Shadow Agen

Shadow Agen
Memasuki Gedung Alpha


__ADS_3

Jika begitu... "Kita butuh penyamaran." Kata Revan.


"Tapi sebagai apa?"


Riz nampak menyeringai. "Aku tau!! Ikut rencana ku saja, pasti akan berhasil menyusup ke gedung Alpha dengan aman tanpa ketahuan sedikit pun!"


Ya... Sepertinya tak ada salahnya. Walau perasaan Revan dan Raile merasakan ada yang tak beres.


******


Malam hari di Delaria City. Lampu jalan mulai menyala, jalanan pun masih terlihat cukup ramai oleh para pekerja kantoran yang baru pulang dari lembur mereka. Tapi itu tak menjadi penghalang untuk mereka kali ini.


Tiga orang pemuda berpakaian seperti petugas kebersihan berjalan mendekati pintu belakang gedung Alpha dengan semua perlengkapan kebersihan yang mereka siapkan. Tak lupa untuk menutupi identitas mereka, mereka menggunakan kumis dan topi sebagai penyamaran.


"Ide yang cerdik bukan?" Ujar Riz sambil sedikit bergaya dengan satu sapu yang di letakkan di bahu nya.


Revan dan Raile hanya bisa menghela nafas. Ya... Setidaknya tak terlalu buruk sih...


Kaki mereka mulai melangkah. Entah mengapa gugup menghampiri saat mereka sudah sampai tepat di depan pintu belakang gedung Alpha. Beberapa orang polisi berjaga di depan sana lengkap dengan persenjataan mereka. Walau mereka tau, Shadow Agen pun bekerjasama dengan kepolisian, tapi dalam kasus ini, bukannya lebih baik merahasiakan identitas mereka untuk meminimalisir gagalnya rencana?


"Berhenti. Apa yang kalian lakukan di sini malam malam?" Tanya salah seorang polisi.


"Kami petugas kebersihan yang di minta untuk membersihkan gedung Alpha saat semuanya sudah pulang." Jawab Raile tenang.


"Bisa kami periksa perlengkapan yang kalian bawa?" Tanya salah seorang polisi. Revan mengangguk.


"Tentu saja."


Bersama beberapa orang polisi lainnya, mereka memeriksa dengan teliti semua barang yang di bawa Revan, Raile dan Riz. Beruntung para polisi itu gak sampe memeriksa wajah mereka.


"Baiklah kalian boleh masuk." Ujar polisi itu lagi. Dengan cepat, ketiga pemuda itu berjalan memasuki gedung Alpha.


Raile menarik nafas lega. Tak di sangka cara ini berhasil mengelabuhi para polisi itu. Ditambah lagi, bukan hanya penyamaran mereka, namun juga ide Riz menyembunyikan senjata yang mereka bawa.

__ADS_1


Jelas lah... Mana ada orang yang kepikiran menyembunyikan senjata di dalam kemasan sabun cair. Walau senjata mereka sudah di lengkapi peralatan khusus agar sulit di deteksi, tapi jika di letakkan di tempat biasa tetap akan ketahuan bukan?


"Cerdik kan ide ku!" Lagi lagi Riz bergaya sambil memutar topi nya ke samping.


"Sudah sudah. Sekarang kita cari tempat yang aman meletakkan barang ini dan langsung ke lokasi." Bisik Raile.


"Tapi, bagaimana dengan sistem keamanan dan CCTV-nya?" Tanya Riz. Ah, butuh waktu untuk menonaktifkan nya.


"Itu biar aku yang urus." Keduanya langsung memandang ke arah Revan. Revan menunjukkan jari nya yang kemudian mengeluarkan percikan listrik berwarna kemerahan.


Menggunakan listrik untuk mengendalikan sistem keamanan dan CCTV. Salah sedikit saja mereka bisa ketahuan, namun Riz dan Raile percaya pada Revan. Lagipula Revan tentu sudah bertahun tahun melakukan itu bukan?


Riz membuka pintu gudang dan memasukkan barang barang yang mereka bawa ke dalam. Senjata kini sudah siap b tersimpan dalam saku seragam yang mereka gunakan. Dan... Saatnya misi di mulai.


"Diluar aman?" Tanya Raile pada Riz yang sedang mengamati dari celah pintu gudang itu.


"Banyak ada beberapa orang di sana dan beberapa polisi yang berpatroli. Bagaimana ini?" Riz sedikit khawatir. Tak ada tempat untuk mereka kabur tanpa ketahuan.


"Kita mulai saja dari sini." Revan mendekati saklar listrik dan menempelkan jari nya. Saat itu juga aliran listrik merah terlihat memercik. Revan memejamkan mata nya mencoba berkonsentrasi agar tidak terjadi kesalahan.


Riz bertepuk tangan kagum. Hebat juga ya memiliki kekuatan super, bisa mematikan CCTV dengan mudah. Tapi... "Bagaimana kau bisa hanya mematikan CCTV nya?" Tanya Raile.


"Aku hanya perlu memutus listrik yang terhubung dengan kabel CCTV nya. Asal jaringan listrik ke sana mati, CCTV itu juga tak akan menyala." Jelas Revan.


"Baiklah, bari beraksi!" Ujar Raile di susul anggukan setuju Revan dan Riz.


Menyamar sebagai petugas kebersihan, membersihkan tempat itu di saat semuanya sudah selesai bekerja tentu hal yang biasa. Ditambah kebanyakan orang penting surah pulang membuat identitas mereka tak mudah untuk diketahui.


Dengan cepat mereka langsung menuju ke ruangan dimana data itu di curi. Beruntung tak ada yang mencurigai mereka sama sekali.


Greg


Pintu di buka dan mereka melangkah masuk ke ruangan itu. Ada beberapa komputer dan berbagai macam berkas di sana. Mereka mulai meneliti semua sudut ruangan, mencari petunjuk sekecil apapun itu.

__ADS_1


Namun seakan tak terjadi apapun di tempat itu, tak ditemukan barang yang bisa membantu mereka menyelesaikan misi mereka kali ini. Tak ada bekas perkelahian, senjata atau goresan sedikit pun.


Revan memeriksa CCTV di ruangan itu. Bahkan tak ada kerusakan sama sekali. Begitu pula dengan pintu dan jendela. Apa orang dalam yang melakukan ini? Tidak.. Sepertinya tidak mungkin.


"Ah... Mereka terlalu pintar atau bagaimana? Bahkan sidik jari pun tidak ada." Keluh Riz sambil mendudukkan dirinya di sebuah kursi.


"Mereka terlalu hebat. Tapi... Apa pencuri profesional yang melakukan ini? Jika begitu atas dasar apa?" Raile memasang pose berfikir. Ia mencoba menebak apa niat pencuri itu. Namun ia tetap saja tak bisa menemukan jawaban nya.


Klik klik


Mendengar suara keyboard yang di ketik, Raile berbalik memandang Revan yang sedang mengotak atik komputer. Dengan bantuan kemampuan nya mengendalikan aliran listrik, membuat nya bisa menemukan data yang bahkan sulit di dapat dengan cara biasa.


Tangan nya sibuk mengetik setiap huruf dengan cepat dan mata nya tetap menatap fokus seperti seorang hacker profesional. Raile dan Riz hanya bisa mengamati. Sampai akhirnya...


Kling.


"Dapat. Ini laporan mengenai data yang hilang."


Ketiganya langsung membaca apa yang tertulis di sana. Saat itu juga mereka tak bisa untuk tidak terkejut. Bagaimana tidak? Data yang di curi itu adalah data tentang Revan.


Ini seperti data dalam kewarganegaraan, dimana menjelaskan tentang identitas bahkan keluarga. Namun, sepertinya bukan hanya itu. Revan mencoba mencari lebih dalam lagi. Emosi nya mendadak naik begitu mengetahui ini. Siapa orang yang seenaknya saja mencari data tentang dirinya? Apa memang Dark Devil?


Tapi, seperti Dark Devil tak akan melakukan sampai sejauh ini. Dan lagi, dengan begitu rapi seperti ini, mengingat hacker terbaik dalam organisasi itu telah Revan bunuh.


Kling


Satu lagi data telah terbuka. Rasanya mereka tak ingin percaya dengan apa uang mereka baca. Bagaimana mungkin, perusahaan Alpha memiliki data tentang Revan yang merupakan kelinci percobaan Dark Devil.


Banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiran mereka. Tentang bagaimana bisa informasi seperti ini di miliki perusahaan Alpha dan siapa yang justru mencuri data tentang Avren dari perusahaan ini? Lalu, atas dasar apa mereka melakukan ini?


Tangan Revan gemetar. Ternyata, tak hanya Dark Devil yang ingin memanfaatkan dirinya.


"Cih! Siapapun itu tak bisa ku maafkan! Beraninya.. Mereka berniat memanfaatkan Revan... Darimana mereka mendapatkan semua data ini?!" Raile marah. Ia benar benar tak terima dengan ini.

__ADS_1


Sedangkan Revan sendiri masih terdiam. Ah, ia baru ingat, saat di jalan tadi ada pemuda yang tak sengaja menabrak nya. Ia mengatakan hal yang cukup aneh bagi nya.


"Apa itu... Esper?"


__ADS_2