
Sakit. Hati Calya sungguh sakit. Bahkan melebihi rasa sakit sebelumnya. Tak pernah disangkanya bisa sang madu akan berani datang ke kediamannya, mencari laki-laki yang masih sah sebagai suaminya.
Sambil menata makan siang dan menunggu sang suami pulang, Calya mencoba menahan emosinya. Dia perlu untuk berbicara baik-baik dengan Dirga. Bagaimanapun, Calya merasa perlu untuk melindungi karir suaminya. Ketakutan Calya adalah perbuatan nekat yang bisa dilakukan oleh Haira akan memberi dampak buruk bagi pekerjaan Dirga.
Hingga saat sinar matahari berada di titik tertinggi, Dirga sudah sampai di rumah. Calya menyambutnya seperti biasa. Mengatur piring dan gelas di hadapannya. Selanjutnya, dia membiarkan sang suami makan hingga tuntas.
"Tadi dia datang ke sini," gumam Calya.
"Siapa?" Dirga mengangkat kepalanya, melihat pada Calya.
"Perempuan itu."
"Haira?"
Calya mengangguk.
"Mau apa dia ke sini?"
"Mencarimu."
Dirga mengembuskan napas kasar. Terlihat bahwa ia pun tak menyangka Haira akan melakukan itu.
"Lalu?"
"Aku menamparnya."
"Hah?" Dirga membelalak. "Mengapa kau melakukan itu?"
"Dia mengatakan hal menjijikkan tentang bulan madu kalian."
Dirga menarik alur matanya. Menyadari bila Calya sedang tak baik-baik saja. Padahal tadinya dia akan mengungkapkan keberatan atas perlakuan Calya pada Haira yang sampai bermain tangan.
"Lalu?" tanya Dirga memastikan akhir pertemuan itu.
__ADS_1
"Dia pergi. Saya mengira bila dia ke kantormu."
Dirga menggeleng. "Tidak. Dia tidak ke sana. Dan semestinya tidak boleh."
"Bicaralah padanya. Peringatkan dia untuk tak melakukan hal konyol di sini."
Dirga mengangguk pelan.
Kemudian pamit hendak kembali ke kantor. Namun, sebelumnya akan pergi menemui Haira di penginapan.
***
"Sayang." Senyum bahagia mengembang di wajah Haira saat membuka pintu kamar dan mendapati Dirga berada di sana.
"Mengapa kau datang ke rumah dinas?" Dirga langsung menghentak Haira, melunturkan senyuman wanita itu.
"Masuklah dulu, kita bicara di dalam," sahut Haira.
Dirga pun melangkah masuk ke kamar penginapan itu.
"Tidak usah, biar aku berdiri saja."
"Hmm ... kalau berdiri terus kan bisa capek, Dir."
"Mengapa kamu ke rumahku?" Dirga tak mempedulikan ucapan Haira.
"Tentu saja untuk mencari suamiku," jawab Haira.
"Sudah kukatakan jangan ke mana-mana."
"Kamu tak menghubungiku semalaman."
"Untuk apa aku menghubungimu? Kamu kan tahu bila aku bersama Calya."
__ADS_1
"Kamu harus adil, Dirga!"
"Apa maksudmu?"
"Aku juga istrimu."
"Tapi bukan lantas kamu harus datang dan mengatakan yang tidak-tidak pada Calya."
"Oh ... dia mengadu padamu?"
"Kamu sungguh keterlaluan. Jangan pernah datang ke rumahku dan Calya lagi." Mata Dirga memerah karena menahan amarah.
"Apa? Keterlaluan? Perempuan itu menamparku. Dia lah yang keterlaluan. Kamu harus menceraikannya, Dirga!" Haira berteriak, memekakkan seisi kamar.
"Apa?!"
"Aku mengandung anakmu, Dirga. Penerus keluargamu." Haira berkata sambil meraung.
"Hentikan, Haira!"
"Ini kenyataannya. Kau tak bisa memungkirinya."
"Sudahlah, Haira. Hal itu sudah berulang kali kau ucapkan."
"Anak ini butuh status yang sah. Bagaimana dia bisa mendapat pengakuan secara hukum sebagai anakmu bila kamu tidak mensahkan status kita? Jadikan aku yang pertama, Dirga. Setelah hubungan kita resmi, kamu boleh kembali menikahi Calya." Haira berjalan mendekat pada Dirga, menatap tajam pada lelaki itu
"Kau sudah gila, Haira."
"Aku tak gila, Dir. Aku hanya sedang berbicara tentang masa depan anak ini. Anak yang mewarisi darahmu. Anak yang tak bisa diberikan oleh perempuan itu."
Dirga menyorot mata Haira dengan garang, laksana seekor singa yang melihat mangsanya. Tentu saja karena lelaki itu sangat marah dan tak terima dengan perkataan Haira tentang Calya.
Tanpa sepatah kata, Dirga bergegas keluar dari kamar itu. Meninggalkan Haira yang memekik berulang kali memanggil namanya. Memintanya untuk tak pergi.
__ADS_1
Sementara itu, Haira pun menyimpan amarah yang teramat sangat atas perlakuan lelaki yang dicintainya itu. Tentu saja, dia tak akan menuruti permintaan Dirga. Hasratnya untuk memiliki seutuhnya sang suami masih menggelora. Menyala-nyala dalam sebuah ambisi dan rencana yang berputar di kepalanya.
***