
"Hey, kenapa kau jadi mafia sekarang?" Tanya Thory tiba-tiba. Pemuda itu tampak bermain mein dengan sulur tanaman yang bergerak seperti ular di sekitar nya.
Avren yang kala itu baru selesai membereskan peralatan nya terdiam sejenak. Ia menatap datar pada Thory yang baru saja menanyakan itu. Pasalnya, sudah bertahun tahun mereka bersama, melakukan semua tindak kejahatan, percobaan dan membuat Dark Devil semakin besar, tapi kenapa justru baru sekarang dia menanyakan nya?
"Apa urusannya dengan mu?" Jawab Avren ketus.
"Penasaran saja." Thory mengendalikan tanaman tanaman di sekitar nya membentuk sebuah sofa dan duduk di atas nya. "Setiap orang melakukan kejahatan pasti memiliki alasan tertentu. Aku misalnya, yang karena dendam sampai bergabung dengan mu. Kau juga pasti memiliki alasan khusus kan?"
Yang Thory kayaknya benar, setiap orang melakukan tindak kejahatan, bahkan sampai me jadi mafia tentu bukan tanpa alasan. Pasti memiliki suatu tujuan tertentu atau untuk membalas sesuatu.
Avren menghela nafas nya. Ia berjalan menuju sofa di sebrang Thory dan mendudukkan dirinya di sana. "Aku ingin menyingkirkan dunia yang busuk ini."
Jawaban Avren lantas membuat Thory terkejut. "Dunia... Yang busuk?" Tanya Thory lagi.
Avren mengangguk. "Di mana ada orang-orang tak berguna yang memilih orang untuk di tolong. Kau tau, hidup ku dulu jauh lebih memperihatinkan. Orang tua ku hanya bekerja sebagai pengamen jalanan. Aku pun sering ikut untuk membantu mereka." Avren menjeda ucapan nya. Ia mengambil segelas kopi yang tersaji di meja dan meminumnya.
"Tapi... Itu tak bertahan lama. Saat usia ku 8 tahun, orang tua ku meninggal karena kecelakaan, dan malangnya tidak ada satupun orang yang mau membantu. Mereka yang melihat kejadian itu hanya sekilas lihat dan numpang lewat, atau bahkan ada yang tidak peduli. Beberapa orang tampak berhenti, tapi bukannya membantu, justru hanya mengabadikan nya dalam bentuk foto dan video. Mereka benar-benar tidak punya hati. Saat itu aku sadar, orang seperti kami yang tidak memiliki apa apa hanya di anggap sampah oleh orang lain."
"Sampai akhirnya ada yang membantu ku, dan orang itu adalah anggota mafia. Saat tidak ada satupun orang baik yang mau membantu, justru mereka yang ada di sisi gelap jauh lebih baik bukan? Sejak itu aku terus berlatih untuk menjadi orang yang kuat. Aku ingin menghancurkan kota ini, semua orang di dalam nya." Jelas Avren.
Thory mengangguk mengerti. Pasti berat harus kehilangan orang tua di usia nya yang begitu muda dan di perlakukan seperti sampah. Terkadang manusia itu memang kejam. Entah karena enggan berurusan dengan polisi, atau emang atas dasar tidak peduli, mereka mengabaikan orang-orang golongan kebawah yang lemah di mata mereka.
Memang benar, orang orang seperti itu memang harus di beri pelajaran.
__ADS_1
"Rupanya begitu. Memang benar ya... Terkadang mereka itu buta mendadak saat melihat orang lain dalam kesulitan. Walau tidak semua, tapi di saat seperti ini, apalagi di kota dengan tingkat kriminal tertinggi di dunia, mereka akan lebih mementingkan diri sendiri daripada orang lain." Ujar Thory. Tangan nya mengepal kuat, menahan emosi saat ingatan tentang masa lalu nya kembali muncul. "Itu alasannya aku benci mereka." Lanjutnya.
"Jadi, untuk menghancurkan kota ini dan menjadikan Dark Devil yang paling berkuasa, aku melakukan percobaan ini. Untuk membentuk senjata yang akan mengakhiri kebusukan kota ini." Ujar Avren. Jika begini, tidak heran Avren begitu ambisius.
"Baiklah, jika begitu, mari kita hancurkan mereka semua."
*******
BRAK!!
Pintu di dobrak yang seketika mengejutkan semua orang yang ada di dalam.
"Hoi! Jangan harap kalian bisa menggunakan data itu untuk mengendalikan kami!" Seru Erano setelah mendobrak paksa pintu itu, bahkan sampai terlepas dari engsel nya.
Mereka sudah lelah terus dikendalikan. Mereka sudah lelah terus di jadikan sebagai alat.
Dan sekarang, tentu mereka tak akan membiarkan itu terjadi lagi.
Naru dan Farel tampak terkejut dengan kedatangan ketujuh remaja itu. Mereka pikir tidak akan ada yang tau lokasi mereka di sini, tapi ternyata mereka salah.
Naru mengepalkan tangan nya kesal. Ia merutuki dirinya sendiri yang kurang waspada, tapi juga kesal karena mereka bisa mengetahui tempat persembunyian mereka.
"Kalian mau mencegah kami?" Tanya Farel yang dengan segera menormalkan kembali ekspresi nya. Seringaian tercetak di wajah pria itu yang juga menatap dengan tatapan meremehkan.
__ADS_1
"Sayang nya kalian terlambat."
KLIK
DEG!
"Akhh!!" Jerit Revan, Erano, Eden dan Aira seketika. Rasa sakit secara tiba tiba menjalar di kepala dan tubuh mereka.
Erano berdecak kesal. Ini sama seperti apa yang pernah ia rasakan saat Avren mengendalikan dirinya dulu.
Namun yang membuatnya bertanya tanya, bagaimana Farel melakukan itu? Ia yakin jelas mereka belum sempat membaca data itu saat mereka masuk yadi.
"Tak ku sangka, pak tua itu benar benar ada guna nya juga ya." Ujar Farel sambil menyeringai kejam. Dari ruangan di belakang nya, seorang pria tua keluar dan berjalan mendekati mereka. Senyuman kejam merekah di bibir nya seakan begitu senang nya melihat para kelinci percobaan yang sempat kabur, kini telah kembali.
"Apa kabar? Kalian tidak lupa pada ku bukan?" Tanya pria tua itu, masih setia dengan senyuman nya.
Raile, Riz dan Himaki yang melihat kejadian itu mengepalkan tangan kesal. Tanpa aba aba, Raile langsung mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku jaket nya dan berlari ke arah pria tua itu.
'Jadi dia... Yang selama ini ikut membuat Revan menderita? Tak akan ku biarkan!' batin Raile sambil terus berlari maju. Namun...
Trang!
Secara tiba tiba Farel mengayunkan tongkat besi yang langsung berbenturan dengan pisau milik Raile.
__ADS_1
"Tak akan ku biarkan... Kalian kembali menyakiti Revan!!"