Shadow Agen

Shadow Agen
Fakta yang terbongkar


__ADS_3

Sesuai dengan rencana yang Riz dan Himaki rancang siang tadi, pada malam ini, kedua nya mulai meluncurkan aksi mereka.


Di luar gedung, seorang pemuda mengenakan kaos biru dan jaket hitam dengan hoodie menutupi kepala nya, berdiri di atas sebuah bangunan, mengawasi pergerakan orang orang di sekitar nya.


Ia melihat seorang pria ber iris jingga dengan dua orang bersama nya menaiki mobil dan pergi dari lokasi itu. Dengan cepat, Riz memberi kode pada Himaki yang di tanggapi dengan anggukan.


Pria bermanik silver itu berjalan memasuki gedung, mencoba bersikap sesantai mungkin agar tidak menarik kecurigaan dari anggota lainnya.


Tujuan nya kini adalah ruangan Avren, dimana ia yakin atasan nya itu menyimpan data tentang percobaan yang dia lakukan.


Setelah memastikan sekitarnya aman, dengan cepat Himaki langsung melangkah masuk ke ruangan itu. Ia menghembuskan nafas lega. Jika sampai ia ketahuan, tamat sudah riwayat nya di sini.


Tanpa buang waktu, pemuda itu langsung mengotak atik laptop yang ada di atas meja atasan nya itu. Mencari file dan data yang mungkin akan berguna. Tak lupa, flashdisk milik nya sudah ia pasang di sana, untuk meng-copy data tersebut.


Ia sedikit membaca catatan dan data itu, sebelum mengubah nya beberapa. Tangan nya mengepal kuat saat membaca catatan itu. Sungguh, percobaan gila macam apa yang ketua mafia itu buat sebenarnya? Menjadikan manusia sebagai bahan percobaan dan menjadikan nya sebagai alat untuk rencana keji nya. Sungguh kejam!


"Ah sepertinya ada yang mendahului ku."


Himaki tersentak dan langsung menoleh. Di jendela yang tak jauh dari nya, seorang pemuda bermanik ruby duduk membelakangi cahaya bulan yang menyorot padanya. Memberi kesan horor. Terlebih lagi mata dan beberapa helai rambutnya yang terlihat berkilau.


"Kau..." Ucapan Himaki terhenti saat pemuda itu mengeluarkan pisau dari saku jaket nya.


Ekspresi pemuda itu terlihat dingin dengan mata yang menatap tajam ke arah nya. Memberi kesan seakan ia akan membunuh Himaki saat itu juga.


Dengan cepat Himaki langsung memasang posisi siaga, berjaga jaga jika Revan akan menyerang secara tiba-tiba.


Namun seketika ekspresi Revan berubah. Seringaian tipis terbentuk di bibir nya. "Sepertinya kau sudah memilih jalan yang berbeda." Revan menaruh kembali pisau nya di dalam saku jaket milik nya. Namun itu tidak membuat Himaki menurunkan kewaspadaan nya.


"Mau apa kau kesini hah?" Tanya Himaki dingin.


"Menghancurkan tempat ini. Bukankah kau berfikiran sama dengan ku?"


Himaki terdiam. Memang itu tujuan nya. Selain itu alasan lain ia melakukan ini juga karena pemuda yang kini berada di hadapan nya itu.


"Aku ingin bertanya, hanya untuk memastikan. Apa benar kau dijadikan manusia percobaan oleh Avren?"


Mendengar pertanyaan itu, Revan mengangguk. Ia sedikit menghela nafas sebelum memalingkan wajah nya. "Ya, itu benar." Jawab Revan singkat.

__ADS_1


Himaki terdiam. Ia semakin menyesal telah bergabung dengan organisasi ini.


Sementara Himaki yang masih larut dalam pikiran nya sendiri, Revan mulai memperhatikan sekeliling nya. Ia tak punya banyak waktu. Tujuan utama nya kali ini untuk mencari keberadaan Rei dan menyelamatkan nya. Tentu ia tak bisa membiarkan sahabat nya terus menjadi percobaan menggantikan dirinya bukan?


Dari semua informasi yang ia dapat, jelas Avren melakukan percobaan pada Rei di tempat lain. Tentu orang itu sudah mengantisipasi jika saja hal ini akan terjadi.


Revan sedikit berkeliling, memperhatikan sekitar nya. Mencari dimana pria bermanik jingga itu akan menyembunyikan sahabat nya.


Jika di pikir lagi, kecil kemungkinan Rei akan berada di tempat yang sama seperti saat ia yang menjadi kelinci percobaan dulu. Avren pasti menyembunyikan nya di tempat lain.


Dan tempat yang paling ditakuti dan tak akan didatangi orang lain kecuali jika memang di butuhkan atau Avren sendiri yang memanggilnya, ruangan nya. Memang tempat ini yang paling mungkin.


Himaki yang melihat Revan berputar putar mencari sesuatu mengerenyitkan dahi nya. Dalam benak nya bertanya tanya tentang apa yang pemuda itu cari. "Kau sedang cari apa?" Tanya Himaki.


"Temanku yang menjadi sandra di sini. Menurut informasi yang ku dapat, dan kemungkinan besar memang ada di tempat ini." Jawab Revan. Ia memperhatikan rak buku di ruangan itu dan tanpa sengaja menarik sebuah buku yang membuat rak itu terbuka dan menunjukkan sebuah ruang rahasia.


Himaki membulatkan mata melihat itu. Ia benar-benar tak menyangka jika ada ruang rahasia di sana.


Sementara Revan tersenyum tipis. Ia senang tebakan nya kali ini benar.


Revan yang di ikuti hanya diam, memilih tak peduli. Toh, ia tau jika pria di belakang nya itu ada di pihak nya sekarang.


Sebelum itu, tak lupa Himaki mengirimkan pesan pada Riz agar tak membuatnya khawatir. Setidaknya tugas nya di sini sudah selesai sekarang.


Lampu mulai menyala, mempermudah mereka untuk melihat apa yang terjadi di sana. Derap langkah terdengar di ruang yang sepi. Perlahan membawa mereka pada suatu ruangan di sana.


Terlihat cukup berantakan dengan beberapa barang dan senjata. Tapi yang lebih memilukan adalah, sosok pemuda yang kini terbaring di lantai.


"Rei!" Dengan cepat pemuda bermanik ruby itu berlari menghampiri sang sahabat. Memeriksa sekilas kondisi nya. Dapat ia rasakan getaran pada tubuh pemuda itu. Ia sedikit tersentak saat kulit tubuh nya bersinggungan dengan kulit pucat sahabatnya itu.


Dapat ia rasakan panas yang mengalir. "Demam..." Gumam Revan, namun masih bisa di dengar jelas oleh Himaki karena sunyi nya tempat itu.


"Lebih baik kita cepat bawa dia keluar dari sini." Ucap Himaki. Revan hanya mengangguk lalu membantu Himaki menggendong tubuh lemah Rei yang kala itu sedang tidak sadarkan diri.


Namun sebelum itu, langkah nya terhenti saat merasakan handphone nya bergetar, menandakan panggilan masuk. "Bisa tolong angkatkan? Siapa tau dari rekan ku. Itu bisa membantu mempermudah kita keluar dari sini."


Revan mengangguk dan mengambil handphone yang berada di saku Himaki. Ia sempat terkejut melihat nama yang tertulis di sana. "Kau bekerjasama dengan Riz?"

__ADS_1


Himaki mengangguk. "Ya. Aku bertemu dengan nya di cafe dan dia yang menawarkan ku melakukan ini."


Jawaban Himaki membuat Revan terdiam. Dalam benak nya tersimpan pertanyaan, mungkin sepupunya itu sudah mengetahui kebenaran nya?


Tak ingin berlama lama, Revan mengangkat telefon itu. Hal pertama yang ia dengar adalah pertanyaan dengan nada panik dari sebrang sana.


"Hey! Kau di mana? Jangan terlalu lama atau mereka bisa kembali!" Seru Riz dari sebrang sana.


"Maaf, aku Revan. Kami akan keluar secepatnya. Pastikan saja di luar aman sekarang." Jawab Revan.


Riz sedikit terkejut mendengar suara pemuda itu. Sungguh di luar dugaan nya akan berbicara dengan sepupunya lagi. "A-ah baiklah. Lorong depan ruangan tempat kalian berada kosong. Setelah itu lewat pintu belakang. Aku melihat ada beberapa di pintu depan. Aku sudah meminta bantuan agen Sein, dia juga membantu mengamankan jalan kalian."


"Baiklah terimakasih." Setelah itu ia langsung menutup telefon nya. "Kita lewat pintu belakang. Ada anggota Shadow Agen yang juga akan membantu."


Himaki sedikit mengernyitkan dahi. Ia sempat berfikir siapa yang di maksud. Tapi ini bukan saatnya untuk memikirkan hal itu. Dengan cepat namun hati hati, ia melangkahkan kakinya.


Diam diam mereka keluar dari tempat itu, menghindari beberapa orang yang hampir saja melihat mereka di sana.


Revan menghela nafas lega setelah berhasil keluar dari sana. Kini mereka berada di sebuah gang tak jauh dari markas Dark Devil.


Seorang pemuda bermata biru berlari mendekati mereka dengan tatapan khawatir. Ia sedikit terkejut melihat seseorang yang di gendong Himaki kala itu.


"Rei?! Bagaimana bisa? Apa yang terjadi pada nya?" Tanya Riz cemas.


"Dijadikan percobaan. Ya, beginilah nasib semua orang yang menjadi kelinci percobaan Avren." Ujar Revan. Sungguh kejam yang dilakukan para mafia itu...


"Hey kalian! Cepat ke sini sebelum ketahuan!"


Mendengar seseorang berseru, mereka pun menoleh. Terlihat Sein yang sudah siap dengan mobil nya tak jauh dari mereka.


Mereka sedikit heran, sejak kapan pria itu ada di sana? Bahkan sudah siap dengan mobil milik nya.


Tanpa pikir panjang mereka pun langsung menuju ke sana. Awalnya Revan ingin langsung beranjak pergi. Namun tangan nya sudah lebih dulu di tarik oleh Riz yang membuat nya mau tidak mau ikut dengan nya.


Setidaknya rencana nya kali ini sukses


TBC

__ADS_1


__ADS_2