
Cukup aneh awalnya menyembunyikan identitas seperti ini bagi Revan. Tapi setidaknya dia bisa mengambil sisi positif dari semua ini. Ia bisa bersama Raile lagi walau pemuda ber iris gold itu masih belum mengetahui identitas aslinya.
Lagipula... Nama yang ia gunakan tak jauh berbeda dengan nama aslinya. Ia beruntung Raile tak curiga.
Tapi baiklah, lupakan itu sekarang. Yang penting adalah misi yang sedang ia jalankan.
Juga, tujuan utama nya untuk mengetahui percobaan yang Avren lakukan.
Kini mereka sudah berada di depan gedung itu. Misi di mulai.
"Rei, bisa kau coba ambil alih sistem kendali CCTV di gedung ini? Cari lokasi peretas itu." Ujar Sein.
Rei mengangguk. "Akan kulakukan."
"Lalu kalian coba cek apa ada orang lain di sini."
Revan, Riz dan Raile mengangguk. "Baik!"
Ketiganya pun langsung berkeliling
Beberapa menit kemudian mereka pun kembali. "Tak ada siapapun di dalam. Entah ini kebetulan atau direncanakan." Ujar Raile.
"Tapi aku melihat beberapa orang aneh. Sepertinya dia teman peretas itu." Lanjut Riz.
Revan berfikir, 'cukup aneh jika tak ada satupun orang di dalam. Dan juga ini bukan suatu kebetulan mengingat ini bukan hari libur. Tapi apa yang sebenarnya terjadi? Ditambah orang yang Riz lihat itu anggota Dark Devil. Sudah jelas ada alasan lain.'
"Aneh jika tak ada orang. Bagaimana hasil rekaman CCTV nya?" Tanya Sein.
Rei menoleh sambil menunjukkan hasil yang ia dapatkan. Mereka pun memandang tablet yang dipegang pemuda itu.
"Setelah ku periksa, sejak pagi memang tak ada satupun orang di sini. Tapi... " Ia menunjukkan salah satu rekaman tepat pada pukul 07.14. "Seorang pria masuk ke sini dan menuju lantai 4. Kemungkinan orang itu pelaku peretasan nya."
Sein mengangguk. "Jika begitu, coba kau halangi orang itu mencuri data lebih banyak. Kami akan masuk ke dalam."
"Baik."
"Tapi bagaimana dengan orang orang itu?" Tanya Sein mengingat orang orang yang ia lihat tadi.
"Biar kita atasi. Jika begitu, Raile dan Ren tangkap hacker itu. Oke?"
Ketiganya mengangguk mengerti. "Siap!"
Raile dan Ren pun langsung masuk secara diam diam. Suasana sepi menyambut mereka. Tak ada siapapun di sana. Tapi itu bukan berarti tempat itu aman. Ren masih penasaran kenapa tak ada satupun orang di tempat ini.
__ADS_1
"Sepertinya memang benar. Tak ada siapapun di sini." Ucap Raile.
"Bukankah aneh? Apa sebelumnya ada informasi libur atau alasan lain? Cukup aneh jika mendadak tidak ada orang padahal ini bukan hari libur kan?" Ucap Ren.
Sempat berfikir, "ada benarnya juga. Mungkin bisa kutanyakan pada komandan."
Sementara itu, Rei yang sedang berusaha untuk menghentikan sistem dan data yang dicuri hacker itu sempat menemui kejanggalan.
"Jika orang itu ada di dalam sekarang, kenapa ia terlihat santai walau tahu tindakan nya ini terekam kamera CCTV?" Gumam nya. Ia terus memutar ulang rekaman itu sampai akhirnya menemukan sesuatu.
Rei pun langsung memberitahu Raile. "Raile, setelah ku teliti lagi rekaman nya, ada rekaman yang hilang. CCTV no 1 di lantai 1. Mati selama 3 menit. Itu waktu yang cukup untuk orang lain masuk."
"3 menit? Tapi jika begitu kemana orang itu pergi?" Tanya Raile.
Rei terdiam. Ada benarnya. Tak mungkin menghilang begitu saja. Apalagi tak terlihat di CCTV lain dan menghilang setelah masuk ke sana. "Akan ku cari tahu." Rei pun kembali ke pekerjaan nya.
Menyebalkan juga menghadapi kasus seperti ini.
Sementara Raile menutup telfon nya dan kembali ke tugasnya.
"Ada apa?" Tanya Revan.
" Rei menelfon. Ada orang lain yang masuk ke gedung ini tapi tidak tahu dimana orang itu. Yang jelas kita harus hati hati. Tapi... Kemana orang itu pergi?" Jelas Raile sambil berfikir.
Raile menoleh pada Revan. "Apa?"
"Setiap CCTV memiliki titik buta. Tempat yang tak terlihat oleh kamera. Orang itu bisa saja bersembunyi di titik buta itu, jadi walau CCTV tetap merekam semua yang terjadi di sana, tapi jika orang itu ada di titik buta itu akan membuatnya tak terlihat. Jadi ia bisa terus aman tidak ketahuan." Jelas Revan. Raile mengangguk mengerti. Ia benar-benar tidak memikirkan hal itu.
"Tapi, jumlah titik buta kamera itu cukup sedikit dan cenderung sulit di temui. Jelas orang itu sudah berpengalaman dalam hal ini jadi bisa dengan mudah menemukan nya." Lanjut Revan.
"Tapi, jika bisa dengan cara seperti itu, lalu kenapa hacker tadi tak melakukan hal yang sama? Bukankah itu akan lebih aman untuknya?"
"Kurasa mereka punya rencana lain... Alasan mereka melakukan itu."
"Jika dilihat dari bagaimana orang itu, apa mungkin ada kaitannya dengan Dark Devil?"
"Kemungkinan begitu..."
Di sisi lain, Riz dan Sein terlihat sedang mengawasi 5 orang yang bagi mereka mencurigakan. Dari penampilan nya memang sekilas terlihat seperti orang biasa. Tapi mereka adalah anggota Dark Devil yang bertugas mengamati dsn mengamankan dari luar.
Riz dan Sein terus mengikuti mereka sampai masuk ke sebuah gang kecil tak jauh dari gedung itu.
Mendadak Riz merasakan firasat yang tidak enak. Dan benar saja, beberapa orang lainnya datang dan mengepung mereka.
__ADS_1
"Sungguh? Apa semua penjahat hobi mengepung orang?" Tanya Riz.
Sein memandang pemuda di belakang nya itu. "Lebih tepatnya main keroyok."
*****
Rei terus mencari informasi yang mungkin akan berguna sambil menunggu memperbaiki sistem keamanan gedung itu. Namun, secara tiba-tiba komandan Raka menelfon.
"Rei. Bagaimana situasi di sana?" Tanya Raka.
"Situasi sejauh ini aman. Semuanya berjalan lancar. Hanya perlu menunggu Ren dan Raile menyelesaikan tugas mereka dan Riz dan agen Sein kembali maka misi selesai." Jawab Rei.
"Minta Ren dan Raile keluar dari sama sekarang! Itu jebakan! Gedung itu sepi karena pagi tadi sempat ada laporan ditemukan nya bom di sana. Entah kenapa laporan itu baru sampai sekarang. Selain itu, kemungkinan selain hacker itu, juga ada beberapa anggota Dark Devil di dalam. Cepat minta mereka keluar! Aku sudah mencoba menghubungi mereka tapi tidak aktif. Aku khawatir ada hal buruk yang terjadi pada mereka."
"Siap komandan! Aku akan meminta mereka untuk keluar." Rei pun mencoba masuk. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, ada seseorang yang memukul kepalanya dari belakang.
Rei terjatuh pandangan nya mulai mengabur akibat rasa sakit di kepala nya. Samar samar ia dapat melihat beberapa orang berjalan ke arahnya. Orang orang yang tak terlalu asing baginya. Anggota Dark Devil.
Ah, seharusnya ia menyadari ini sejak awal. Jika tidak, hal ini tak akan terjadi.
****
Raile mencoba menghubungi rekan nya yang lain. Namun, entah mengapa ia tak bisa menghubungi siapapun.
"Haah ini ada apa sih?" Gumam Raile kesal.
"Tidak ada sinyal? Bukankah ini terlalu mendadak? Sebelumnya baik baik saja kan?"
"Iya. Apa ulah hacker itu?"
Revan mendadak terdiam. "Bukan hanya itu."
Prok prok prok!
Suara tepukan tangan mendadak terdengar dan suara langkah kaki menuju ke arah meraka.
Saat itu juga kedua pemuda itu menatap ke sumber suara sambil menyiapkan senjata mereka.
"Rupanya kalian di sini... Selamat... Karena kalian sudah menghadiri undangan ku." Seorang pria muncul sambil memainkan belati nya. Ia tersenyum senang melihat kedua pemuda di hadapan nya yang memasang posisi siaga.
Pria itu melanjutkan. "Untuk menemui ajal kalian!"
TBC
__ADS_1