
PRITT!
"Ayo ayo lari terus! Jangan berhenti, tambah kecepatan!"
Di sebuah lapangan yang cukup luas, Revan, Erano, Eden, Himaki dan Aira berlari mengelilingi lapangan. Hari ini mereka memulai latihan dan sebagai orang yang menemukan tempat aman untuk mereka berlatih kemampuan mereka, Riz terus memaksa untuk menjadi pelatih.
"Hey! Mereka yang punya kemampuan khusus, kenapa aku juga harus ikut lari sih??" Protes Himaki yang secara terpaksa juga harus mengikuti latihan itu.
"Kau juga harus melatih kemampuan mu kan? Dah lah, gak usah protes. Lima putaran lagi!" Seru Riz sambil meniup peluit nya, membuat Himaki menarik nafas kesal, dan dengan terpaksa terus berlari.
Aira mendengus kesal. Di saat lainnya latihan, Riz justru hanya terus mengoceh di tepi lapangan sambil meniup peluit. Bukan hanya itu, sempat sempat nya juga ia meminun minuman kaleng dengan santainya, sementara lainnya harus menguras keringat di tengah terik matahari dan berlari mengelilingi lapangan. "Setidaknya berbaik hati lah karena aku perempuan di sini!"
"Baiklah baiklah... Untuk Aira, cukup tiga putaran lagi." Ucap Riz sambil mengibas ngibaskan tangan nya.
Riz yang melihat teman teman nya berlari dan mengikuti semua ucapan nya menahan tawa.
Jadi begini ya rasanya menjadi pelatih. Bisa santai di saat lainnya berlatih dan hanya perlu meniup peluit sambil bersantai.
Tapi sayang, itu hanya berlaku sementara, sampai sebuah tangan secara tiba tiba mendarat di pundak nya. "Wah... Seru ya lihat mereka lari gitu."
Riz menoleh dan mendapati Raile yang baru saja datang dan tersenyum pada nya. Senyuman itu memang terlihat begitu manis, tapi juga terkesan menyeramkan!
"E-Eh Raile. Apa kabar? Makin ganteng aja deh..." Ujar Riz sambil melangkah ke belakang.
"Enak ya, saat lainnya latihan kau malah enak enakan minum dan cuma teriak teriak doang." Ujar Raile dengan penekanan di akhir kalimat. Senyuman masih tak luntur dari bibir nya, namun seakan ada aura gelap yang muncul di sekitar nya membuatnya semakin mengerikan!
"Sekarang cepat kau ikut lari atau kau akan merasakan jurus balingan sepatu sakti yang sudah pernah menginjak tai!" Seru Raile sambil mengangkat salah satu sepatu nya.
__ADS_1
"Huwa! Baiklah baiklah aku ikut lari!" Tanpa buang waktu, pemuda bermanik biru langit itu langsung bergabung bersama Revan dan lainnya.
Ya, itu lebih baik daripada harus merasakan balingan sepatu milik Raile. Dah gitu pernah nginjak tai lagi. Walaupun hanya 'pernah' tapi tetap saja. Riz tentu gak mau muka nya ternodai.
Matahari semakin terik seiring pagi menjelang siang. Setelah selesai berlari, mereka melanjutkan latihan dengan menguji kemampuan mading masing.
Ini pertama kali nya bagi Revan melatih kemampuan nya di depan orang lain. Biasanya dia selalu berlatih sendiri secara diam diam.
Kini Eden lebih dulu. Sebuah drone di terbangkan menggunakan kemampuan nya setinggi mungkin. Walau bisa mengendalikan teknologi di sekitar nya, tapi bukan berarti itu tak memiliki batasan.
Jika yang di kendalikan adalah komputer, sejauh apapun itu akan mudah karena hanya perlu menghack sistem tertentu. Tapi lain hal nya dengan benda seperti drone atau robot yang biasanya lebih rumit untuk di kendalikan.
"Tetap fokus Eden." Ujar Erano.
Eden mengangguk singkat dan menarik nafas nya, mengendalikan laju drone itu melintasi pepohonan dan semakin tinggi.
"Hey Erano, bisa terbangkan lebih jauh lagi? Siapa tau dapat hal yang menarik." Ucap Riz tampak bersemangat.
"Baiklah ku coba." Drone itu terbang di atas bangunan bangunan, memperlihatkan rekaman setiap celah di bawah nya, tak terkecuali Revan. Namun... Pandangan nya seketika terfokus pada satu hal.
"Hey, bukannya itu... Anggota Dark Devil juga kan?
Mendengar itu, lainnya langsung memperhatikan seorang pemuda yang terlihat memasuki sebuah Cafe sambil membawa sebuah koper berwarna hitam.
"Bukannya itu Naru? Apa yang dia lakukan di sana?" Ujar Himaki.
"Naru?" Revan mengernyitkan dahi nya.
__ADS_1
"Anggota Dark Devil. Kau.. Tak ingat ya? Salah satu rekan nya sudah mati di bunuh. Sejak itu dia dan salah satu rekan nya jadi jarang terlihat. Kadang aku penasaran kemana saja mereka." Jelas Himaki.
Ada untung nya juga Himaki ikut bersama mereka. Setidaknya ada informasi yang bisa mereka dapatkan.
"Gimana kalo kita ikuti saja mereka? Bisa lebih dekat?" Tanya Riz.
Eden menggeleng. "Mencurigakan kalo terlalu dekat. Lagipula sekitar juga ramai."
"Kalau gitu kita datangi langsung?".
"Kau gila Riz? Buat apa? Lagian orang datang ke cafe juga wajar kan?" Ujar Raile.
"Enggak kalo bawa koper."
"Bisa saja barang pribadi nya, atau mungkin dia ingin pergi ke suatu tempat."
"Mana mungkin mafia seperti itu. Aku yakin ada yang dia rencanakan."
Aira menambahi. "Mungkin saja itu bom? Atau benda terlarang lainnya." Duga nya. Tidak salah juga bukan? Bagaimanapun Naru adalah anggota mafia.
"Baiklah... Tapi kalau gak ada apa apa langsung lanjutkan latihan okey?" Ujar Eden.
"Okey!!" Riz, Eden dan Aira berseru semangat.
"Kau sendiri bagaimana Rev?" Tanya Raile sambil menoleh ke arah Revan.
"Aku ikut kalian saja." Jawab nya singkat.
__ADS_1
"Baiklah. Ayo!!"