Shadow Agen

Shadow Agen
Pertanyaan menjebak


__ADS_3

Raile dan Riz berjalan memasuki markas Shadow Agen. Tampak beberapa orang memandang mereka. Sepertinya Raile, Riz dan Revan yang menghilang tanpa kabar di ketahui banyak banyak orang.


Perasaan keduanya jadi tidak enak. Semoga saja nanti mereka tidak di tanyai macam macam oleh agen Raka. jika tidak, bagaimana mereka akan menjelaskan nya nanti?


Mereka berharap agen Raka tidak menanyakan hal yang macam macam atau menjebak mereka.


Langkah kaki kedua nya menggema di Koridor. Sekarang mereka sedang menuju sebuah ruangan, dimana mereka selalu menerima atau melaporkan misi.


Raile melirik ke arah Riz. Dari ekspresi wajah nya, memang terlihat seakan tidak ada yang terjadi. Seperti biasa selalu tersenyum ceria dengan mata biru yang berbinar.


Namun... Lain kata dengan tangan nya yang sedikit gemetar.


Hey... Mereka hanya perlu menemui agen Raka dan berharap tidak akan di tanyai macam macam. Melihat reaksi Riz, justru seolah anak itu baru saja membunuh teman nya sendiri saja.


"Riz tenang lah... Kau tau agen Raka itu orang nya teliti kan? Lagipula, untuk apa kau khawatir? Kita berharap saja tak akan di tanyai macam macam." Tangan Raile bergerak menepuk pundak Riz yang tampak sedikit gemetar.


Seakan Riz menggunakan topeng senyum yang begitu sempurna, bahkan ekspresi ceria nya tak berubah sama sekali. "Tenang saja... Aku nggak khawatir kok!"


Raile menatap datar. "Siapa yang coba kau bohongi? Aku sudah kenal kau sejak lama, tak ada gunanya menyembunyikan, Riz."


Jelas saja, sudah bertahun tahun Raile tinggal dengan Riz. Ia tau jelas bagaimana sifat sepupu nya itu.


Sebagai seorang agen yang sangat pandai menyembunyikan ekspresi nya, sudah bukan hal yang sulit bagi Riz untuk mengontrol ekspresi wajah nya agar tidak ketahuan. Tapi sayangnya itu tidak berlaku untuk Raile.


Riz akhirnya menghela nafas. " Baiklah... Aku memang tidak bis membohongi mu ya, Raile?" Ujar nya. "Jujur saja aku khawatir jika ada anggota Shadow Agen yang mengetahui nya. Aku justru lebih takut jika rencana kita gagal. Maksudku, hanya tinggal sedikit lagi kita berhasil menyelesaikan semuanya. Bagaimana jika kita ketahuan nanti? Ditambah lagi... Bagaimana cara kita mencari dokumen tentang Thory di saat seperti ini?"

__ADS_1


Yang di katakan Riz benar...


Bohong kalau Raile bilang ia tak khawatir tentang ini. Di tambah... Mereka tidak bisa langsung mencari dokumen tentang Thory saat ini juga. Tapi di sisi lain, waktu pun semakin menipis.


"Hanya tinggal sedikit lagi. Kita pasti bisa. Bagaimanapun... Kita harus membantu Revan terbebas dan menghancurkan Dark Devil." Ucap Raile meyakinkan.


Riz akhirnya mengangguk. Namun...


Kling kling...


Suara notifikasi dari ponsel nya langsung menarik perhatian pemuda ber iris mata emas itu. Ia pun langsung memeriksa ponsel nya, dan mendapat sebuah pesan dari Revan.


"Ada apa?" Tanya Riz.


"Pesan dari Revan."


Selain itu informasi yang Revan berikan cukup berguna. Untuk saat ini setidak nya mereka sudah tau bagaimana cara mengatasi Avren.


"Informasi yang hebat! Ah... Jadi ngerasa kalah deh dari Rei. Padahal kondisi nya sekarang pun tidak bisa di bilang baik kan?" Ujar Riz sambil meletakkan tangan nya di belakang kepala nya.


"Tapi selain itu, yang membuat ku sedikit terkejut mengenai kemampuan Rei. Jika saja kemampuan nya bangkit lebih cepat, mungkin saja dia jadi salah satu senjata unggulan Avren seperti Revan kan?"


Riz mengangguk. " Itu sih udah jelas lah... Avren kan cuma cari orang-orang yang kuat." Ujar nya.


"Baiklah, kita tidak boleh kalah. Ayo cepat selesaikan ini." Ucap Raile dan kembali berjalan.

__ADS_1


"Baiklah baiklah..."


Tok tok tok


Pintu di ketuk dan tak lama, suara sahutan dari dalam mempersilahkan mereka untuk masuk.


"Selamat siang agen Raka." Ujar Raile dan Rei di saat yang bersamaan.


Di hadapan mereka kali ini, ada seorang pria yang duduk di balik meja kerja nya sambil menatap tajam pada dua pemuda yang baru datang itu.


"Kemana saja kalian?" Tanya agen Raka.


Keduanya saling pandang. Sudah mereka duga akhirnya akan begini.


"Kalian baik baik saja kan? Ada yang terluka? Kalian tidak di culik kan?" Agen Raka kembali bertanya, membuat keduanya semakin kesulitan untuk menjawab.


"Revan sakit, jadi kami menjaga nya di rumah. Kami baik baik saja kok." Jawab Raile berbohong.


"Lalu, apa kalian berdua harus pergi tanpa kabar? Setidak nya, minta izin dulu."


"Maafkan kami."


Suasana hening seketika saat setelah agen Raka mengatakan itu. Suasana di ruangan itu benar-benar menegangkan.


Agen Raka kembali bertanya. "Aku dapat laporan telah terjadi ledakan di gedung tua yang tidak lagi du gunakan. Beberapa tembakan juga terdengar dari sana, dan bukan hanya sekali dua kali. Apa... Kalian tau tentang itu?"

__ADS_1


Agen Raka menatap tajam. Keduanya tampak terkejut mendengar pertanyaan itu.


"Di mana kalian saat itu?"


__ADS_2