Shadow Agen

Shadow Agen
Ada di pihak nya


__ADS_3

Dar!! Prang!!


Peluru melesat mengenai belati yang ku gunakan sebagai pelindung. Beruntung aku sempat membawa nya tadi. Jika tidak, pasti aku sudah terkena tembakan itu tadi.


Gadis ber rambut hitam itu terus meluncurkan tembakan dan tendangan ke arah ku. Gerakan nya begitu lincah sampai membuat ku cukup kewalahan untuk menghindari nya. Bahkan beberapa kali aku hampir terkena tembakan atau pukulan dan tendangan nya. Dia belajar beladiri dari mana sih?


"Lebih baik kau menyerah saja, maka aku akan mengampuni mu." Desis gadis itu sambil terus menembak. Tatapan tajam ia lemparkan pada ku yang mencoba mengatur nafas dan menyiapkan kembali pistol ku.


Yang benar saja! Mana mungkin aku menyerah. Tapi kemampuan gadis itu tidak bisa di anggap remeh. Apa dia juga anggota Shadow Agen?


"Jangan bercanda. Lalu kalian akan menangkap dan memenjarakan ku hah?!" Sinis ku sambil membalas serangan nya.


Gadis itu berhenti dan menatap remeh ke padaku. Dari ekspresi wajah nya nampak seperti dia ingin tertawa. "Kau kira aku anggota Shadow Agen hah? Tentu bukan lah! Mana mungkin aku bergabung dengan orang orang terlalu baik kaya mereka. Aku gak ada hubungan nya dengan mereka, dasar mafia bego!"


Tunggu, apa? Dia tak ada hubungan nya dengan Shadow Agen? Lalu, apa mereka hanya sekedar teman Revan?


Normal POV


Himaki terdiam mendengar ucapan gadis di hadapan nya itu. Jika bukan anggota Shadow Agen, lantas apa?


"Aku Aira, yang akan menjadi malaikat kematian mu kalau kau gak nyerah juga. Lagian mafia bego seperti mu mau maunya di perintah sama ilmuan sengklek kaya dia. Kau itu cuma di jadiin alat!" Lanjut Aira.


Sejak awal Himaki memang sudah ragu. Terlebih lagi sejak bertemu dengan Ice dan Revan. Tapi itu masih belum cukup untuk membuat nya berpihak pada musuh nya.


"Jangan asal ngomong bocah!" Dengan cepat Himaki menerjang Aira sambil mengarahkan belati yang di pegang nya.


******


"Raile! Kau baik baik saja? Apa mereka melakukan hal buruk pada mu?" Dengan cepat Revan melepas lakban yang menutup mulut nya. Tangan nya menyentuh pipi sang kakak yang sedikit memar karena pukulan Pian.

__ADS_1


"Aku baik baik saja. Cepat kau pergi dari sini!" Seru Raile. Revan mengabaikan dan langsung melepas tali yang mengikat tangan dan kaki Raile.


"Lalu? Meninggalkan mu sendiri? Kau pikir untuk apa aku ke sini? Hanya bermain main dengan mereka?"


Ada rasa senang yang muncul saat kata kata itu terlontar dari bibir Revan yang tampak mengkhawatirkan nya.


Namun di sisi lain ia juga takut karena sudah jelas dirinya hanya di jadikan sebagai umpan di sini untuk memancing Revan datang.


"Lebih baik kau pergi dari sini sebelum-"


"Sebelum aku datang?"


Dor! Dor!!


Peluru dengan cepat melesat ke arah Revan dari sebuah jendela kecil di atas langit langit. Beruntung Revan berhasil menghindari nya dengan cepat.


Revan berdecak kesal. Ia benci dengan seseorang yang suka menyerang dari belakang. Di jendela itu, seorang pemuda dengan gaya khas berandalan melompat turun dari atas jendela dan dapat mendarat dengan aman. Ia memainkan mainkan pistol yang di pegang nya dan menunjukkan seringaian kejam nya.


"Kita bertemu lagi... Kalian gak lupa sama kami kan? Jahat banget loh kalo sampai lupa..." Ucap Pian sambil tersenyum licik.


"Apa mau kalian sebenarnya?" Tanya Revan sambil mencoba melindungi Raile di belakang nya.


"Kami hanya melakukan tugas dari tuan Avran. Membawa senjata nya kembali. Tapi sebelum itu... Kami mau main main dulu!" Pian langsung berlari cepat ke arah Revan. Namun di luar dugaan nya, Revan justru masih terdiam seakan tak ingin melawan sedikitpun.


Apa dia mau mati begitu saja?


Tidak, ada yang aneh.


Revan mundur beberapa langkah dan menggenggam tangan Raile yang langsung terlihat sedikit percikan merah di sana.

__ADS_1


"Akh..." Rintih Raile saat merasakan sengatan listrik secara tiba-tiba di tubuhnya. Tidak terlalu sakit, namun itu cukup membuat nya terkejut.


"[Penghentian]"


Deg!


Saat itu juga Pian terjatuh begitu mendengar suara itu. Revan masih tidak berkutik, diam di tempat nya dan hanya memandang dengan ekspresi datar. Lain hal nya dengan Raile yang nampak terkejut melihat Pian yang secara tiba-tiba terjatuh.


Ia mengedarkan pandangan nya mencari asal dari suara yang di dengar nya tadi.


"Rev!"


Brak!!


Sampai akhirnya pintu di dobrak paksa hingga engsel yang menahan pintu itu terlepas. Seorang pemuda ber rambut perak masuk dengan santai nya.


"S-siapa kau?" Tanya Raile.


Pandangan Erano teralih pada Raile yang masih ada di balik Revan. Senyuman terukir saat melihat manik emas pemuda itu. "Aku Erano teman Revan. Tenang saja, kau gak perlu takut. Aku gak nggigit kok!" Ujar nya sambil mengulurkan tangan.


"A-aku..."


"Raile kan? Kakak Revan. Aku sudah tau tentang mu. Baguslah kau tidak apa apa. Revan sangat khawatir pada mu tadi." Ucap Erano sambil memberikan tatapan yang cukup sulit di artikan pada Revan.


Sedangkan pemuda ber iris merah ruby itu hanya berdecak kesal dan memalingkan wajah. "Niatnya aku juga gak mu minta bantuan kalian loh." Balas Revan.


Mendengar itu lantas membuat Erano terkekeh.


Raile mengangguk mengerti. Jika pemuda ber rambut silver itu adalah teman Revan, sudah jelas dia ada di pihak nya. Namun hal yang masih membuat Raile penasaran, bagaimana bisa Pian terjatuh begitu saja setelah mendengar perkataan Erano?

__ADS_1


Raile bertanya. "Tapi bagaimana dia bisa langsung terjatuh begitu mendengar ucapan mu? Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Ku jelaskan nanti. Yang penting kita harus keluar dari sini dulu."


__ADS_2