Shadow Agen

Shadow Agen
Orang yang tepat


__ADS_3

"Thory pun sudah mulai menunjukkan kekuatan nya. Jika begini akan berbahaya."


"Gimana kita harus cari tau kelemahan nya." Ujar Raile di sambung Riz.


"Tapi..." Riz memandang Ice dengan raut wajah yang cukup sulit di tebak. "Kenapa memanggil kami ke ruang latihan? Aku yakin kak Ice nggak bakal latihan juga." Lanjut Riz.


Tepat sasaran.


Ice menghela nafas. "Biar gak ada yang ganggu. Selain itu... Kita juga harus mulai bergerak kan?"


"Sebenarnya itu tujuan awal kami kembali ke sini." Ujar Raile.


Ice mengangguk paham. Tanpa di jelaskan pun, Ice sudah tau jika mereka juga sudah mulai bergerak. Tanpa mereka sadari, selama ini Ice selalu mengawasi, mencoba mencari informasi dari dua tempat sekaligus.


Dengan sikap nya yang dingin dan agak pemalas, apalagi sering ketiduran justru menjadi keuntungan tersendiri untuk nya. Menjadikan alasan dirinya ketiduran atau malas, semua orang yang sudah tau sikap nya pun akan tertipu dan tidak akan sadar, jika sebenarnya Ice bekerja di dua organisasi.


Namun tujuan nya tak lain untuk memperoleh data. Dan saat ini ia tau, siapa yang tepat untuk menerima semua informasi yang sudah lama ia rahasiakan dari semua orang.


Ice sengaja merahasiakan itu pada awalnya, membiarkan Raile dan teman teman nya menyadari dan berusaha mencari nya lebih dulu. Sampai sekarang lah waktu nya, ia membantu mereka dengan informasi itu.


Ice berjalan menuju salah satu sudut dinding ruang latihan itu. Ia mengulurkan tangan nya menekan dinding yang kemudian menjorok masuk ke dalam.


Raile dan Rei yang melihat itu masih membeku dalam diam, sembari memperhatikan senior nya itu.


Tak lama, lantai di bawah nya terbuka, membentuk jalan menuju sebuah ruangan di bawah tanah. Mereka sungguh tak menyangka ada ruangan di bawah sana.


"Sejak kapan ada ruang rahasia di sana?" Tanya Riz.


"Sudah sangat lama, saat markas Shadow Agen di buat. Tapi tak banyak yang menyadari nya." Jawab Ice dan berjalan masuk ke dalam. Raile dan Riz pun mengikutinya nya.


Ketiga nya melangkah menuruni anak tangga dengan berhati hati, sampai akhirnya mereka tiba di suatu ruangan bercat kan biru putih. Tidak terlalu luas, tapi terkesan begitu nyaman.


Ada beberapa rak dan banyak buku buku di sana. Sebuah sofa berwarna putih gading dan sebuah meja kaca bundar terletak di tengah ruangan.


Seperti sebuah perpustakaan rahasia saja.


Di sudut ruangan itu, ada sebuah komputer yang terpasang. Ice berjalan menuju komputer itu dan mendudukkan dirinya di kursi yang ada. "Kemarilah."

__ADS_1


Kedua pemuda yang sedari tadi masih mengagumi dalam diam pun mendekat ke arah Ice.


Pria yang mengenakan kaos putih berbalut jaket biru muda itu menyalakan komputer nya dan membuka sebuah file yang berisikan sebuah data lengkap mengenai percobaan, penelitian dan denah markas Dark Devil.


Untuk kedua kalinya Raile di buat terkejut oleh sosok yang di kira nya pemalas itu. Entah bagaimana cara nya Ice bisa mendapatkan semua informasi dan data seperti itu.


"Kak Ice benar benar hebat! Kayaknya aku harus berguru sama kak Ice!" Seru Riz kagum. Mata nya tampak berbinar membaca dengan semangat dan sesegera mungkin membagikan data itu pada Revan.


Di sisi lain Raile masih terdiam memperhatikan Riz yang tengah menyalin data. "Kenapa? Bukannya seharusnya kau senang?" Pertanyaan itu lantas mengejutkan Raile. Pandangan nya mengarah para Ice yang menatapnya penasaran.


"Aku hanya penasaran, kenapa kak Ice memberikan semua ini pada kami. Kak Ice sendiri sudah lama mendapatkan semua data ini, kenapa tidak langsung menggunakan nya untuk menghancurkan Dark Devil? Atau setidaknya memberitahu anggota Shadow Agen yang lain?" Tanya Raile penasaran.


Senyuman kecil terbentuk di wajah Ice. Tatapan pria itu teralih memperhatikan Riz yang masih sibuk dengan kegiatan nya.


"Aku sendiri tak mampu mengahadapi mereka. Walau aku punya semua ini pun, aku masih kalah jumlah dan kemampuan. Ditambah Thory yang merupakan esper, jika aku salah langkah, semua usaha ku selama ini sia sia kan?" Ujar Ice.


Yang di katakan pria itu memang benar. Walau kemampuan ice dalam beladiri dan penggunaan senjata begitu hebat, tapi itu masih belum cukup untuk mengalahkan esper yang memiliki kekuatan super.


"Jadi... Aku meminta bantuan kalian. Sebenarnya aku ingin memberikan nya langsung pada Revan, tapi setelah mengamati, sepertinya kalian punya rencana lain. Makanya ku berikan padamu. Itu juga karena kalian ada di sini sih..." Lanjutnya.


"Maka dari itu... Aku percaya pada anak anak seperti kalian. Yang memiliki tekat kuat dan terus berjuang. Jangan menyerah ya... Semuanya pasti akan segera berakhir." Ice mengusap lembut pucuk kepala Raile. Ekspresi di wajah pria itu yang sebelumnya selalu dingin dan pucat seperti krang yang baru bangun tidur, kini justru memberikan kehangatan.


Raile mengangguk. "Pasti. Kami akan menyelesaikan semuanya." Sahut Raile semangat.


"Oke, sudah selesai! Aku juga sudah mengirimnya pada Revan." Ujar Riz.


Baguslah. Tugas mereka saat ini sudah selesai. Selanjutnya....


"Apa kalian akan menunggu di sini saja? Cepat susul mereka. Saat waktu nya tepat, aku juga akan membantu nanti. Semakin banyak orang semakin bagus kan?" Ujar Ice.


"Tapi gimana kalo kak Raka nanyain?" Mengingat sebelum nya mereka sampai di tanyai habis habisan seperti di interogasi, kalau tiba tiba keluar apalagi tak memberikan laporan, pasti mereka akan di jatuhi ribuan pertanyaan lagi.


"Tenang saja, soal itu biar aku yang urus." Sahut Ice.


"Baiklah, kalau begitu terimakasih." Ujar Revan dan langsung pergi bersama Riz.


******

__ADS_1


"Ish... Mana mereka nih?" Tanya Eden sambil menghentakkan kaki nya kesal. Kini mereka sudah ada di balik salah satu kios tua yang tidak lagi di gunakan. Tempat itu cukup dekat dengan markas Dark Devil, tapi aman untuk bersembunyi.


15 menit sudah berlalu sejak mereka sampai di sana, namun sampai sekarang Rei masih belum datang juga.


Aira menghela nafas nya. "Mereka tidak tersesat atau tertangkap kan? Atau Rei pingsan? Kondisi nya kan masih belum terlalu baik."


"Kau ini malah memperhatikan Rei. Kau suka dengan Rei ya?" Eden menatap curiga.


"Dih! Ya enggak lah! Aku cuma khawatir aja tau. Emang nggak boleh?" Balas Aira sengit.


"Sudahlah jangan berdebat. Jangan sampai mereka tau kita di sini." Ujar Revan akhirnya membuat kedua rekan nya itu diam.


'Mereka datang.'


"Akhirnya kalian datang juga." Ujar Revan sambil menoleh. Tapi justru membuat terkejut rekan nya yang lain.


Bahkan mereka saja tak menyadari kehadiran Rei.


"Maaf kami terlambat." Ujar Rei dengan nafas yang terengah-enggah.


"Tak masalah. Jadi-"


Kling...


Suara notifikasi dari handphone nya menarik perhatian Revan. Itu dari Riz. Seulas senyum terbentuk di bibir merah nya.


"Raile dan Rei sudah berhasil. Ada juga denah markas Dark Devil, lengkap dengan penjelasan apa saja yang ada di dalam nya." Ujar Revan.


"Hebat... Tapi bagaimana mereka sampai dapat denah Dark Devil di markas Shadow Agen?" Tanya Himaki.


"Mungkin data yang di rahasiakan atau semacamnya. Sekarang ayo kita masuk."


Lainnya mengangguk. "Sebentar. Kalian dapat data dari Shadow Agen? Tapi bukannya-"


"Ssttt!" Secara tiba tiba Revan menutup mulut Sein, membuat pria ber iris kekuningan itu terkejut. "Kami jelasin semuanya nanti."


Sein hanya bisa mengangguk tanpa berkata apa apa lagi. Mereka pun mulai masuk ke markas Dark Devil.

__ADS_1


__ADS_2