Shadow Agen

Shadow Agen
Keraguan


__ADS_3

Beberapa menit sudah berlalu, saat akhirnya Himaki kembali membuka mata nya. Kepala nya pening. Rasa sakit masih ia rasakan, tapi setidaknya tidak separah sebelumnya.


"Ck! Jika tuan Avren tau anak itu kabur, aku benar-benar dalam masalah besar!" Ujar Himaki sambil mencoba untuk berdiri. Tangan nya terulur mencoba meraih kenop pintu di hadapan nya, berniat keluar mencari pemuda bermanik ruby yang seharusnya ia bawa kembali ke markas Dark Devil. Namun, baru saja ia hendak membuka pintu, seseorang terlebih dahulu membuka pintu itu.


Cekrek..


Seorang pria ber iris biru muda mengenakan jaket biru putih membuka pintu kala itu. Tatapan nya terlihat datar menatap lekat manik Silver pria di hadapan nya.


"Kau... Bukannya anggota baru itu?" Tanya Ice memastikan.


Himaki langsung mengangguk. "Revan kabur, aku akan mencari nya."


Namun, baru saja Himaki akan pergi, Ice langsung menghalangi nya. Lantas Himaki langsung memandang pria bermanik aquamarine itu. Pria itu bahkan tidak memandang ke arah nya. Lalu, apa alasan Ice menghalangi nya untuk pergi?


"Apa kau yakin akan menangkap nya?"


Himaki mengernyitkan dahi nya. Bukannya itu sudah tentu?


"Iya. Itu yang tuan Avren perintahkan bukan?"


"Jadi kau benar-benar mau jadi senjata nya ya..." Ujar Ice dengan suara pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Himaki. Terlebih lagi ruangan dan situasi sekitar yang cukup sunyi, membuatnya dapat mendengar ucapan Ice dengan jelas.


Himaki mengangkat sebelah alis nya. Ini yang harus ia lakukan sebagai bawahan nya. Bukannya Ice sendiri juga melakukan hal yang sama?


"Aku hanya menuruti perintah nya. Apa salahnya dengan itu?"


Ice menurunkan tangan nya. "Pikirkan lagi, bagaimana jika kau melihat orang lain menderita di hadapan mu? Bagaimana jika itu saudara mu, apa kau tetap akan melakukan nya?" Ujar Ice dengan nada suara datar.


Himaki terdiam. Jelas ia tak akan melakukan nya. Tapi di balik itu, kenapa tiba tiba Ice mengatakan itu? Walau ia baru di Dark Devil, ia tau jika Ice itu merupakan salah satu orang kepercayaan Avren. Apa mungkin dia berhianat?

__ADS_1


"Kenapa kau mengatakan itu? Bukannya kau orang kepercayaan Avran?" Tanya Himaki.


Ice memandang pria itu lalu berbalik, membuat Himaki menghembuskan nafas kesal karena sikap cuek nan dingin pria ber iris aquamarine itu. "Anggap saja alasan yang sama seperti saat kau kehilangan adik mu, Himeko."


Deg!


Seketika Himaki terdiam. Mata nya membulat sempurna. Bayangan mengenai kematian adik kesayangan nya kembali teringat dalam pikiran nya. Tapi satu pertanyaan yang jelas, darimana pria itu bisa tau tentang masa lalu nya?


"Sebenarnya kau ini di pihak mana? Darimana kau tau tentang adik ku? "


Pertanyaan itu langsung membuat Ice menyeringai. "Menurut mu?" Itu kata terakhir yang Himaki dengar sebelum Ice berjalan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Himaki seorang diri di sana. Otak nya masih mencoba memproses semua kejadian ini. Mencari jawaban dari pertanyaan nya.


Banyak pertanyaan yang ingin Himaki tanyakan, tapi ia sendiri ragu jika Ice akan menjawab nya. Darimana pria itu bisa mengetahui masa lalu nya, bahkan tentang adik nya.


*****


Sementara itu, di waktu yang sama, tempat yang berbeda, seorang pemuda menodongkan pistol nya pada pria di hadapan nya. Mata ruby nya menatap tajam pada pria itu, tak menurunkan kewaspadaan walau dirinya ada dalam posisi yang menguntungkan untuk nya.


Tidak ada cara lagi untuk Farel menyelamatkan diri selain menyerah.


"Semuanya sudah berakhir."


Hanya kata itu yang terucap dari mulut pemuda yang tertutupi masker itu.


Farel menarik nafas kesal dan mengangkat tangan nya. Ini lebih baik daripada harus mati melawan anak yang bahkan lebih muda dari nya. Sungguh memalukan.


"Baiklah aku menyerah." Ujar nya pasrah. Mendengar itu, dengan cepat Sein langsung memborgol tangan Farel di belakang.


Saat hendak di bawa pergi, pria itu menoleh. "Tapi aku tak akan menyerah lain kali! Akan ku bunuh kau!"

__ADS_1


"Gak udah banyak omong. Cepat jalan!" Ujar Sein sambil mendorong pria itu agar berjalan lebih cepat.


Pemuda itu hanya terdiam, tidak menanggapi nya sama sekali, membuat Farel semakin berdecak kesal.


Di sisi lain, Riz masih memperhatikan pemuda berpakaian hitam itu. Ia yakin itu Revan. Dari cara nya melawan para mafia itu, bukannya sudah jelas? Tapi... Bukannya harus nya dia ada di rumah sakit? Lalu bagaimana bisa ada di sini? Lalu bagaimana dengan orang yang Avren minta untuk mengawasi nya?


"Ah maaf, kau-" Namun baru saja ia akan bertanya, pemuda itu sudah berlari pergi.


'Benar benar misterius tuh orang.' lanjut Riz dalam hati.


"Kau kenal orang itu?" Tanya Raile.


Riz menggeleng. "Tidak. Aku sendiri tidak tahu siapa itu." Bohong Riz. Sepertinya untuk saat ini akan lebih baik jika ia merahasiakan nya dari Riz. Pasti ada alasan dibalik semua yang Revan lakukan. Dan itulah yang akan ia cari tau.


Sementara Raile memalingkan pandangan nya pada pemuda yang baru saja pergi itu. Perasaan aneh mendadak muncul dalam dirinya. Perasaan yang pernah ia rasakan sebelumnya, tapi tak pernah ia mengerti apa itu.


'Siapa dia sebenarnya? Kalo di pikir pikir, ini sama seperti saat aku dekat dengan Ren.' batin Raile.


Riz menepuk pundak Raile. "Sudahlah, dah malam juga. Kalo ketahuan kakek kita pergi, bisa bahaya nanti."


"Ah!! Ada PR juga!! Gawat kalo belum selesai!" Teriak Raile seketika. Ia baru mengingat jika saat Riz pulang tadi ia sedang membaca materi untuk mengerjakan tugas tadi. Bagi anak rajin seperti Raile, telat mengerjakan tugas itu bahaya besar untuk nya.


"Ha? Ada PR? PR apa? Banyak gak?" Tanya Riz yang ikut panik. Jika setelah membolos, dirinya juga tidak mengerjakan tugas, hukuman nya juga pasti akan berlipat ganda!


"Lumayan. Dahlah yuk cepet pulang!" Ujar Raile sambil menarik tangan Riz.


Walau tidak menunjukkan nya secara langsung, tapi sebenarnya Raile juga cukup penasaran dengan pemuda itu. Entah mengapa ia kembali terpikir oleh Ren yang masih di rumah sakit. Kira kira bagaimana kondisi nya sekarang? Ia bahkan masih belum sempat menjenguknya tadi. Itu yang membuat nya khawatir.


Memang tidak ada yang tau bagaimana hidup akan berjalan. Kemana semesta akan menuntun kita nantinya. Tapi bagaimana pun dan apapun yang akan terjadi di masa depan, itu sudah direncanakan oleh sang pencipta.

__ADS_1


Termasuk mengenai takdir kedua saudara yang terpisah akan jarak, ingatan dan kebencian.


TBC


__ADS_2