
Daun daun berguguran di panti asuhan Mikadzuki. Angin sepoi sepoi bertiup menjatuhkan dedaunan yang mulai memerah karena musim gugur telah tiba. Di panti asuhan itu, anak anak dengan senang nya bermain dan mengejar dedaunan itu.
Senyuman manis nan polos terlihat jelas di wajah mereka, menutupi segala masa lalu yang membawa mereka berada di tempat itu.
Tak terkecuali dua orang kakak beradik yang kini sedang bermain di bawah pohon. Mereka adalah Tatsuya Himaki dan Tatsuya Himeko. Orang tua mereka meninggal akibat kecelakaan saat keduanya masih balita. Saat itu Himaki dan Himeko sedang berlibur di rumah nenek nya, maka dari itu mereka bisa selamat.
Tapi, tidak ada yang tau bagaimana takdir akan berjalan. Dua bulan setelahnya, nenek mereka meninggal, yang membuat kedua kakak beradik itu kini berada di panti asuhan.
"Kak Himaki! Ayo ikut main! Asik loh!" Ajak gadis ber rambut hitam panjang. Rambutnya berkibar tertiup angin yang berhembus. Mata perak nya terlihat berkilau terkenal cahaya matahari.
Sementara sang kakak, Himaki, terlihat lebih memilih berduduk santai sambil bersandar di batang pohon. "Tidak, kau saja yang bermain. Jangan ganggu waktu santai ku, Meko..." Tolak sang kakak membuat Himeko menggembungkan pipi nya kesal.
"Kak Himaki nyebelin." Ucap nya. Namun, sebuah ide jahil muncul di kepala nya. Himeko mengambil setumpuk dedaunan dan mengendap endap di belakang sang kakak yang kini memejamkan mata nya. Senyuman jahil terukir di wajah nya melihat sang target yang masih belum menyadari keberadaan nya.
Hanya tinggal beberapa langkah lagi sebelum Himeko sampai di jarak yang cukup untuk menjahili sang kakak. Sampai...
Hamp
Himeko melompat dan melemparkan tumpukan daun itu pada kakak nya. Himaki yang kala itu hampir tertidur langsung terkejut dan bangun. Ia langsung menoleh ke samping nya, dan menemukan sang adik yang sedang tertawa.
"Meko!!!" Seru Himaki dan langsung mengejar Himeko. Gadis kecil itu terus berlari menghindari sang kakak yang mengejar nya.
"Haha! Kakak gak bakal bisa tangkap aku!!" Ucap Himeko sambil menjulurkan lidah nya. Namun...
"Himaki, Himeko! Ayo kesini sebentar!" Panggil salah satu pengurus panti. Keduanya pun langsung mendekat.
"Himaki, Himeko... Ada orang baik yang ingin bertemu dengan kalian. Dia akan mengadopsi kalian. Kalian akan punya keluarga baru! " Ucap pengurus panti itu sambil tersenyum. Mata kedua anak itu pun langsung berbinar.
"Sungguh?? Asik!!" Ucap Himeko senang sambil sedikit melompat.
Keduanya pun langsung menemui orang itu. Namun, terkadang apa yang dikira baik tak sebaik apa yang sebenarnya. Seperti peribahasa, 'jangan melihat buku dari sampulnya.' Apa yang dikira buruk bisa saja menyimpan kebaikan di dalamnya. Begitu juga sebaliknya.
Seorang pria sekitar umur 40han datang menghampiri mereka. Ia tersenyum hangat memandang kedua anak di hadapan nya. "Ayo ikut dengan paman." Ucap pria itu sambil tersenyum hangat.
Bagi anak kecil yang telah la tinggal di panti asuhan, merasakan sakitnya kehilangan orang tua, mendapat keluarga baru adalah suatu kebahagiaan tersendiri yang mereka nantikan. Dengan cepat dan polosnya, kedua anak itu setuju.
"Baik paman!!" Ucap Himaki dan Himeko bersamaan.
Namun, sayangnya kebahagiaan tidak memihak pada mereka kali ini. Bukan nya mendapat kebahagiaan yang mereka harapkan, tapi justru derita yang kembali tertoreh di hati mereka.
Musim telah berganti. Daun daun telah berguguran, meninggalkan batang dan dahan pohon tanpa daun yang menghiasi nya. Suhu udara mulai menurun menandakan musim dingin telah tiba.
__ADS_1
Di tepi jalan yang dingin, dua orang kakak beradik sedang berjalan kue. Sebuah keranjang dengan kue yang hanya tersisa sedikit di bawa oleh sang adik yang kini terlihat kedinginan.
Menyadari itu, Himaki langsung melepas jaket milik nya dan memberikan nya pada Himeko. "Pakai ini, biar kamu gak kedinginan." Ucap nya.
"Eh, tapi nanti kakak yang kedinginan. Kakak pake aja, aku gak apa apa kok!" Tolak Hineko halus.
"Enggak, aku dah biasa gini. Kamu pake aja. Jangan sampe sakit ya..." Ucap sang kakak. Himeko hendak menolak, tapi melihat kekhawatiran di wajah sang kakak, ia akhirnya menerima nya.
"Padahal aku kamu baik baik aja. Dah ah, pulang aja yuk. Dah hampir malam" Ucap Himeko.
Benar juga. Himaki tidak memperhatikan jika sekitar nya kini sudah mulai gelap. Langit biru kini tergantikan langit jingga yang indah. Namun suhu di luar sana juga semakin menurun.
Hingga hari menjelang malam, kedua kakak beradik itu berlari menyusuri jalan sampai tiba di depan sebuah rumah. Diam diam mereka melangkahkan kaki nya masuk, berharap sang pemilik rumah tidak sampai lebih dulu dari mereka. Namun, keberuntungan tidak berpihak pada mereka. Orang yang seharusnya mereka anggap menjadi ayah angkat, kini sedang duduk di atas sofa sambil meminum sebotol minuman keras.
"Darimana saja kalian?" Tanya pria itu yang sepertinya mulai mabuk.
"Menjual kue, seperti yang Anda suruh." Jawab Himaki.
Alis pria itu terangkat, ia berjalan mendekati kedua kakak beradik itu. "Mana uang nya?"
Himeko merogoh saku nya dan mengeluarkan uang hasil penjualan kue dan menyerahkan nya pada pria itu. Seringaian terbentuk di wajah pria itu. Ia tampak menghitung jumlah nya, sebelum kemudian ekspresi wajah nya berubah. "KENAPA CUMA SEGINI?" Tanya pria dengan nada suara tinggi membuat Himeko ketakutan dan langsung bersembunyi di balik tubuh sang kakak.
BRUK!
"Kak Himaki!!"
Sebuah pukulan keras meluncur tepat ke pipi anak laki-laki itu, membuat nya langsung terjatuh.
Himeko mencoba mendekati sang kakak, namun pria itu langsung menepis nya.
"MINGGIR KAU!"
BRUK!
"Meko! Hoi! Jangan kasar kasar dengan adik ku!!" Seru Himaki yang tidak terima saudari nya diperlakukan kasar seperti itu. Namun sayangnya itu justru membuat nya harus menerima pukulan lagi dari sang ayah angkat.
"Kakak! Jangan sakiti kak Himaki!" Himeko langsung saja mendorong pria itu menjauhi sang kakak. Tidak ingin adiknya kembali di sakiti, Himaki langsung menarik tangan sang adik dan berlari ke luar rumah.
Mereka pun terus berlari menghindari ayah angkat mereka, tak mempedulikan kesehatan mereka. Udara dingin menusuk kulit berhembus, membuat tenaga kedua anak itu semakin banyak terkuras.
Langkah mereka terhenti di sebuah gang yang cukup sempit. Nafas mereka tak beraturan. Di gelapnya malam, salju mulai turun menghujani mereka dengan kepingan putih nya.
__ADS_1
Himeko menggigil kedinginan. Ia tak terbiasa dengan suhu dingin seperti itu. Ditambah tenaga nya yang sudah banyak terkuras membuat nya cukup kelelahan.
"Aku cape kak... " keluh Himeko.
Himaki memandang adik nya kasihan. Mereka sudah berlari cukup jauh, itupun tanpa istirahat. Terlebih lagi suhu dingin di sekitar mereka tentu membuat sang adik kelelahan.
"Tapi bagaimana jika-"
"Disini kalian rupanya."
Keduanya tersentak melihat kedatangan ayah angkat mereka. Sejak kapan pria itu ada di sana?
Tapi, hal yang membuat mereka lebih terkejut lagi, sebuah pistol yang pria itu pegang dan arahkan pada mereka.
"Akhirnya ketemu juga kalian." Pria itu menyeringai. Tangan nya siap menekan pelatuk yang akan menembakkan sebuah peluru berkecepatan tinggi pada mereka.
"LARI KAK!"
Tubuh Himaki di dorong dengan kuat, membuat pemuda itu melangkah menjauh untuk menjaga keseimbangan tubuh nya. Namun..
DAR!!!
"Akh!"
"MEKO!!!" Seru Himaki. Karena menolong nya, justru adik nya yang tertembak.
Saat Himaki hendak menghampiri sang adik, Himeko justru mencegah nya. "Pergi!! Jangan pedulikan aku, selamatkan diri kakak!!"
"Tapi..."
"KUMOHON PERGI!!!" Seru Himeko lalu tersenyum. Membuat mata Himaki berkaca-kaca.
Himaki mengangguk dan berlari pergi meninggalkan Himeko yang mulai memejamkan mata.
Tanpa sengaja dirinya menabrak seorang anak seusia nya, namun ia lebih memilih untuk mengabaikan nya saat ini. Ia harus selamat. Ia tak akan membiarkan pengorbanan Himeko untuk menyelamatkan nya sia sia.
Marah, kesal, sedih, sakit. Semua perasaan itu menumpuk dalam dirinya. Air mata mulai menetes dari kelopak mata nya, karena harus berpisah dengan sang adik yang harus kehilangan nyawa dengan tragis.
'Aku tak akan memaafkan nya. Akan ku bunuh orang orang seperti nya!' batin Himaki.
TBC
__ADS_1