-baju yang ku beli di butik ternama. Apakah ibu-ibu mau?" ujar Haira.


"Wah ... benarkah?" tanya Bu Heri dan Bu Dito serempak.


Haira mengangguk. Sontak membuat kedua wanita di hadapannya melonjak kegirangan.


"Wah ... kalau begitu ayo masuk dulu Bu Dirga. Kita ngobrol-ngobrol di dalam, kebetulan tadi saya baru buat kue lapis. Enak lho," ucap Bu Dito.


"Wah, saya juga mau masuk ah ...," timpal Bu Heri.


"Ayo lah," sahut Bu Dito lagi.


Haira tersenyum dan mengiyakan ajakan itu. Senyuman kebahagiaan yang penuh arti karena menyadari bahwa tujuannya berhasil.


Ya, Haira memang sengaja mencari tahu tentang para istri yang aktif dalam organisasi wanita di kantor Dirga. Ia menyadari bahwa kehadirannya pasti menimbulkan gosip di kantor itu, terlebih di kalangan para istri.


Cara untuk mengatasi hal itu, tentu saja dengan mendekati dan mengambil hati para istri agar menjadi bersimpati padanya. Dan Haira menyadari bila wanita paling gampang dipengaruhi dengan memakai benda-benda yang mereka sukai. Dengan begitu, ia akan lebih mudah menguasai mereka dan menjadikannya sekutu.


Bila ibu-ibu itu sudah menjadi sekutunya, maka ia tak perlu khawatir lagi dengan nama baiknya di kantor Dirga. Para suami pasti akan tunduk pada istri mereka.


Selanjutnya, hanya tinggal mendekati istri pimpinan kantor. Namun, itu bukan lagi hal yang sulit bila dia sudah berhasil menguasai Bu Dito dan Bu Heri.


Di dalam rumah Bu Dito, Haira senantiasa bercerita tentang barang-barang wanita yang dimilikinya. Membuat kedua kawan barunya itu berdecak kagum dan membelalakkan mata. Namun, saat Haira menjanjikan akan memberikan beberapa dari koleksinya, mereka kembali bersorak.


Haira benar-benar menikmati saat-saat kemenangannya ini. Seakan tak ada lagi penghalang yang membentangi langkahnya untuk hidup bahagia bersama suami yang dicintainya itu.


"Bu Dirga ... kapan-kapan ajaklah kami ke Surabaya. Kami jadi penasaran dengan rumah Bu Dirga, pasti mewah kayak rumah-rumah orang kaya yang di tv," ujar Bu Heri.


"Oh tentu saja, Bu. Nanti, saat akan melahirkan, kami pasti akan pulang ke Surabaya. Setelah aku melahirkan, kalian boleh menjenguk bayi kami ke sana," ucap Haira.


"Wah wah ... tapi ongkos pesawatnya bagaimana?" sambut Bu Dito.


"Itu tidak perlu ibu-ibu pikirkan sekarang. Nanti aku yang akan menyediakan," sahut Haira.


Yang sudah pasti membuat kedua wanita yang sedang mengobrol dengannya itu melonjak kegirangan.

__ADS_1


***


__ADS_2