Sengketa Hati (CALYA)

Sengketa Hati (CALYA)
Kenangan Kedekatan


__ADS_3

Trililiiii...triliilii...trililiii...


Bunyi suara panggilan gawainya mengagetkan Calya. Seketika ia bangun dan langsung menyeret tombol terima telepon tanpa melihat siapa yang meneleponnya.


"Halo... Sayang. Ga, kamu gimana?"


"Halo... Aku..." Terdengar suara seorang pria dari seberang telepon, tapi itu bukanlah suara Dirga.


"Kamu siapa?"


"Maaf, aku cuma mau pastikan apa kamu, eh Bu Dirga baik-baik saja? Apa Bu Dirga sudah makan atau mungkin ada yang dibutuhkan?"


"Kamu... Praba? Eh maksud saya Pak Praba?" Calya akhirnya mengenali suara peneleponnya.


"Iya, tadi waktu di puskesmas aku sempat meminta nomor telepon Bu Dirga pada Bu Bambang, karena saat itu aku harus pergi jadi tidak bisa ikut menunggui Bu Dirga. Tapi sebagai tetangga kan harus tetap memantau keadaan Bu Dirga. Kalau terjadi apa-apa bisa-bisa aku yang disalahkan."


"Oh, iya. Terima kasih ya."


"Hmm..."


"Iya terima kasih tadi sudah menolong saya dan membawa ke puskesmas. Terima kasih juga sudah mengkuatirkan saya."


"Kuatir? Hello... maksud kata kuatir ini bagaimana ya? Aku hanya membantu dan kali ini aku memantau karena tidak mau disalahkan kalau sampai terjadi apa-apa sama Bu Dirga karena sekarang kita bertetangga."


"Oh begitu ya? Ya sudah, mungkin saya yang salah mengartikan kata-kata ibu-ibu tadi."


"Kata-kata ibu-ibu? Maksudnya? Oh jadi kalian menggosipin aku ya? Dasar ibu-ibu ya, pasti gak jauh-jauh dari yang namanya gosipin orang."


"Aduh kok kamu eh anda eh Pak Praba yang terhormat ini jadi kegeeran ya."


"Geer? Gak perlu geer juga kenyataannya gitu kan? Sudahlah ngaku saja, kalian memang suka gosipin aku kan? Ahh susah emang jadi cowok keren kayak aku ini pasti jadi bahan pembicaraan ibu-ibu."


"Isshhh... Jijay aku tuh. Sudah ah aku mau istirahat. Bisa-bisa aku pingsan lagi kalo kelamaan ngobrol sama Anda!" Calya menutup teleponnya, membuang gawai itu ke sampingnya lalu ia kembali berbaring sambil nyeletuk menyumpah-nyumpahi Praba dengan kata-kata yang terlintas di pikirannya. Entah sumpah serapah apa yang diucapkannya untuk Praba.


Praba tersenyum setelah bunyi 'tut' tanda lawan bicaranya telah mengakhiri komunikasi itu. Sesungguhnya Praba sengaja membuat Calya kesal padanya supaya pikiran Calya teralih.


Sesungguhnya Praba tahu, malam ini Calya pasti akan bersedih dan pasti akan menangis bila mengingat Dirga dan kejadian yang dialaminya pagi tadi, karena sesungguhnya Praba mengetahui apa yang telah terjadi pada Calya dan Dirga, dan Praba tahu bahwa Dirga akan berpoligami.


Sungguh, Praba tak ingin melihat Calya bersedih. Mengapa? Karena guratan wajah dan perilaku Calya selalu mengingatkan Praba pada Mayla, mendiang isterinya.


Praba kembali mengingat kejadian hari itu ketika pertama kali dirinya bertemu dengan Calya melalui insiden di jalanan. Pada saat itu Praba sempat tertegun saat melihat Calya marah-marah padanya. Sungguh, wanita di hadapannya kala itu sangat mirip dengan Mayla, isteri tercintanya yang telah berpulang sejak setahun silam.

__ADS_1


Namun wanita itu telah bersuami, itulah yang diketahuinya saat itu. Hingga akhirnya Praba mengetahui bahwa pria beruntung yang telah mengikat hatinya adalah Dirga, temannya sendiri.


Kejadian pagi tadi masih terngiang di benak Praba. Pertengkaran Dirga dan Calya yang terlihat olehnya. Tidak, bukan hanya sekedar pertengkaran antara suami dan isteri, tapi tentang apa yang mereka bahaslah yang kini menggelitik di pikiran Praba.


Dia tahu bagaimana perasaan Calya, betapa hancurnya hatinya, walaupun itu dilakukan untuk alasan kemanusiaan. Entah mengapa, Praba merasa marah atas kesedihan Calya. Ya, kesedihan Calya seperti membawanya kembali ke masa-masanya bersama Mayla. Masa saat Mayla berjuang melawan penyakitnya hingga akhirnya harus mengalah pada takdir maut. Saat itu Praba berusaha melakukan apapun yang bisa membuat Mayla bahagia serta apapun yang bisa membuatnya sembuh, karena Mayla adalah istrinya.


Namun kali ini ia menyaksikan bagaimana Dirga mengorbankan hati istrinya sendiri untuk kebahagian dan kesembuhan wanita lain. Apakah setelah pernikahan keduanya Dirga akan kembali pada Calya? Semudah itukah poligami ini akan berakhir tanpa ada sengketa hati? Bagaimana jika Calya yang akhirnya akan ditinggalkan oleh Dirga?


"Awww..." Praba memukul kepalanya sendiri mencoba mengembalikan kewarasannya. Untuk apa dia harus memikirkan permasalahan rumah tangga orang lain.


"Tidak, aku harus berpura-pura tidak tahu. Tapi, oh tidak... Calya. Aku...."


Entah mengapa ada suara dari dalam batin Praba, sebuah suara atau mungkin sebuah perintah untuk melindungi Calya.


***


Hamparan air laut beserta riak ombaknya nampak begitu indah pagi ini. Embusan angin terasa menyegarkan, menghapus peluh siapapun yang sedang berada di taman yang hanya dibatasi tanggul dengan laut itu.


Beberapa pedagang gerobak dorong yang menjual makanan dan minuman sudah nampak berderet menjajakan dagangan mereka. Beberapa orang nampak hilir mudik di taman itu. Ada yang baru saja berolahraga pagi, atau ada yang sengaja datang untuk menikmati cemilan atau sarapan yang dijajakan di situ.


Calya duduk di sebuah kursi taman yang menghadap ke arah laut. Tatapannya jauh memandang setiap desiran ombak, mungkin sedang berharap agar riak ombak itu dapat menggulung kelunya dan membawanya pergi jauh.


Sejak subuh tadi Calya sudah bangun. Usai menunaikan shalat subuhnya, ia terus memandangi layar handphonenya, ia masih menanti kabar dari suaminya. Namun rasa bosan membuatnya menghempaskan gawai itu lalu ia berlalu keluar dari pintu rumahnya. Calya berjalan menyusuri tiap ruas jalan yang membawanya berada di taman itu kini.


"Kamu?"


"Iya, aku! Nih makan bubur ini dulu. Kamu kan habis pingsan kemarin, pasti karena kurang gizi, bubur ini bagus untuk menambah darah." Praba meletakkan mangkuk bubur itu di tangan Calya yang sedang bertumpu di pahanya. Mau tak mau Calya pun menerima mangkuk itu.


Praba berlalu dan sesaat kembali dengan semangkuk bubur lagi. Ia lalu duduk di samping Calya.


""Ayo makan, mumpung masih panas, kok malah dilihatin saja sih?" Praba berkata sembari mulai menyendok dan menyantap bubur miliknya.


"Kenapa kamu bisa ada di sini?"


"Ya, ampun! Ini kan tempat umum, siapapun boleh ke sini. Aneh...." Praba menjawab sambil terus menyantap buburnya.


Calya hanya mengernyitkan dahinya. Entah mengapa pria itu terasa seperti selalu membayangi keberadaannya. Tidak di rumah, tidak di jalan, pria ini selalu tiba-tiba hadir untuk memburamkan hayalannya.


"Ehhh, malah tambah bengong. Ayo dong di makan, kamu tuh butuh sarapan supaya cepat sembuh." Praba meraih sendok di mangkuk Calya lalu menyendok bubur itu dan menyuapkannya pada Calya.


Calya menatap Praba yang dibalas dengan anggukan dari Praba. Perlahan Calya pun membuka katup bibirnya dan membiarkan sendok berisi bubur itu masuk ke mulutnya.

__ADS_1


"Nah gitu dong. Selanjutnya makan sendiri ya. Malu dilihatin orang." Praba kemudian lanjut menikmati bubur kacang hijaunya sendiri.


Praba terus makan sambil menikmati pemandangan di hadapannya. Sebuah senyum kecil tersungging di bibirnya. Setidaknya dia telah memastikan Calya sarapan dan baik-baik saja.


Subuh tadi Praba berniat untuk olahraga di halaman rumahnya. Namun saat dilihatnya Calya keluar dan terus berjalan meninggalkan halaman rumahnya, Praba bergegas mengikutinya. Entahlah, hal ini semestinya tak perlu dilakukannya. Tapi ada sebuah perasaan peduli dan keinginan untuk selalu menjaga Calya yang membuatnya melakukan itu.


***


Dua buah motor ojek berhenti di depan rumah dinas itu. Calya dan Praba turun dari masing-masing motor. Praba kemudian merogoh sakunya, mengeluarkan dua lembar lima ribuan yang diserahkan ke masing-masing pengemudi ojek itu, yang kemudian berlalu pergi. Praba tahu Calya tak membawa uang saat meninggalkan rumahnya tadi.


"Terima kasih ya." Calya berkata pada Praba.


"Oke."


"Hmm.. Aku masuk dulu." Calya pun membalikkan badannya menuju ke pintu rumahnya.


"Eh... Tunggu!"


Calya kembali menoleh pada Praba.


"Ada apa?"


"Kalau kamu butuh sesuatu bilang saja padaku, telepon di nomor yang semalam. Kamu jangan pergi sendiri lagi."


"Hmm...." Calya menganggukkan kepalanya lalu kembali berpaling ke arah pintu rumahnya.


Namun, sesaat sebelum membuka pintu rumahnya, Calya kembali berpaling pada Praba.


"Tunggu...."


Praba yang sedang berjalan menuju rumahnya pun berhenti dan berpaling pada Calya.


"Ada apa?"


"Hmm... Sejak kapan kita saling memanggil aku dan kamu?"


Praba terdiam sejenak. Ia pun bingung. Aku dan kamu? Seolah mereka sudah menjadi akrab. Sejenak kemudian ia kembali menatap Calya.


"Maaf, maafkan saya Bu Dirga."


"Oh...iya. Maaf juga Pak Praba."

__ADS_1


Mereka berdua saling tersenyum, namun tak lama senyum itu menjadi tawa. Mereka tertawa bersamaan.


"Masuklah Bu Dirga, istirahatlah."


__ADS_2