
"Di saat seperti ini masih saja ada misi. Menyebalkan." Keluh seorang pemuda sambil menyelinap di dekat pertokoan. Mata nya menatap tajam mengawasi orang orang yang menjadi target nya.
Misi nya kali ini adalah menggagalkan rencana Dark Devil yang mencoba untuk menyabotase data di agensi cabang.
Sebagai organisasi agensi yang melindungi Delaria City, tentu saja memiliki beberapa cabang agensi itu juga penting, mengingat seberapa luas nya kota itu.
Ia tampak mengamati area sekitar dan mengawasi 2 orang pria yang terlihat memasuki sebuah gedung.
"Apa memang mereka orang nya?"
"Astaga Riz!"
"Psssttt!!! Diam nanti ketahuan!!" Ujar Riz sambil membungkam mulut Rei.
Jelas saja Rei terkejut. Mendadak muncul di belakangnya tanpa permisi dan langsung memberikan pertanyaan seperti itu, bagaimana bisa membuat nya tidak terkejut?
Rei mengangguk dan menepis tangan Riz di mulut nya. Sungguh menyebalkan main bungkam orang seperti itu.
Riz menyiapkan pistol nya. "Jadi langsung tangkap aja? Dimana Raile?"
"Raile ada bersama Revan di rumah sakit. Untuk saat ini lebih baik jika mereka bersama bukan?"
Riz mengangguk. Ada benarnya. Mungkin dengan mereka bersama seperti itu akan mempercepat pemulihan ingatan Revan.
Setidaknya itu yang di pikirkan oleh pemuda bermanik blue sky itu.
Namun tidak ada yang tau apa yang sebenarnya terjadi di sana.
*******
"Kau yakin mengkhawatirkan nya?"
Raile terkejut. Tidak... Ia tidak sedang bermimpi bukan? Tubuh nya membeku mendengar pertanyaan itu. Ah, tepatnya melihat sosok di hadapan nya.
Perlahan, sebagian rambut Revan berubah menjadi putih dan iris mata nya berubah menjadi merah darah.
Tentu ini bukan sesuatu yang normal bukan?
"Rev... Kau... Baik baik saja? A-ada apa dengan mu?" Tanya Raile dengan raut wajah khawatir. Tentu saja ia khawatir. Ini pertama kali bagi nya melihat kejadian seperti ini. Apa mungkin akibat percobaan itu? Atau ada sebab lain?
Seringaian terbentuk di wajah Revan, membuat nya terlihat mengerikan. Atmosfer di sekitar nya seketika memberat membuat Raile merasa merinding.
"Aku baik. Tapi, bukannya pertanyaan itu lebih cocok untuk mu, Raile?"
Raile menaikkan sebelah alis nya. "Apa maksud mu?"
"Kau yakin mengkhawatirkan Revan? Atau.. Hanya perasaan bersalah karena kau yang membuat nya seperti ini?"
Mendengar pertanyaan itu, Raile terdiam. Ia masih mencoba untuk memahami situasi ini. Revan berkata seolah itu bukan dirinya. Atau mungkin... Memang bukan? Tapi sisi lain dari kepribadian nya?
__ADS_1
'Tidak mungkin Revan memiliki kepribadian ganda kan?' batin Raile.
Namun tidak ada yang tau. Apapun bisa terjadi. Ditambah dengan bagaimana masa lalu Revan dan apa saja yang pemuda malang itu alami, hal seperti itu mungkin saja terjadi.
"Kenapa diam?" Tanya Revan sambil menatap Raile dingin.
Raile meneguk ludah paksa. "Tidak Rev... Ya... Memang benar aku merasa bersalah tentang itu. Tapi bukan maksud ku juga bersikap baik hanya karena itu. Sungguh, aku ingin memperbaiki semua nya..."
Revan terkekeh. "Sungguh? Jika begitu, mari lihat bagaimana kau bisa kembali mengambil kepercayaan Revan."
Setelah mengatakan itu, warna rambut Revan kembali berwarna hitam dengan iris mata merah ruby.
"Ugh..." Keluh Revan sambil memegang kepala nya.
Dengan cepat Raile membantu sang adik untuk berbaring.
"Kau baik baik saja? Butuh sesuatu?" Tanya Raile masih dengan raut wajah khawatir.
Pemuda bermanik ruby itu menggeleng pelan. "Apa... Yang terjadi?"
Raile sedikit terkejut, namun secepat mungkin kembali menormalkan ekspresi nya.
"Apa kau tidak mengingat apa yang baru saja kau katakan?"
Revan menggeleng. "Memangnya tadi aku bilang apa? "
Oke, peralihan kepribadian juga mempengaruhi ingatan. Dengan kata lain, Revan sama sekali tak menyadari jika dirinya di kendalikan tadi.
"Apa ada masalah?" Tanya Revan.
Raile menggeleng. Ia memasang senyuman tipis di wajah nya. "Tidak. Tidak ada masalah kok!"
Ya, untuk saat ini sepertinya akan lebih baik jika ia merahasiakan nya dari Revan. Hanya sebuah rahasia kecil yang hanya diri nya seorang yang tau. Seperti nya tidak masalah bukan?
Walau bagaimanapun cepat atau lambat Revan mungkin juga akan mengetahui nya, tapi untuk saat ini, lebih baik merahasiakan nya sampai saat itu tiba. Ia juga harus mencari cara untuk memberi tahu nya perlahan. Sekaligus... Mencari cara untuk mengembalikan ingatan Revan dan mengambil kembali kepercayaan nya.
********
Dua orang pria terlihat sibuk mengotak atik komputer, mencari data dan dokumen yang mereka butuhkan.
Salah satu tampak mengawasi sekitar sambil memegang sebuah pistol di tangan nya untuk berjaga jaga, dan satunya lagi menyalin data data di komputer.
"Apa masih lama?" Tanya salah seorang pria yang bertugas mengawasi.
"Sebentar lagi.. Aku hanya perlu menyalin semua data ini." Jawab pria yang bertugas menyalin data di komputer.
Suasana sunyi, tak terdengar suara orang lain di sana kecuali mereka, membuat pria yang bertugas mengawasi itu menurunkan sedikit kewaspadaan nya.
Namun ia tidak tau, jika tindakan nya itu justru berakibat fatal untuk dirinya dan rekan nya.
__ADS_1
DAR!!
Sebuah peluru melesat menghancurkan pistol pria itu, membuatnya melangkah mundur karena terkejut.
"Sial! Kita ketahuan!"
"Tapi masih ada data yang belum di salin."
"Sudahlah!"
Pria itu menarik rekan nya, berusaha untuk pergi dari sana. Namun sayangnya usahanya sia sia.
BRAK!!
"Wah lumayan dapat bantal empuk buat mendarat~"
Riz melompat dari atas dan mendarat tepat di atas salah satu pria itu, membuat nya pingsan seketika.
Untung gak gepeng tuh orang.
Sementara satu orang pria lainnya mencoba kabur, tapi langsung di hadang oleh Rei yang menodongkan pistol ke arah nya.
"Kau terjebak. Sudah tidak ada lagi jalan untuk mu kabur. " Ujar Rei.
Pria itu berdecak kesal. Ia mengeluarkan pisau lipat dari dalam saku nya, mencoba menusukkan nya ke arah Rei. Namun,
BRUG!
"wah... Kalo jalan itu lihat lihat paman... Kan jadi jatuh." Ucap Riz sambil tertawa kecil karena berhasil membuat pria itu terjatuh karena tersandung.
"Ck sialan!!"
Tidak ada lagi jalan untuk nya pergi. Rei menodongkan pistol tepat di kepala pria itu, membuatnya mau tidak mau harus menyerah.
Langsung saja Riz memborgol tangan kedua pria itu. Namun ia sedikit mengernyitkan dahi melihat perubahan ekspresi Rei.
"Ada apa?" Tanya Riz.
"Bukankah ini terlalu mudah?" Ujar nya.
"Namanya aja kelas teri. Kurang pengalaman kali..."
"Tidak... Sepertinya bukan hanya ini..." Rei mempertajam pendengaran nya, mata nya mengamati sekitar nya.
Bip bip bip...
Samar Samar, dapat ia dengar suara yang tentu tidak asing bagi nya.
"Suara itu..." Kedua pemuda itu saling bertatapan.
__ADS_1
"Bom!!"
TBC