
Siang ini di Rainela Cafe.
Calya sedang melayani pengunjung saat Anela dan Raindra datang. Sejenak, saat mereka melewati area pelataran cafe, Raindra menyempatkan diri untuk menengok ke arah Calya. Wanita itu pun melakukan hal yang sama. Penyebabnya adalah karena ketidaksenangannya atas perbuatan lelaki itu yang diam-diam memberikan barang-barang untuknya. Calya memberikan tatapan tak bersahabat pada lelaki itu.
Raindra yang menyadari hal itu, tampak tak nyaman. Setiba di ruangan Anela, ia mencari alasan bahwa ada barang yang tertinggal di mobil dan akan diambilnya. Namun, tentu saja itu tak benar, sebab tujuannya hanya agar bisa keluar dari ruangan Anela, dan menemui Calya.
"Cal ... bisa bicara sebentar di sana," ujar Raindra saat menghampiri Calya di pantry. Ia menunjuk sebuah lorong yang menuju ke arah toilet.
"Bicara apa?" tanya Calya.
"Di sana saja," sahut Raindra.
Calya pun menurut, mengikuti langkah Raindra menuju tempat yang dimaksud.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Calya.
"Kenapa menatapku seperti tadi?" ucap Raindra.
"Apa yang kamu lakukan selama ini? Kamu memanfaatkan Myesha? Kamu kira saya senang dengan semua yang kamu lakukan itu?" Calya menatap tajam pada Raindra.
"Ka kamu ... sudah tahu? Myesha yang bilang?" Raindra terkejut mendengar hal itu, kata-katanya pun menjadi tergagap.
"Myesha tak mungkin bisa lama-lama berbohong padaku!" sahut Calya.
"Em ... itu ...."
"Apa maksudmu? Katakan!" Mata Calya semakin nyalang, menunjukkan kemarahannya pada lelaki itu.
"Tidak, saya tidak memiliki maksud apa-apa. Murni hanya ingin menebus kesalahan di masa lalu, dan sekarang ingin membantumu," jawab Raindra.
"Kesalahan di masa lalu tidak perlu dijadikan alasan untuk merendahkan diriku kini. Saya memang seorang janda, tapi tidak perlu mengasihani saya untuk hal itu. Dengar, yang kamu lakukan justru membuat saya semakin tidak respek sama kamu," hentak Calya.
__ADS_1
"Jangan, tolong jangan begitu. Saya ... benar-benar ingin menjadi temanmu lagi. Saya tulus ingin membantumu." Raindra membela diri.
"Cukup, Raindra. Jangan katakan apa pun lagi tentang kita. Saya dan kamu tidak akan pernah menjalin hubungan apa pun, termasuk teman. Saling mengenal, itu saja dan sudah cukup," sahut Calya.
"Apa sebegitunya kah kamu membenci saya? Apakah sudah tak ada kesempatan sedikit pun untuk saya, Cal?"
"Kesempatan? Untuk apa?"
"Untuk bisa menjagamu ...."
"Apa maksudmu?"
Raindra menarik sehela napas sebelum melanjutkan, "Saya masih sayang sama kamu, Cal."
Calya terkesiap. Ia masih tak memahami makna ucapan mantan kekasihnya itu.
"Sayang?" lirih Calya.
Raindra mengangguk. "Iya ... perasaanku padamu masih sama seperti dulu. Tersimpan rapi di dalam hatiku. Tak ada yang berubah. Meski saya memang pergi meninggalkanmu, tetapi hatiku tidak. Sayangnya, saat saya kembali hendak menemuimu, kamu sudah akan menjadi milik orang lain. Saat itu, saya pun hancur, Cal. Saya pun patah hati. Tapi bukan berarti saya bisa melupakanmu begitu saja.
"Kita bertemu kembali, bukankah itu adalah takdir? Meski dengan status dan keadaanmu sekarang, sejujurnya saya sangat bahagia." Raindra berhenti sejenak untuk melangkah lebih dekat pada Calya.
"Calya ... sekali lagi ... saya ingin meminta maaf darimu. Saya bersedia untuk menerimamu bagaimana pun keadaanmu sekarang. Calya ... menikah lah dengan saya. Saya akan menjadi suami bagimu dan ayah untuk anak yang sedang kamu kandung."
"Raindra?!" Tepat di saat itu, seseorang muncul.
Raindra dan Calya menoleh pada sosok yang baru datang itu.
"Anela?" desis Raindra.
Bola mata Anela tampak membesar. Sebabnya pasti, ia terkejut dan marah mendengar pernyataan cinta Raindra pada Calya. Terlebih, pria yang disukainya itu tengah melamar wanita itu. Padahal, hal itu adalah sesuatu yang telah lama ditunggu untuk terjadi padanya.
__ADS_1
Selama bertahun-tahun Anela telah berusaha untuk mendapatkan hati lelaki itu. Berbagai cara telah ditempuhnya. Termasuk menjerat Raindra untuk mengikutinya ke Yogyakarta, kemudian mengurungnya untuk terus menetap di kota ini.
Beberapa saat setelah kepergian Raindra dengan dalih akan mengambil barang yang tertinggal tadi, Anela merasa curiga karena Raindra tak kunjung kembali. Anela pun mengecek cctv melalui monitor yang ada di ruangannya, dan ia mendapati keberadaan Raindra yang sedang berdiri berhadapan dengan Calya di koridor itu. Karena merasakan keanehan, Anela pun menuruti keingintahuannya dan bergegas menuju ke tempat sepasang mantan kekasih itu berada.
Terang saja, Anela menjadi sangat terkejut mendengar pengakuan Raindra pada Calya. Hatinya hancur. Cintanya tak berbalas.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Aku menggaji kamu untuk bekerja? Bukan untuk mengobrol, apalagi merayu kekasihku." Anela berkata pada Calya.
"Kekasih? Anela ... apa yang-" Perkataan Raindra terputus saat tatapan tajam Anela berpaling padanya.
"Apa, Raindra? Kamu menyangkalnya? Hubungan kita yang sudah sedekat ini? Kamu mau menyangkal kalau kita adalah sepasang kekasih?" ujar Anela.
"Kita tidak pernah menyatakan hal itu. Kamu tahu kalau saya masih ...."
"Cukup, Raindra!" Anela berpaling pada Calya. "Dan kamu ... aku harap kamu tahu apa yang harus kamu lakukan sekarang."
Calya membalas tatapan Anela dengan tak kalah tajamnya.
"Ya, saya sangat tahu apa yang harus saya lakukan. Saya akan berhenti bekerja, dan pergi dari sini. Tapi, saya mohon agar Anda bisa memberi tahu kekasih Anda ini agar tak mengganggu hidup saya lagi dalam bentuk apa pun."
Setelah itu Calya berpaling pada Raindra. "Saya dan keluarga saya akan keluar dari rumah itu hari ini juga!"
Raindra menatap kelu. Matanya menjadi sayu. Sebuah penolakan telah diterimanya dari wanita yang masih sangat dicintainya itu. Sementara kini, dilema sedang melanda. Anela mempertanyakan arti hubungan mereka. Hal yang masih belum mampu dijawab oleh Raindra. Sebabnya pasti, hati dan perasaan lelaki itu masih sepenuhnya untuk sang mantan kekasih yang baru saja pergi dalam kemarahan yang belum mereda padanya.
Setelah Calya benar-benar menghilang dari penglihatan Raindra dan Anela, wanita itu berjalan mendekat pada Raindra.
Plak! Ia menampar pipi pria itu.
Raindra mengelus pipinya yang terasa nyeri. Sementara Anela masih menatapnya nyalang.
"Inikah balasanmu padaku?" ujar Anela geram.
__ADS_1
"Kamu tahu semuanya, Anela. Kamu tahu kalau aku masih belum bisa melupakan Calya," sahut Raindra.
"Tidak sampai saat wanita itu muncul di sini. Kalau saja dia tidak pernah menampakkan dirinya di tempat ini, perasaanmu tidak akan kembali. Bukankah kamu sudah berjanji untuk selalu bersamaku? Bukankah kamu bilang bahwa karena aku lah kamu bisa menjadi seperti ini? Menjadi laki-laki yang bisa berdiri tegak dengan bangga? Tidak sama seperti waktu kamu masih bersamanya? Sekarang, hanya karena bertemu dengan dia lagi, kamu akan mencampakkan aku begitu saja? Tidak, Raindra, tidak akan semudah itu! Aku bisa menghancurkan kamu kapan pun aku mau!"