Shadow Agen

Shadow Agen
Hati Yang Terluka


__ADS_3

"Kau... Siapa?"


Deg.


Seakan ada yang menusuk dada nya saat itu, Raile terdiam membeku.


Tidak mungkin Revan melupakan nya kan? Bahkan ia baru sebentar kembali mengingat bahwa Revan adalah adik kandung nya. Tidak mungkin jika dia harus kembali merenggang jarak karena Revan kehilangan ingatan nya kan?


"Kau... Tidak mengingat ku?" Raile bertanya dengan raut wajah tak percaya. Tubuhnya tampak gemetar. Dalam hati ia berharap jika ini hanya kejahilan Revan. Tapi sepertinya itu tidak mungkin.


Revan menggeleng pelan. " Tidak " Jawab nya singkat namun padat, seketika membuat tubuh Raile melemas.


Sungguh takdir seakan mempermainkan hidup nya. Harus kehilangan kedua orang tua nya dalam kecelakaan, lalu kehilangan ingatan nya dan melupakan adik nya yang paling ia sayang, bahkan ia sempat membenci nya. Dan di saat ingatan nya sudah kembali pulih, justru adik nya yang harus kehilangan ingatan dan melupakan nya.


Hatinya terluka, seperti di tusuk pisau tajam yang tak kasat mata.


Di saat ia ingin memperbaiki ikatan yang mulai kendor dan menghapus retakan jarak di antara mereka, justru jarak itu kembali terbentuk karena nya.


Jika saja ia tak ceroboh... Tapi menyalahkan dirinya sendiri terus menerus pun tak ada gunanya. Ia harus mencari cara untuk kembali memperbaiki hubungan mereka, membuat nya kembali seperti dulu lagi, saat masih belum ada masalah di antara mereka.


Sepertinya cara terbaik untuk saat ini adalah membuka lembaran baru, menunggu waktu sebelum lembaran lama itu kembali dalam memori nya.


"Hey kau baik baik saja?" Tanya Revan karena Raile tak menjawab begitu lama. Ia memandang dengan raut wajah khawatir. Itu terlihat jelas di manik ruby nya.


Raile menggeleng pelan. "Aku baik baik saja kok!"


"Um... Revan, apa kau mengingat ku?" Tanya Rei.


Revan lantas menoleh pada pemuda itu, mencoba sedikit mengingat tentang nya. "Rei kan? Jelas aku ingat, bagaimana bisa aku melupakan sahabat ku. " Jawab nya.


Apa apaan ini? Revan masih mengingat Rei tapi tidak mengingat Raile sama sekali. Seakan semua ingatan tentang dirinya saja yg di hapus darinya.


Sedangkan Rei tersenyum lega mendengar itu. Ia senang sahabat nya itu tidak melupakan nya. Tapi ia juga tidak tega melihat kesedihan yang terpancar jelas di wajah Raile.


"Aku... Akan menemui dokter sebentar. " Ucap Raile dan berlalu pergi, meninggalkan dua pemuda itu di sana.


Rintik hujan semakin deras mengguyur bumi, bersamaan dengan hembusan angin sejuk yang menusuk kulitnya. Hati nya hancur. Ia tak tau harus bagaimana ke depan nya. Tanpa sadar Raile meremas dada nya. Apa ia mampu bertahan di situasi seperti ini?


Pandangan nya teralih pada pantulan bayangan nya di kaca, memandang sendu manik gold nya sendiri. Hanya warna iris mata nya saja yang berbeda dari Revan. Tapi.. Kenapa ia tak menyadarinya sejak dulu? Sungguh bodoh.

__ADS_1


'Sakit bukan? Dilupakan oleh orang yang kau sayang?'


Raile terkejut dan memandang sekitarnya. Tapi tidak ada orang di sana. Lalu, siapa yang baru saja berbicara? Tidak mungkin hantu kan? Seketika tubuh nya merinding.


'itulah yang ia rasakan selama ini. Harus menderita tapi terus mengingat sosok kakak yang justru membenci nya. Ironis sekali...'


"Siapa itu? " Ujar Raile saat suara itu kembali terdengar. Raile mencoba meneliti sekitar nya. Tapi percuma. Tidak ada siapapun di dekatnya. Hanya kesunyian dan rintik hujan di luar sana yang mengusir sunyi.


Mata nya menatap tajam, mencoba mencari sosok yang tadi berbicara padanya.


Sampai akhirnya ia terkejut saat merasakan seseorang menepuk pundak nya.


"Raile?"


Lantas Raile berbalik dan seorang pria berjas putih menatap nya khawatir. Ia adalah dokter Tadashi.


"Kau baik baik saja?" Tanya Tadashi dengan raut wajah khawatir.


Ya, melihat Raile yang seperti tadi, siapa juga yang tidak khawatir bukan?


Raile memberikan senyuman tipis. "Aku baik baik saja dokter. Aku hanya... Sedikit khawatir saja dengan kondisi Revan."


Raile mengangguk pelan. "Baiklah dok."


Keduanya berjalan berdampingan menuju ruangan Tadashi. Entah mengapa Raile jadi merasa canggung saat bersama dengan dokter Tadashi seperti ini.


******


Rei menghela nafasnya. Mata nya masih memandang pemuda yang kini menatap kosong ke arah jendela. Rambut hitam nya yang sedikit tertiup angin terlihat cukup indah, namun perban yang mengikat kepala nya membuat pemuda itu terlihat begitu rapuh.


Dalam hati ia senang karena Revan masih mengingatnya. Tapi ada juga rasa kasihan dan bersalah karena pemuda itu tak mengingat kakaknya sendiri.


Saat di mana seharusnya dia sudah bahagia karena Raile yang kembali mengingat dirinya, justru harus tergantikan dengan sedih karena kali ini Revan yang harus kehilangan ingatan tentang saudara kandung nya itu.


Seakan takdir mempermainkan hidup mereka, tapi siapa yang patut di salahkan untuk hal seperti ini?


"Rev"


Mendengar namanya di panggil, Revan lantas menoleh. Manik ruby nya masih terlihat kosong seakan cahaya hilang dari dalam nya.

__ADS_1


"Ada apa? "


"Boleh aku tanya, apa saja yg kau ingat?" Tanya Rei memastikan. Ia berharap pertanyaan itu tidak terlalu memaksa ingatan Revan hingga berakibat buruk untuk dirinya nanti.


Ada jeda cukup panjang sebelum Revan menjawab nya.


"Aku hanya ingat saat kita di jadikan percobaan mafia itu. Lalu saat kau berhasil kabur dan... Ketua mafia itu terus melanjutkan percobaan nya padaku. Selain itu gak ada lagi."


Rei terdiam. Artinya ingatan yang hilang berkaitan dengan masa lalunya. Tapi bagaimana bisa dia tidak mengingat Raile? Padahal itu tujuan nya untuk tetap hidup dan baru saja dia bisa kembali bersama Raile lagi.


"Apa kau ingat Raile? Orang yang tadi bersama ku menjenguk mu. "


Revan menggeleng. "Aku tidak ingat. Memang dia siapa?"


"Dia itu kakak mu. Kalian terpisah sejak kecil, dan baru bertemu belum lama ini." Jawab Rei. Revan tampak mencoba mengingat ingat, tapi justru sakit yang ia dapat.


Refleks pemuda itu langsung memegang kepala nya yang mulai berdenyut sakit.


Rei yang melihat itu tampak panik. "Rev, jangan di paksa... Kalau kau tak bisa mengingatnya tak masalah, ingatan itu juga pasti akan kembali. Jangan memaksakan diri... " Ujar Rei khawatir dan membantu Revan untuk kembali berbaring.


"Maaf aku menanyakan itu."


"Tidak apa kok..." Ujar Revan. Ia memejamkan mata nya dan sedikit menghela nafas.


Ada perasaan tidak enak dalam hati nya, tapi ia tidak tau apa itu.


'Hey, jangan memaksakan diri. Untuk saat ini, biarkan aku mengendalikan mu.'


"Aku tidak mau... Walau bagaimanapun kondisi ku, aku tak akan membiarkan mu mengendalikan ku."


'Ayolah, saat ini saja. Biarkan dirimu beristirahat.'


"Tidak."


'Kau benar benar keras kepala.'


Revan tidak lagi menjawab. Sungguh, di saat saat seperti ini masih saja mencoba mengambil kesempatan untuk mengambil alih dirinya. Benar benar menyebalkan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2