
"Jika ingatannya dipaksakan itu akan berpengaruh pada kesehatannya. Itu yang dokter katakan. Jadi kumohon rahasiakan ini Rei... "Ucap Riz. Rei pun mengangguk. Setidaknya ia tau alasan nya. Tapi tunggu, kenapa Raile begitu membenci Revan?
" Riz, kalo boleh tau... Apa alasan Raile begitu membenci Revan? "
Riz terdiam sejenak. Pikirannya sedikit melayang. Apa harus dia memberitahu Rei semuanya? Dia tak akan membocorkan nya kan? Dia sudah lama kenal Revan. Apa harus?
Ya, kurasa Rei bukanlah orang yang akan membocorkan rahasia atau semacamnya. Sepertinya Rei memang bisa dipercaya. Riz menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan.
"Baiklah, semuanya berawal saat misi pertama Raile sebagai anggota Shadow Agen. Alasan Raile benci pada Revan itu karena dia... Kehilangan rekannya karena itu." Riz pun mulai menceritakan nya pada Rei
Flashback
Malam yang gelap saat semua orang sudah tertidur, terlihat tiga orang pemuda yang sedang berlari melewati gang sempit.
Sepertinya mereka sedang mengamati sesuatu. Ketiga pemuda itu adalah Raile, Riz dan Neon.
Mereka adalah anggota organisasi agensi rahasia Shadow Agen yang bertugas untuk memberantas kejahatan dan membantu kepolisian menangkap geng mafia atau melakukan pekerjaan lain untuk membantu.
Kini yang mereka incar adalah sekelompok perampok yang baru saja berhasil merampok bank. Sekarang mereka sedang bersembunyi di sebuah gang sempit untuk menghindari kejaran polisi. Tapi sayangnya mereka tak menyadari jika ada yang sedang mengamati mereka, mencari kesempatan untuk menangkap mereka.
Terlihat ada 10 orang di sana yang sedang sibuk menghitung hasil rampokan.
"Apa kita mulai sekarang? " Tanya Neon pada Raile dan Riz.
"Tunggu sebentar lagi." Ucap Raile tanpa menoleh. Matanya terus tertuju pada para perampok itu. Namun diantara mereka, ada satu orang yang cukup menarik perhatian nya. Seorang pemuda ber iris ruby yang entah mengapa terasa tak asing baginya.
"Baiklah, Neon, kau serang mereka dari belakang. Dan Riz, kau serang dari sisi kanan dan aku dari sisi kiri." Ucap Raile mengatur rencana. Riz dan Neon pun mengangguk dan segera menuju posisi masing masing.
Raile berjalan mendekat dan saat sudah menemukan posisi bersembunyi yang tepat, dia langsung mengeluarkan pistol miliknya. Tangannya menggenggam erat pistol milik nya yang dia arahkan pada kaki para perampok itu. Setidaknya itu akan melumpuhkan mereka dan membuat mereka tak bisa kabur.
DAR! DAR! DAR!
"ARGH!! "
Serangan dari ketiga sisi cukup menyulitkan para perampok itu. Tiga orang telah dilumpuhkan. Itu akan memudahkan mereka. Tapi...
DAR!
Sebuah peluru melesat cepat menuju ke arah Raile. Beruntung Raile berhasil menghindari nya. "Huuh.. Hampir saja" Ucap Raile menarik nafas lega. Jika saja dia terlambat menghindar, mungkin saja kepalanya sudah berlubang tertembak.
__ADS_1
Raile memandang ke arah asal peluru itu ditembakkan dan dipandangnya iris ruby yang menatapnya tajam. Raile menggeretak kan giginya kesal pada pemuda itu.
"Beraninya kau!" Geram Raile kesal dan menembak kan peluru pada pemuda itu tapi bisa ditangkis dengan mudah menggunakan belati yang Revan bawa.
"Lebih baik kau menyerah saja. Tak ada gunanya terus melawanku" Ucap Revan dengan nada datar.
"Enak saja. Kau yang seharusnya menyerah dasar perampok sialan!! "
"Aku pembunuh bukan perampok. Aku hanya ikut mereka"
Oke Raile sedikit kehilangan kata untuk menjawab. Jadi dia hanya ikut ikutan gitu? Apa tak ada pekerjaan lain yang lebih wajar? Tapi pembunuh, justru itu lebih berbahaya. Baiklah, tetap saja harus dia tangkap.
"Tetap saja kau anggota mereka! "
"Kalau saja aku tak dipaksa, aku juga tak ingin melakukannya"
Sungguh kah? Seorang pembunuh bayaran mengatakan itu? Yang benar saja. Apa ada maksud tertentu? Dia sehat kan? Oke pertanyaan macam apa itu??!! Baiklah lupakan.
Kini Revan dan Raile saling beradu tembak dan sesekali menyerang dengan kemampuan beladiri mereka yang cukup hebat. Tak ada yang mau mengalah diantara mereka. Sedangkan Riz dan Neon melawan perampok yang lain.
Malam yang awalnya tenang kini berubah menjadi ribut dengan suara baku tembak yang menggema. Dan hebatnya lagi yang melakukan itu bukanlah polisi. Melainkan anak remaja yang merupakan anggota organisasi agensi rahasia.
"Haah... Mereka ini... Kapan selesainya?" Keluh Riz menatap malas pertarungan itu dan berhasil mengundang jitakan di kepalanya.
"Ish kau ini. Raile sedang mencoba mengalahkan pemuda itu bukannya bantu atau dukung justru berkata seperti itu." Ucap Neon. Riz hanya menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum.
"Hehe... Maaflah..."
"Jika begitu ayo kita bantu Raile!!! " Seru Neon dan segera berlari ke arah Raile. Sedangkan Riz terdiam memandang pemuda yang menjadi lawan Raile. Rasanya tak asing baginya dan seketika dia teringat sesuatu.
Raile masih mencoba mengingat ingat saat ia melihat Raile terlempar akibat tendangan dari Revan. Saat itu juga dirinya berniat menghampiri sepupunya itu saat secara tiba-tiba terdengar suara seseorang.
"Bunuh dia."
Riz menoleh pada sumber suara dan dilihatnya seorang pria ber iris jingga yang mengamati dari tempat yang cukup tersembunyi. Riz melihat pria itu seperti menekan sesuatu. Benda apa itu? Apa itu bom? Bukan, sepertinya bukan bom.
"Aakkh!!"
Rintih Revan merasakan sakit di lehernya. Saat itu juga ia mengarahkan pistol pada Raile. Saat melihat tatapan dari pemuda itu ia baru menyadari jika tatapan itu sama seperti tatapan dari sosok yang sudah lama hilang. Revan.
__ADS_1
"Anak itu... Tak mungkin! Raile! Dia-" Ucapan Riz terhenti saat melihat pemuda ber iris ruby itu mengarahkan moncong pistolnya pada Raile. "RAILE AWAS!!!" Seru Riz. Namun pelatuk sudah di teka dan peluru melesat dengan cepat menuju ke Arah Raile yang sempat kehilangan fokus. Riz langsung berlari secepat mungkin ke arah Raile.
Pemuda ber iris gold itu memejamkan matanya bersiap merasakan sakit. Ia tak sempat lagi untuk menghindari tembakan itu. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah terdiam.
"Akh! "
Raile membuka mata saat mendengar suara itu. Dan saat itu juga ia membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Terlihat Neon yang berdiri di depannya dengan darah yang terlihat mengalir di kepalanya. Seketika itu juga tubuh Neon ambruk. Beruntung Raile berhasil menangkapnya sebelum menyentuh tanah.
"Neon... Kau tidak apa? Neon bangun! " Ucap Raile panik melihat Neon yang langsung tak sadarkan diri. Ia menutup luka di kepalanya dengan sapu tangannya. Riz yang melihat itu langsung menghampiri kedua rekannya. Tak ada yang menyangka bahwa Neon akan mengorbankan dirinya seperti itu.
Sedangkan Revan hanya membeku di tempat melihat kejadian itu. Dia membunuh orang lagi. Dia melakukan hal itu lagi. Hal yang paling dia benci. Hal yang akan terus mendatangkan penyesalan tanpa ujung padanya. Tubuhnya sedikit bergetar. Tanpa sadar ia menjatuhkan pistol yang dipegangnya.
Sementara Raile langsung melemparkan tatapan tajam pada Revan. "KAU!! BERANINYA KAU MEMBUNUH REKANKU!!" Ujar Raile marah.
"A-Aku... Aku tak sengaja. Aku minta maaf... Aku juga tak ingin melakukan ini" Ucap Revan.
"Revan cepat pergi dari sana!! " Ujar seseorang yang menyadarkan Revan.
"Maaf!!!" Ia pun langsung berlari pergi. Setelah mengatakan itu. Ingin sekali dirinya menangis dan menghukum dirinya sendiri setelah apa yang ia lakukan. Apalagi yang dia bunuh adalah... Rekan saudara kandungnya sendiri.
"Revan... AKU TAK AKAN MEMAAFKANMU!!! AKU AKAN MEMBUNUHMU!! " Seru Raile yang mulai meneteskan air mata. Riz yang ada di sampingnya pun hanya bisa mengusap punggung Raile sembari mencoba untuk menenangkan nya.
Flashback off
Riz berhenti bercerita. Rei yang mendengarkannya hanya mengangguk angguk mengerti. Dari cerita tadi dapat disimpulkan jika Revan memang dipaksa saat itu. Kalung yang dia pakai... Pria yang Riz bicarakan kemungkinan besar Avren. Ya dia mengendalikan Revan.
"Lagi lagi Revan dipaksa melakukan itu... " Gumam Rei pelan tapi masih bisa didengar oleh Riz.
"Apa Revan selalu dikendalikan seperti itu? "
"Ya kurasa begitu"
Rei sedikit merenung. Secara tak langsung Avren yang bersalah dalam hal ini. Ya, itu kan memang sudah jelas.
Tapi diantara mereka tak ada yang tahu jika Raile ternyata sudah sadar dan mendengar semua cerita itu sejak awal.
'Jadi... Itu yang sebenarnya terjadi... Akh aku jadi semakin bingung!! '
__ADS_1
TBC